"RUMAH MAKAN atau JASA, PERLU WEBSITE GAK?"
Itu pertanyaan favorit, karena sering.
Pertanyaan balik dari saya:
"Konsumen Anda melek internet gak?"
Jika 'iya', maka jawabnya adalah "Sebaiknya pakai..!".
DISTRIBUSI Offline, PROMOSI Online
Meski produknya hanya bisa didistribusikan offline, seperti sup ikan, bubur ayam, es krim, atau jasa, bukan berarti konsumennya offline juga.
Jika mereka pengguna media sosial, internet, smartphone, artinya mereka akan mencari INFORMASI secara online.
Namun pertanyaan berikutnya adalah, "Berapa Cost vs Benefit-nya?"
Jika biaya pembuatan website rumah makan Anda 4 juta, diluar sewa server (hosting) bulanan, maka Anda boleh mengatakan, "Ntar dulu deh, belum perlu..".
Kenapa? Karena biaya versus manfaatnya, lebih besar biayanya. Belum tentu dalam setahun balik modal.
Namun jika biayanya hanya 50 ribu perbulan atau 600 ribu setahun, apa perlu mikir 2 kali? Anggap saja biaya 'kavling' di internet sebesar 50 ribu perbulan. Setidaknya, tak diserobot orang lain domainnya dan nongol saat di-googling.
Kenapa gak pakai akun MEDIA SOSIAL saja?
Belum tentu akun medsos mereka aktif, tapi jelas aplikasi 'browser' mereka aktif.
Website ibarat RUMAH, social media adalah Stan PAMERAN yang akan berganti tren trafiknya.
Setidaknya saat ditanya, "Dimana rumahmu..?", Anda sudah punya 'alamat permanen', bukan sedang 'ngekos'.
Jaya Setiabudi
Yukbisnis.com
No comments:
Post a Comment