Wednesday, December 27, 2023

Pengalaman temanku lunasin utang Rp30 juta dalam 1 bulan

 Pengalaman temanku lunasin utang Rp30 juta dalam 1 bulan


🎗️ Long Post


Konteks:

➡️ Gajinya hanya Rp5 juta sebulan

➡️ Setengah dari gaji buat bayar arisan

➡️ Uang arisan sempat dibawa kabur

➡️ Semua utangnya ke pinjol


Apa yang dia lakukan?


✅ Pertama, CARI TEMEN


Tiap masalah ada solusinya, tapi kalau kamu gak ngomong, gak akan ada yang bisa bantu kamu


Apalagi orang yang ngutang, biasanya IQ nya turun 50 poin. Investasi bodong ikut, judi online ikut, ngutang ke pinjol lain pun dia gaskan


Jangan pernah nanggung beban begini sendirian, karena berat banget. Aku sarankan cari temen yang bisa kamu percaya


Cari temen yang udah bisa nabung. Jangan cari temen yang senasib punya utang kayak kamu


Kalau udah mentok, kamu bisa chat akun ini. Berbayar, tapi qualified dan bersertifikat. Tapi saranku, tetep cari dulu temen yang bisa kamu percaya


Temanku ini, sempat kepikiran buat bunuh diri


Usianya baru 25 atau 26 tahun, mental belum stabil, gak ada pengalaman pegang uang banyak. Sekalinya punya utang Rp30 juta, tentu dia panik


Maka dari itu, ngomonglah sama orang yang bisa kamu percaya. Bikin dirimu waras dulu


Karena orang gila gak bisa bayar utang

Hanya orang waras yang bisa


✅ Kedua, sadar kalau kondisimu darurat


Banyak yang gak sadar ini


Utang konsumtif (selain beli rumah), banyak textbook keuangan yang bilang maksimal 1 tahun gaji. Dalam konteks temanku, artinya dia bisa ngutang sampai Rp60 juta, dan tetap bisa bayar


Atau Rp65 juta kalau THR nya kamu hitung


Tapi banyak yang gak paham, konsekuensi ambil utang konsumtif segini apa aja


➡️ 4-5 tahun ke depan, kamu gak bakal bisa nabung sama sekali

➡️ Gak ada dana darurat. Jadi kalau gadgetmu rusak, atau kamu nabrak orang diminta ganti rugi, kamu terpaksa ngutang lagi

➡️ Kalau sakit, harus ngandelin BPJS doang. Gak boleh nambah ini-itu

➡️ Gaya hidup harus dikurangi. Harus siap lihat orang lain liburan sana-sini, beli barang ini-itu

➡️ Penyakit iri hati, dengki, dendam, dan lain-lain harus kamu tanggung selama 4-5 tahun ke depan


Bayangin, setengah gajinya udah habis buat arisan, ditambah cicilan utang yang gak ngotak


Gak jarang, orang-orang yang punya utang itu IQ nya turun 50 poin. Ada investasi bodong, ikut, lihat temen menang judi online, ikut


Orang akan melakukan apa saja untuk dapet keuntungan instan demi bayar utang, walau gak masuk akal sama sekali


Awalnya, temanku yang utang Rp30 juta ini aku dorong untuk ubah gaya hidup & cari kerjaan sampingan, paling tidak selama 2-3 tahun ke depan


➡️ Jangan nikah

➡️ Jangan resign

➡️ Jangan liburan

➡️ Jangan ganti gadget

➡️ Jam istirahat dan ngumpul bareng temen mungkin harus dikurangi, biar hemat dan waktunya dipakai cari uang tambahan


Sekilas aku kayak menghancurkan hidupnya, which is memang iya. Tapi kita harus sadar kalau "positive vibes" enggak akan bisa lunasin utang. Kamu harus masuk dalam "survival mode"


Utang hanya bisa dilunasi dengan uang. Apalagi utang pinjol, kamu diemin setahun aja bisa naik 2x lipat


Makanya, estimasiku, 2-3 tahun ke depan, dia gak bisa ngapa-ngapain


Tapi, dia malah bisa bayar utang ini cuma dalam sebulan. Apa rahasianya?


✅ Masuk dalam survival mode


Temenku, mulai cari pendapatan tambahan dengan jualin baju-bajunya yang gak kepake. Walau sayang dan harganya jatuh.


Tapi percayalah, uang Rp100 ribu di masa survival mode sangat berharga


Selain jualin barang, dia juga iseng-iseng beli jajanan di dekat kostnya, terus jual lagi ke temennya. Lumayan sehari bisa dapet puluhan ribu


Nah kira-kira, kalau kamu lagi kepepet, udah ada bayangan survival modemu ngapain?


Rencanakan dari sekarang yaa


Kalau aku sendiri bakal jadi tukang pijet wkwk banyak yang bilang pijetanku enak


Selain itu, karena dia udah ngembangin skill dan ngumpulin relasi sejak lama, dia dapet tawaran kerja sampingan


Aku lupa tempatnya & bayarannya, karena dia cerita lewat telepon. Bayarannya belasan juta untuk beberapa bulan, tapi aku lupa berapa tepatnya


Inilah pentingnya relasi & skill. Diasahnya bertahun-tahun.


Tahun-tahun pertama mungkin gak kepake. Tapi ketika dalam keadaan darurat, dalam survival mode, bisa jadi ini penyelamatmu


Maka belajarlah skill baru, minimal 1 skill per tahun


Buka diri, bertemanlah dengan banyak orang


✅ Selesaikan masalah. Kejar si Arisan


Sebelumnya aku pernah mention, setengah gajinya dipakai buat arisan, dan akhirnya dibawa kabur


Beberapa tahun sebelum ini, aku sempat ngajarin dia saham. Aku bilang, kalau kamu serius, potensinya kamu bisa ngembangin aset 20% per tahun


Jadi kalau kamu invest Rp10 juta, tahun depan jadi Rp12 juta


Nampak sedikit, tapi kalau kamu lakukan berulang-ulang, 5 tahun, 10 tahun, 20 tahun, hasilnya bakal berasa


Tapi, dia menyerah di tengah jalan dan merasa kalau keuntungannya tipis banget. Akhirnya dia pindah ke arisan


Bayangin, anak 25 tahun, kamu tawarin arisan, sekali dapet Rp10 juta, Rp15 juta, Rp20 juta, siapa yang gak tertarik?


Walau sebenarnya itu uangnya sendiri. Tapi dia tergiur dengan nominalnya yang sampai 2 digit


Bisa dibilang, di sini lah dia mulai terjebak pinjol. Karena tiap ada orang nawarin arisan, dia iyain. Sampai setengah gajinya habis buat bayar ginian


Akhirnya buat kebutuhan sehari-hari, dia pinjol


Apakah dia hedon? Tidak

Apakah dia utang buat gaya hidup? Tidak sama sekali


Dia hanyalah anak usia 25 tahun yang impiannya punya uang dan gak repotin orang lain


Akhirnya, pas tau arisannya dibawa kabur, dia gak diem aja. Dia terus hubungin orangnya


Logikanya hanya 1, kalau dibalikin, dia bakal dapet urutan pertama karena dia yang paling effort


Kalau gak dibalikin gimana? Percuma dong? Memang. Tapi sekali lagi, survival mode, semua kemungkinan harus dikejar


Untungnya, uangnya kembali


✅ Dengan semua kombinasi ini, dia akhirnya bisa bayar Rp30 juta itu dalam sebulan


➡️ Cari temen

➡️ Sadar kalau dalam kondisi darurat

➡️ Masuk ke survival mode, berhemat & tambah pendapatan

➡️ Kalau ada masalah, jangan diem aja, tapi diselesaikan


Dari keempat poin itu, menurutku yang paling penting adalah poin pertama  Karena tanpa itu, bisa jadi dia malah gali lubang tutup lubang, masuk investasi bodong, bahkan mengadu nasib ke judi online


Tapi dengan punya teman, dia masih bisa jadi waras


Tugasnya belum selesai. Next step, dia harus membangun asetnya kembali. Nabung, ngumpulin dana darurat, nambah pendapatan, beli asuransi, hingga mencapai wishlist yang tertunda selama ini


Tapi, karena dia sudah melalui masa darurat dan mendapatkan pelajaran dari situ, aku yakin dia bisa


Aku yakin, ke depan dia makin bijak, bertanggungjawab, dan makin waras


Sekali lagi, orang gila gak bisa bayar utang

Hanya orang waras yang bisa


#IzmulMencariUang

Tuesday, November 7, 2023

Apa yang ada di saham dan tidak ada di Bitcoin maupun emas?

 Apa yang ada di saham dan tidak ada di Bitcoin maupun emas?


Namanya dividen.


Perhatian: tulisan ini panjang.


Dividen ini adalah pembagian keuntungan oleh perusahaan ke pemegang saham.


Secara umum, keuntungan yang didapatkan dari membeli saham ada 2. Yang pertama capital gain, misalkan anda beli saham harga Rp 2.000, kemudian jual Rp 2.500, maka anda mendapatkan capital gain sebesar Rp 500. Lumayan.


Yang kedua, dividen. Inilah yang akan kami tulis panjang lebar.


Sama seperti ada teman anda punya warung makan, lalu anda berinvestasi di sana, kemudian untungnya dibagi hasilkan. Di saham juga begitu, hanya saja saham yang di Bursa Efek Indonesia (BEI) dividennya lebih baku, kaku, dan teratur.


Secara umum, dividen dibagi 2. Pertama dividen final, atau umumnya disebut dividen biasa. Yang kedua ada namanya dividen interim, atau umumnya disebut dividen tambahan.


Selanjutnya dividen itu dibagi-bagi lagi. Ada perusahaan yang ngasih uang tunai sebagai dividen, ada pula yang ngasih dalam bentuk waran, ada juga saham tambahan, dan sebagainya.


Namun umumnya dividen yang diberikan adalah dalam bentuk uang tunai.


Sebanyak apa anda akan mendapatkan dividen? Sebanyak jumlah lembar saham yang anda miliki. Semisal, ada perusahaan yang mau bagikan Rp 300/lembar saham, kemudian anda memiliki 1 lot (100 lembar) saham. Maka uang tunai yang akan anda dapatkan adalah 300x100 = Rp 30.000.


Hebatnya, sejak disahkan UU Omnibus Law, dividen adalah penghasilan yang tidak dikenai pajak penghasilan. Sebelumnya, dividen ini dikenai pajak 10%. Cukup besar untuk investasi saham. Akan dibahas lain waktu mengapa pajak ini dihapuskan.


Bagaimana caranya mendapatkan dividen ini?


Pertama dan paling utama, berinvestasilah pada perusahaan yang menghasilkan laba bersih.


Sekali lagi, dividen adalah pembagian keuntungan dari perusahaan ke pemegang sahamnya. Lalu bagaimana kalau perusahaannya tidak untung? Maka mereka tidak akan membagikan dividen sama sekali.


Dividen biasa, dibagikan berdasarkan laba bersih tahun lalu. Jadi misalkan, dividen akan dibagikan tahun 2020 ini, artinya dividen yang anda peroleh sebenarnya dari hasil keuntungan tahun 2019.


Sedangkan dividen interim biasanya berdasarkan laba bersih tahun berjalan. Misalkan dia membagikannya pada tahun 2020, maka dividen tersebut sebenarnya juga dari keuntungan tahun 2020 yang berlebih. Biasanya berdasarkan kuartal. Jadi kalau dibagikan pada kuartal ketiga, maka itu sebenarnya keuntungan dari kuartal kedua.


Maka cermatilah laba bersih yang dimiliki perusahaan tersebut, lewat laporan keuangannya. Atau paling mudah, amati lewat berita. Karena sekali perusahaan tersebut menjual saham di BEI, laporan keuangannya menjadi konsumsi publik.


Tapi tidak semua perusahaan yang menghasilkan laba bersih akan membagikan dividen. Karena mungkin saja seluruh atau sebagian laba tersebut dipakai sebagai modal kerja tahun berikutnya. Entah untuk keperluan ekspansi perusahaan, maupun hal lain seperti bayar utang.


Maka ada namanya Dividend Payout Ratio (DPR), yaitu rasio antara dividen yang dibagikan dengan laba bersih. Misalkan, laba bersih perusahaan Rp 10 T, sedangkan dividen yang dibagikan adalah Rp 2 T, maka nilai DPR-nya adalah 20%.


Saya merekomendasikan investasi pada perusahaan dengan nilai DPR 10% hingga 60%. Karena kalau nilai ini terlalu kecil, artinya keuangan perusahaan sedang bermasalah. Sedangkan kalau nilainya terlalu besar, artinya perusahaannya tidak berekspansi.


Selain DPR, ada nilai yang perlu anda perhatikan seperti ROA, ROE, NPM, EPS, dan sebagainya. Namun nilai-nilai ini dan pengaruhnya terhadap dividen akan ditulis di lain waktu. Intinya: semakin baik nilainya, semakin besar dividennya.


Umumnya dividen final dibagikan sekali dalam setahun. Namun, kalau keuntungan perusahaannya banyak, bisa jadi dia akan membagikan dividen tambahan. Tahun ini ada nama-nama seperti Unilever dan Kalbe Farma yang membagikan dividen tambahan.


Langkah kedua, perhatikan jadwal Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Para pemegang saham, walau sesedikit apapun saham yang dimilikinya, biasanya akan diundang pada acara RUPS ini.


Namun kadang, ada juga perusahaan yang ngasih batasan, misalkan investor dengan kepemilikan minimal 0,1% saja yang boleh menghadiri RUPS. Tapi ini jarang terjadi.


Bila diundang, anda tidak wajib hadir. Namun kalau memungkinkan, saya sarankan hadir saja, karena biasanya ada merchandise. Lumayan dapat kaos gratis.


RUPS ini dibagi 2, ada yang tahunan (RUPST), ada pula yang luar biasa (RUPSLB), walau sebenarnya RUPSLB gak luar-luar biasa banget.


Pada RUPS inilah diputuskan beberapa hal, misalkan pergantian komisaris dan direksi, penyetujuan laporan keuangan, aksi korporasi, hingga ada pembagian dividen atau tidak serta jumlahnya berapa.


Biasanya, bagi perusahaan yang kinerjanya positif, harga sahamnya akan naik menjelang RUPS. Anda boleh mulai beli di waktu ini.


Kemudian, apabila diputuskan perusahaan tersebut akan membagikan dividen, akan ada 4 tanggal penting yang harus anda pantau.

1. Cum-date

2. Ex-date

3. Reporting date

4. Payment date


Cum-date adalah hari terakhir pembelian saham agar dapat dividen. Sebagai contoh, Kalbe Farma (KLBF) yang saya lampirkan gambarnya ini memiliki cum-date 3 desember kemarin. Bila beli lewat dari ini, misalkan tanggal 4, maka anda tidak akan mendapatkan dividen.


Kemudian ex-date, yaitu hari pertama saham tersebut boleh dijual, dan anda tetap mendapatkan dividen. Misalkan untuk KLBF, ex-datenya 4 desember kemarin. Bila sahamnya jual sebelum tanggal ini, maka tidak akan mendapatkan dividen.


Sederhananya begini, sahamnya cukup anda pegang selama 1 hari, yaitu dari tanggal 3 hingga tanggal 4, maka anda akan mendapatkan dividen. Cukup mudah 'kan?


Kemudian reporting date adalah tanggal pengumuman siapa saja yang mendapatkan dividen tersebut, dan seberapa besar. Biasanya anda akan dikirimi email.


Kemudian payment date adalah tanggal pembayaran dividen tersebut. Biasanya langsung masuk ke rekening saham anda. Kadang pagi, sore, atau bahkan besoknya. Tergantung sekuritas apa yang anda pakai.


Begitulah caranya mendapatkan dividen. Namun, ada beberapa trik sebelum anda memutuskan untuk berburu dividen ini. Caranya sebagai berikut.


Pertama, sangat disarankan membelil saham sebelum RUPS. Lebih cepat lebih baik. Karena biasanya, harga saham akan terus naik hingga cum-date. Karena orang terus beli sehingga harganya naik.


Jadi kalau anda beli sahamnya di harga rendah, anda akan menikmati capital gain + dividen dari saham tersebut.


Hal kedua yang perlu anda perhatikan adalah jumlah dividen yang diberikan. Semisalkan, dalam kasus saham KLBF ini, dividen yang diberikan adalah Rp 6/lembar saham. Sangat kecil, tapi lumayan.


Selanjutnya, dividen tersebut dibagi dengan harga saham yang anda beli, kemudian dikali 100%. Contoh, saya membeli di harga Rp 1.490, maka 6 dibagi 1.490 dikali 100% sama dengan 0,4%.


0,4% tersebut dinamakan dividend yield. Angka ini yang paling penting dalam berburu dividen.


Kemudian anda akumulasikan dengan capital gain yang didapat. Misalkan saham anda naik 1%, kemudian dividen 0,4%, maka keuntungan anda adalah 1,4%.


Kalau harga saham turun, misalkan 0,3%, namun dapat dividen 0,4%, maka anda masih untung 0,1%.


Begitu seterusnya.


Mengapa dividend yield sangat penting? Karena pada saat ex-date, harga saham biasanya turun.


Pada tanggal ini, orang sudah boleh jual sahamnya dan tetap mendapatkan dividen. Sehingga biasanya, pada tanggal ini, harga saham turun.


Jangan sampai, penurunan harga ini lebih besar daripada dividend yield yang anda dapat. Misalkan, dividend yield cuma 0,4%, namun penurunan sahamnya sampai 1,68%, seperti pada gambar. Maka sebenarnya saya rugi 1,28%.


Bayangkan, saya beli saham Rp. 4.47 juta. Dividennya hanya Rp 6/lembar. Kalau dihitung, saya dapat dividen sebesar Rp. 18.000, sedangkan harga sahamnya turun hingga rugi Rp. 75.000.


Inilah yang disebut dividend trap. Anda dapat dividend, tapi malah rugi.


Dalam kasus ini, saya beli sahamnya H-2 cum-date. Entah kerasukan apa waktu itu.


Makanya sangat disarankan belinya di jauh-jauh hari, dan perhitungkan dengan matang.


Bahkan kadang, ada yang beli saham jauh-jauh hari, kemudian saat cum-date malah dijual, sehingga tidak dapat dividen. Namun, dia mendapatkan capital gain, karena harga saham yang naik.


Kecenderungannya memang begitu, cum-date harga naik, ex-date harga turun. Tapi ini tidak mutlak. 


Kadang terjadi sebaliknya, misalkan kayak KLBF ini cum-date harga malah turun, sedangkan ex-date malah naik, meski naiknya tidak menutup penurunannya kemarin. Hal ini dikarenakan banyak faktor, salah satunya karena saham dengan kode DMAS mengalami penurunan mengerikan saat ex-datenya tanggal 3 desember, sehingga orang takut masuk ke KLBF dan cenderung jual pada tanggal yang sama.


Selain itu ada faktor lain, seperti kondisi ekonomi, dan harga saham di pasar tunai. Contoh, saham PGAS pas cum-date naik, pas ex-date malah makin naik.


Tentang pasar tunai akan kami tulis lain waktu.


Makanya kalau mau investasi dengan cara dividend oriented, sangat berbahaya beli di cum-date kemudian jual di ex-date. Perlu perhitungan yang teliti.


Bila ingin dividend oriented, lebih baik sahamnya dibenar-benar dipegang dalam waktu lama. Seperti yang saya lakukan pada saham Bukit Asam (PTBA)


Beli di harga Rp 2100 pada tahun 2017, saya pegang hingga sekarang. Dividend yield 13% tiap tahun sudah saya dapatkan 3x. Artinya keuntungan saya sudah sekitar 39%. Harga saham sekarang sudah hampir 2500, atau capital gain 17%. Artinya saya sudah untung sekitar 58%.


Di deposito, keuntungan seperti ini baru bisa anda dapat setelah 11 tahun investasi. Saya hanya cukup 3 tahun di saham.


Bahkan dia pernah mencapai harga hampir Rp 5.000. Artinya keuntungan saya harusnya hampir 300% bila saya pinteran dikit.


Namun, saya berencana untuk menjual saham PTBA ini dengan target harga Rp 3.000 dalam waktu dekat. Karena dividen yang dibagikan biasanya hanya dividen final, yang berasal dari keuntungan tahun lalu. Sehingga di tahun 2021, saya ragu perusahaan ini akan memberikan dividen yang besar, mengingat 2020 adalah tahun yang buruk. Kalau saya hitung, keuntungan totalnya bakal mencapai angka +94%.


Namun, namanya manusia, kadang salah wajar. Di KLBF ini saya malah rugi karena mengejar kenikmatan instan dari dividen.


Sebenarnya kalau saya biarkan sahamnya sebulanan, mungkin bakalan dapat capital gain yang cukup, karena ada kemungkinan sahamnya naik. Namun, saya baru mendapat kabar dari rekan yang kerja di Kalbe Nutrisi, bahwa sales Kalbe Farma sudah menurun bahkan sebelum Corona. Itulah sebabnya ketika hype vaksin, sahamnya tidak terlalu naik sebagaimana saham farmasi lain. Walau laporan keuangannya masih positif.


Akhirnya, saya cutloss dalam keadaan rugi.


Saya tidak seperti investor yang jualan seminar dan grup-grup premium itu ya. Yang kalau rugi diem, kalau untung ngocehnya udah kayak the next Warren Buffett. Saya untung atau rugi pun tetap ngoceh seperti ini hahaa.


Tapi kalau rugi terus, mungkin saya juga akan beralih profesi jadi jualan seminar, biar ruginya nutup hahaa.

Tahukah kamu, kalau ada saham yang bisa kamu beli seharga Rp 230, tapi kamu dapet aset bersih sebesar Rp 756?

 Tahukah kamu, kalau ada saham yang bisa kamu beli seharga Rp 230, tapi kamu dapet aset bersih sebesar Rp 756?


Perhatian: Tulisan ini cocok buat kalian yang suka panjang-panjang


#IzmulMencariUang


Kalau kata Warren Buffett, keuntungan pada saham itu bukan terjadi pas kita jual, tapi pas beli.


Ketika saya beli saham Panin Financial seharga Rp 240 per lembar, sebetulnya saya telah mendapatkan aset sebesar Rp 756 per lembar saham yang saya beli. 


Dengan kata lain, saya sudah untung 3x lipat lebih. Makanya saya bilang, main saham itu mudah.


Perihal besoknya harga saham mau turun ke Rp 230, yasudah, itu urusan dia dengan pasar. Urusan saya dengan perusahaan hanya satu: saya punya aset bersih Rp 756 per lembar saham yang saya beli. Kalau besok perusahaannya bangkrut atau likuidasi, saya dapat aset segitu.


Inilah yang dinamakan value investing. Kita berinvestasi pada nilai perusahaan, bukan pada harganya.


Darimana saya tahu bahwa nilai perusahaan ini Rp 756 per lembar saham? Dari yang namanya book value.


Cara mengetahui nilai book value ini gampang. Di internet atau aplikasi saham pasti ada. Atau kalau mau hitung sendiri juga bisa, rumusnya aset dikurangi liabilitas (utang, insentif pegawai, sewa, dll), didapatkan lah ekuitas. Setelah itu, ekuitas ini dibagi dengan jumlah saham yang beredar, didapatkanlah book value.


"Tapi masa saya harus nunggu perusahaannya bangkrut dulu baru saya dapet Rp 756 tadi?"


Konsep value Investing itu begini, kita beli saham di bawah harga wajarnya (book value), kemudian suatu saat, harga saham yang sedang di Rp 230 tadi akan terkoreksi dengan sendirinya ke harga wajar tersebut.


Sederhananya begini. Ada toko diskon 30%. Mereka jual sepatu, harga aslinya Rp 1 juta, tapi cuma dijual Rp 700 ribu. Kamu beli, kemudian jual ke temanmu yang goblok dengan harga aslinya. Alhasil, kamu untung Rp 300 ribu.


Hal seperti ini juga berlaku di saham. Makanya, jangan beli saham sembarangan.


Dalam hal saham Panin Financial ini, saya beli di harga Rp 240 dengan harga wajarnya Rp 756. Artinya, saya beli dengan harga diskon hampir 70%.


Saham-saham seperti inilah yang disebut undervalue. Harga pasarnya di bawah harga aslinya.


Dalam investasi, angka 70% ini sering disebut Margin of Safety (MoS). Kalau kata Copper Academy, MoS inilah yang harus dipelajari pertama kali saat anda investasi di saham.


Sabar, tulisannya masih panjang.


Kalau anda bagi harga pasar dengan harga wajar tersebut, yaitu 240/756, akan didapatkan hasil 0,32. Angka ini disebut Price to Book Value (PBV). Artinya, saya membeli saham Panin Financial ini 0,32x lebih murah daripada harga aslinya.


Nilai PBV inilah yang sering dijadikan acuan utama value investor dalam berinvestasi. Ketentuan dasarnya begini:


PBV = 1, harga sedang wajar

PBV < 1, harga sedang murah

PBV > 1, harga sedang mahal


Umumnya, seorang value investor akan membeli saham saat PBV < 1, kemudian jual pas PBV > 1. Atau kalau investornya berani, bakal nungguin sampai PBV > 1,5.


"Tapi om, Unilever PBV nya 40an ke atas. Kok bisa?"


Itulah sebabnya ketentuan dasar di atas harus dipermanis lagi.


Maka ada PBV rata-rata, umumnya diambil 5 tahunan. Selama 5 tahun terakhir, PBV Unilever berkisar antara 40 sampai 60. Artinya, seorang value investor akan membeli saat PBV nya 40an, kemudian jual di 60an.


Menurut pengalaman saya pribadi, nilai PBV ini berkorelasi erat dengan nilai RoE (Return on Equity, laba bersih dibagi ekuitas). Ketentuannya begini:


RoE < 10%, PBV = 1

RoE = 10%, PBV = 1 juga

RoE = 30%, PBV = 3 (boleh interpolasi dengan PBV sebelumnya)

RoE > 30%, PBV nya udah gak ngotak


Contoh, Unilever punya RoE 111%, maka PBV nya +40an. BCA juga punya RoE 32%, PBV nya sekitar 8x.


Karena perusahaan yang menguntungkan (RoE tinggi), maka semakin layak dia dihargai mahal (PBV tinggi juga).


Ah daripada tulisan ini kepanjangan, lebih baik lanjutan tentang PBV ini saya tulis di blog pribadi nanti.


Kemudian bagaimana kalau perusahaan ini sedang lesu? Katakanlah PBV nya rendah, tapi perusahaan ini laba bersihnya kecil, atau bahkan rugi.


Makanya PBV ini harus diiringi dengan menghitung Price to Earning Ratio (PER).


Cara hitungnya juga cukup mudah. Laba bersih dibagi jumlah saham beredar, didapatkanlah Earning per Share (EPS).


Kemudian, harga saham saat ini dibagi dengan EPS, didapatkanlah nilai PER.


Tidak ada ketentuan pasti mengenai PER ini. Saya pribadi biasanya cari saham dengan PER di bawah 10, kemudian jual saat PER di atas 15.


Kekurangan metode ini adalah, dia sangat menggantungkan hidupnya pada laba bersih. Laba bersih ini bisa kapan saja berubah, apalagi pada perusahaan yang sifatnya cyclical, seperti perusahaan tambang.


Misalkan, bisa saja Adaro Energy tahun ini untung triliunan karena harga batubara naik. Tapi ketika harga batu bara turun, maka laba bersih Adaro juga kemungkinan turun drastis, bahkan bisa rugi. Nah, nilai PER sangat sensitif pada hal-hal seperti ini.


Beda dengan PBV, karena dia bergantung pada ekuitas (aset dan utang). Ibaratnya, kalau perusahaan itu punya aset Rp 100 triliun, gak mungkin lah habis dalam setahun doang.


Tapi jangan pernah beli saham yang kedua nilai tersebut negatif. Karena kalau PER negatif, artinya perusahaan itu sedang rugi. Kemudian kalau PBV negatif, artinya perusahaan tersebut memiliki lebih banyak utang daripada aset.


Masih agak panjang tulisannya, sabar ya.


Kemudian karena keterbatasan akuntansi, anda tidak bisa "terima beres" nilai PBV dan PER tersebut.


Koreksi ya bila salah, karena saya tidak mendalami akuntansi.


Contohnya, ketika sebuah perusahaan beli aset berupa tanah, maka yang dicatat pada balance sheetnya adalah harga beli tanah tersebut. Padahal, harga tanah berubah tiap tahun.


Atau ketika perusahaan menemukan cadangan batubara. Yang dicatat sebagai aset adalah biaya eksplorasinya, bukan potensi cadangan terbukti batubara tersebut.


Kemudian misalkan perusahaan punya aset kebanyakan dalam bentuk tak lancar (gedung, mesin, dll). Aset tersebut gak bisa dicairkan hari ini juga, butuh proses, yang proses tersebut mungkin membutuhkan biaya.


Kemudian misalkan, perusahaan tersebut punya branding yang bagus. Katakanlah gojek yang gak punya kendaraan satu pun, tapi valuasinya tetap besar.


Kasus lagi, misalkan perusahaan saat ini laba bersihnya kecil, namun baru dapat kontrak yang besar. Tapi kontrak tersebut belum tercantum di laporan keuangan.


Dan banyak lagi kasus lainnya.


Maka berkembanglah beberapa cara untuk menentukan nilai wajar saham. Seperti Revalued Net Asset Value (RNAV), Enterprise Future Value, Benjamin Graham Formula, dan lain-lain. Semua ini akan saya tulis di blog pribadi biar post ini gak panjang.


Sudah banyak saham "hasil karya" value investing ini. Yang paling waw dan stock of the decade menurut saya adalah kasus INKP (lupa kepanjangannya apa).


2017 lalu orang rame bilang, bisnis kertas akan mati ditelan digitalisasi. Padahal di sisi lain, INKP terus menumbuhkan laba bersih tiap tahunnya.


Dari 2017 ke 2018, harga sahamnya naik dari Rp 1.000 ke Rp 20.000. Artinya, hanya dalam setahun, anda sudah mengalami keuntungan sebesar 2000%. Kalau invest Rp 1 juta, anda akan keluar dengan duit Rp 20 juta.


Banyak kasus yang seperti ini. Hal yang tidak dapat dilakukan bahkan oleh saham yang lagi ngetren sekalipun, ANTM dan BRIS.


Dikit lagi yaa


Kemudian bagaimana dengan dividen?


Ada satu metode value Investing andalan saya, dan sering dipakai oleh manajer reksadana. Namanya Discounted Cash Flow (DCF). Metode ini pertama kali saya kenal pas belajar studi kelayakan investasi jalan tol.


Metode ini didasari pada free cashflow (duit nganggur) perusahaan. Simpelnya begini:


Misalkan, anda beli saham harga Rp 1.000 per lembar. Tahun ini, perusahaan ngasih dividen sebesar Rp 50.


Kemudian anda analisis, selama 20 tahun ke depan, free cashflow mereka akan naik sebesar 10% setiap tahunnya.


Maka anda bisa prediksi, tahun depan dividennya naik kira-kira ke Rp 55, tahun depannya lagi Rp 60,5, dan seterusnya.


Pada tahun ke 20, total dividen yang anda peroleh akan menjadi sekitar Rp 1.431. Kemudian nilai ini "dipresentkan" dengan metode Net Present Value. Bisa anda lihat di blog pribadi saya.


Artinya, anda mendapatkan cashflow sebesar angka tersebut selama 20 tahun, atau 143,1% dari modal anda. Dan akan terus bertambah setiap tahun selama sahamnya belum anda jual.


Tentu, metode DCF ini tidak semua orang bisa pake. Anda harus paham betul kondisi perusahaan dan mampu mengambil investor judgement yang tepat.


Perhitungan lebih detailnya sudah saya tulis di sini ya:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=3955996897818466&id=100002245830465


Tulisan saya ini hanya sebagai gambaran bagaimana cara melakukan value Investing. Tidak semua orang siap nungguin saham sampai 20 tahun.


Namun, kecenderungannya, orang sukses di saham sering menggunakan metode ini. Contoh, bos Djarum, beli saham BCA 20 tahunan lalu seharga "cuma" Rp 4 triliun, sekarang jadi Rp +800 triliun, dengan dividen hampir Rp 3 triliun per tahun.


Banyak lagi nama besar di Indonesia seperti bapak Sandiaga Uno, Hary Tanoe, dan di level internasional ada Warren Buffett, Bill Gates, Jeff Bezos, dan sebagainya.


Udah ya, tangan saya cape. Kalau kangen chat aja.


Jangan lupa join grup kami yaa

https://t.me/sutakananinvestment


Update: sekarang harganya Rp 170an, sedangkan valuenya Rp 818. Harga lebih murah, value lebih tinggi.


Update 2 tahun setelah post ini dibuat:

Sahamnya udah naik 2x lipat

Monday, October 23, 2023

Gimana caranya mulai investasi saham modal Rp100 Ribu?

 Gimana caranya mulai investasi saham modal Rp100 Ribu?


🎗️ Long Post

#IzmulMencariUang


Buat yang belum tau, saham itu surat kepemilikan atas sebuah perusahaan


Misalkan, ada orang punya warung makan. Total aset bersihnya Rp100 juta


Terus kamu beli saham di warung itu Rp10 juta, atau 10% dari total aset bersihnya. Dengan kata lain, kamu memiliki 10% dari warung tadi


Misalkan warungnya bulan ini untung Rp20 juta, maka kamu berhak dapet 10%-nya alias Rp2 juta


Simpel kan?


➡️ "Terus kalau rugi gimana bang?"

➡️ "Emang ada bang warung bisa dibeli Rp100 ribu?"

➡️ "Kalau butuh duitnya bisa dijual gak bang?"

➡️ "Kalau dapet perusahaan jelek gimana bang?"

➡️ "Aku masih kejebak pinjol bang, gimana?"


Nah baca terus sampai bawah yaa. Nanti ketemu jawabannya


Di sini, yang aku tulis bukanlah cara beli saham warung pinggir jalan, tapi perusahaan besar. Kita ngomongin BCA, Telkom, Gojek, dan sejenisnya


✅ Cara belinya gimana?


Kamu harus beli ke namanya perusahaan sekuritas/broker/pialang/anggota bursa (istilahnya banyak banget, tapi semuanya sama kok)


Buat pemula, aku rekomendasi 2 ini

➡️ Ajaib

➡️ Stockbit


Kamu gak perlu ke kantornya, cukup download aplikasinya kok. Contohnya Ajaib di sini:


Android

https://play.google.com/store/apps/details?id=ajaib.co.id


iOS

https://apps.apple.com/id/app/ajaib-beli-saham-reksadana/id1473916571


Kamu bisa pakai kode referalku biar dapet saham gratis


✅ izmu562


Terus bikin akun, siapin KTP sama nomor rekening yaa. Bebas rekening apa aja


Tapi disclaimer, aku sendiri pakainya Mandiri Sekuritas. Karena pas pertama daftar tahun 2015 belum ada Ajaib sama Stockbit


Dan kebetulan, Mandiri Sekuritas ngadain seminar di kampusku, sekalian mereka bikinin rekening saham. Keterusan sampai sekarang


Tapi aku gak rekomendasi Mandiri Sekuritas buat pemula, karena fee broker mereka kurang ramah


"Fee broker apa bang?"


Kayak biaya layanan kalau kita pakai aplikasi mereka. Tapi gak banyak kok, kalau kamu beli saham Rp100 ribu, biaya layanannya paling Rp150 doang


Tapi di Mandiri Sekuritas, biayanya Rp5 ribu. Cukup menguras kantong. Makanya buat pemula aku rekomendasi Ajaib atau Stockbit


Oh ya, semua sekuritas bisa mulai investasi dari Rp100 ribu kok. Jangan percaya kalau ada yang bilang minimalnya Rp10 juta, biasanya ini perkataan sales


✅ "Oke bang, aku udah daftar. Selanjutnya gimana?"


Sebelumnya kamu harus tau, ada 2 cara dapet untung di saham


📈 Harga sahammu naik. Misalkan kamu beli saham harganya Rp100 ribu, bulan depan jadi Rp120 ribu, maka kamu untung Rp20 ribu. Ini disebut capital gain


📈 Pembagian keuntungan perusahaan, kayak ilustrasi warung makan di awal tulisan ini, namanya dividen


Tapi di sisi lain, ini risikonya


📉 Harga saham bergerak tiap hari (hari kerja, dari jam 9 sampai 4 WIB). Tentu saja harga sahamnya bisa turun. Ini namanya capital loss


📉 Perusahaannya bangkrut


"Loh kalau perusahaannya rugi gimana bang? Apa kita nanggung kerugiannya juga?"


Baca pelan-pelan yaa: enggak secara langsung


Misalkan kasus warung yang aku bahas di awal tadi. Kita punya 10% kepemilikan, terus warungnya rugi Rp20 juta. Apa kita harus setor uang ke warungnya Rp2 juta? Enggak


"Biasanya" kalau warung rugi, ini yang terjadi


➡️ Kita gak dapat pembagian keuntungan alias dividen


➡️ Warungnya kan rugi Rp20 juta, otomatis aset bersihnya berkurang dari Rp100 juta ke Rp80 juta. Maka sahammu yang awalnya Rp10 juta jadi tinggal Rp8 juta


✅ "Oke bang, aku udah paham. Terus saham apa nih yang harus ku beli?"


Ada banyak cara buat pilih saham. Secara garis besar ada 2


➡️ Fundamental. Di sini kita bener-bener melihat kinerja perusahaannya, dari bisnisnya apa, keuangannya gimana, hingga manajemennya bagus atau enggak. Biasanya cara fundamental identik sama investasi jangka panjang, minimal 3 tahun


➡️ Teknikal. Di sini kita melihat data masa lalu untuk menentukan pergerakan sahamnya di masa depan. Identik sama investasi jangka pendek, walau dipakai jangka panjang juga bisa


Untuk pemula, saranku coba aja semua


Tapi mulai dari modal kecil dulu, kayak Rp100 ribu. Ibaratnya kalau untung syukur, kalau rugi anggap uang belajar


Di youtube sebenarnya banyak yang bikin konten tentang 2 analisis ini. Tapi jujur aja, materinya kurang terstruktur, pisah-pisah, dan belum tentu sesuai sama kebutuhanmu


Misalnya, kamu pekerja kantoran yang gak bisa cek saham di siang hari karena kerja. Kamu gak cocok analisis teknikal karena di sini kamu harus sering pantau sahamnya


Atau kamu lagi pengen nabung buat beli rumah 4 tahun lagi. Maka cocok di analisis fundamental. Tapi fundamental banyak cabangnya, ada yang value investing, core investing, cyclical investing, dan banyak lagi


Aku sendiri butuh waktu 2 tahun buat belajar ini semua


Di akun ini, aku sering banget share soal saham. Jadi kalau kamu mau tau lebih lanjut biar gak perlu nunggu 2 tahun kayak aku:


➡️ Save dan share postingan ini buat dibaca nanti

➡️ Add/follow akun ini biar kamu update soal saham (aku juga share banyak meme lucu)

➡️ Kalau kamu pengen belajar lebih lanjut atau konsultasi soal keuangan, chat aja


✅ "Bang ini kalau ku hantam beli Rp100 juta sekalian aman kah?"


Sebenarnya aman aja. Ini bukan aplikasi scam kayak Jombingo atau Vtube kok


Soal diawasi OJK gak perlu kamu pertanyakan lagi


Dalam 20 tahun terakhir, dari ratusan sekuritas, hanya ada 2 yang bangkrut. Itu pun pas 2008, karena krisis, dan uang nasabahnya dipindah ke sekuritas lain, jadi tetap aman


Belum ada cerita aplikasi baru setahun udah hilang, scam


Karena Ajaib, Stockbit, Mandiri Sekuritas, dan lain-lain itu aplikasi serius. Bahkan Mandiri Sekuritas itu aplikasi yang dibikin sama Bank Mandiri. Kalau aplikasinya hilang, kamu labrak aja kantornya dekat rumahmu


Uang dan saham kita juga sebenarnya enggak disimpan di aplikasi ini. Tapi disimpan di bank Kustodian


💸 Ajaib ➡️ Disimpan di Bank BCA & Permata

💸 Stockbit ➡️ BCA & Bank Jago

💸 Mandiri Sekuritas ➡️ Tentu saja bank Mandiri


Jadi kalau kamu beli saham di Stockbit, keamanannya setara sama BCA


Siapa yang meragukan BCA?


Tapi disclaimer, saham tuh bukan jalan cepat menjadi kaya. Normalnya kita hanya untung 10-20% setahun


Misalnya modalmu Rp100 juta, maka normalnya setahun cuma untung Rp10-20 juta


Yes, kalau modalnya Rp100 ribu, normalnya untung cuma Rp10-20 ribu per tahun


Dikit banget yah? Iya, makanya kalau belum punya duit tuh kerja, jangan beli saham


Tapi kalau kamu menempatkan uang Rp100 ribu tadi buat belajar (belum cari uang), sangat worth it kok


Dan jangan bayangin kalau modalmu Rp100 juta


➡️ 2024 jadi Rp120 juta (untung 20%)

➡️ 2025 jadi Rp144 juta (compounding)

➡️ 2026 jadi Rp173 juta


Yang sering terjadi:


➡️ 2024 gak kemana-mana tetap Rp100 juta

➡️ 2025 rugi jadi Rp90 juta

➡️ 2026 tiba-tiba untung 2x lipat jadi Rp180 juta


Itu pun kalau cara investasinya bener. Makanya aku sangat rekomendasi investasi di ilmunya dulu


Lalu seiring waktu, tambah terus modalnya. Aku sendiri dulu nabung Rp200 ribu per bulan. Sekarang jangan ditanya lagi deh


Keuntungannya mungkin belum kamu rasain sekarang. Tapi 5-10 tahun ke depan, kamu akan berterima kasih pada dirimu sendiri karena belajar saham hari ini


✅ "Terus yang di gambar itu apa bang?"


Oh itu tabletku, harganya cuma Rp2 jutaan kok dah termasuk printilannya. Aku gak mau pamer kayak Indra Kenz


Sekalian nunjukin ke kalian kalau saham bukan jalan cepat menjadi kaya, karena aku juga belum kaya-kaya 😂


Tapi kalau kamu invest Rp1 juta sebulan, untung rata-rata 12% per tahun, kalau aku hitung di excel, selama 20 tahun asetmu harusnya hampir Rp1 miliar


Kalau kamu mulai di usia 25 tahun, kamu bakal dapetin ini di usia 45 tahun. Masih bugar


➡️ Bayangin kalau nabungnya lebih kenceng

➡️ Bayangin kalau kamu belajar saham sampai akarnya, dan dapet 20% setahun


Kira-kira asetmu udah berapa?


✅ "Share dong bang pengalamanmu di saham"


Aku kenal saham tahun 2013, karena waktu itu ada olimpiade Pasar Modal, dan aku tembus sampai tingkat nasional


Tapi, aku baru bikin rekening saham pas lulus SMA tahun 2015, dan kayak yang ku mention sebelumnya, Mandiri Sekuritas ngadain seminar + pembukaan rekening saham di kampusku


Awalnya, aku sisihin uang jajan Rp200 ribu per bulan buat beli saham


Tapi di 2 tahun pertama, aku rugi karena beli saham sembarangan


Asetku yang di tahun 2017 harusnya jadi Rp5 juta, tinggal sisa Rp2,5 juta aja. Buat mahasiswa, ini artinya gak makan sebulan


Makanya aku sangat saranin kamu buat invest ke ilmunya dulu, sambil belajar pakai modal kecil


➡️ Start small

➡️ Fail smaller

➡️ Learn bigger


Baru di tahun 2017, aku memutuskan buat fokus ke analisis fundamental. Terus aku investasi di saham PT Indah Kiat Pulp & Paper (INKP) di harga Rp2.000 per lembar


Oh ya buat kamu yang belum tau, harga saham di aplikasi ditulis dalam satuan lembar


Tapi, belinya minimal 1 lot alias 100 lembar


Jadi modal minimal yang harus kamu keluarkan buat beli INKP seharga Rp2.000 = 2000x100 = Rp200 ribu


Sama fee broker sekitar 300 perak


Tapi tenang aja, banyak kok saham yang bisa dibeli di bawah Rp100 ribu. Contohnya PT Sidomuncul (SIDO, produsen Tolak Angin), sekarang 1 lot harganya cuma Rp60 ribuan


Lalu nama saham juga ditulis dalam kode 4 huruf


Telkom ➡️ TLKM

Bank Mandiri ➡️ BMRI

Unilever ➡️ UNVR


dan seterusnya


Apa pertimbanganku buat beli INKP waktu itu?


Padahal INKP ini perusahaan kertas, yang kalau dipikir, di zaman yang serba online harusnya kertas gak dipakai lagi


Tapi, ada perspektif lain


Kalau aku gak salah ingat, waktu itu aset bersih INKP sekitar Rp50 triliun. Tapi kalau kamu beli semua sahamnya, kamu hanya perlu keluarin uang Rp10 triliun. Lebih murah 5x lipatnya


Artinya kalau aku beli Rp2 juta, aku sebenarnya dapet aset bersih 5x lipatnya alias Rp10 juta. Gokil gak tuh?


Ini yang disebut saham murah


Dan ini bisa terjadi di dunia saham, walau gak sering


Selain itu

➡️ INKP perusahaan kertas skala dunia

➡️ Manajemennya gak pernah kena kasus korupsi

➡️ Utangnya dikit

➡️ Waktu itu harga kertas lagi naik karena banyak buat packing belanja online


Aku beli, dan hanya beberapa bulan, harga sahamnya naik +150% ke harga Rp5.000


Aku beli Rp2 jutaan ➡️ jadi Rp5 jutaan hanya dalam beberapa bulan. Lalu ku jual


Akhirnya uangku kembali pulih


Tapi agak nyesel, karena setahun kemudian, INKP naik ke harga Rp20.000, artinya kalau aku sabar setahun aja, uangku yang tadi bisa naik 10x lipat alias jadi Rp20 juta


Buat mahasiswa segini tuh banyak banget, bisa buat hidup hampir setahun di Jogja


Walau agak nyesel, tapi aku dapet yang lebih penting: pelajarannya. Di tahun-tahun setelahnya, aku udah jarang salah pilih saham


Ini sahamku yang harganya naik 2x lipat (yang ku inget)


➡️ 2017 INKP

➡️ 2018 PTBA

➡️ 2019 WEGE

➡ 2020 BRIS, ANTM

➡️ 2021 zonk wkwkwk

➡️ 2022 PTBA, BBNI, SMKL, PNLF

➡️ 2023 ABMM


Belum dividennya. Apalagi si PTBA itu dividennya super gede banget. Makanya aku berani beli 2x


Sekali lagi, aku berterima kasih pada diriku 10 tahun lalu karena memberanikan diri belajar saham


Dan dalam rentang waktu itu, secara pararel aku juga nambah penghasilanku lewat karir, self employee, dan bisnis


Tentu saham ada risikonya. Tapi kata Warren Buffett, investor tersukses sepanjang masa: risiko tuh datang dari ketidaktahuan


Jadi semakin kamu belajar, risikonya semakin dikit


Nah kalau kamu gimana? 

Mau kenalan sama saham sekarang, atau 10 tahun lagi pas orang lain yang baca status ini udah kaya?

Ada yang mau diajari cara membaca Surat Kabar atau Koran yang selanjutnya di Mappingkan untuk melihat Prediksi yang Akurat melihat kedepan???

 Ada yang mau diajari cara membaca Surat Kabar atau Koran yang selanjutnya di Mappingkan untuk melihat Prediksi yang Akurat melihat kedepan???


Logika

Nalar

Mapping


By Data dan Terukur dan kita buat Prediksi yang akhirnya Kesimpulan. 


Harus bertatap muka dan langsung praktek, sehingga anda bisa Membeli atau Menjual tepat waktu.


Mau dimanapun jika sudah mendapatkan pelajaran Cara Berpikir dan Cara Bekerja dari #AllNewPiranhamas, pasti #Bathine #BathiThok #BathiPokoke #BathiBathi.

IDX Composite

FTSE Indonesia

IDX Kompas 100

IDX PEFINDO-25

IDX LQ45

Tambahan Saham yang ngasih dividen

 Tambahan dikit pak guru Agus Setiyawan, kalau bisa yang ngasih devidend tahunan rutin dengan Yield diatas 5% sehingga kalau sahamnya dibawa turun nggak panik karena tiap tahun dapat dividend yang nilainya sama seperti ngontrakkan rumah.

Mapping Perusahaan Untuk Saham

 Di mappingkan dalam 3 :

1. Perusahaan dalam setahun

2. Perusahaan dalan sebulan

3. Dan perusahaan yang hit dan run


Semua bisa selama, data mapping jelas dengan dalam menganalisa.

MENGUMPULKAN PUZZLE YANG BERTEBARAN DI SAHAM

 MENGUMPULKAN PUZZLE YANG BERTEBARAN DI SAHAM

.

Aslinya hanya kayak anak yang bermain main puzzle yang bertebaran. Kita harus mulai darimana, bagaimana memetakan, bagaimana menyusun yang cepat dll. Beruntung Saya sudah mendapatkan ilmu ini dari Pak suhu Agus Setiyawan, yg ternyata bisa diterapkan dimana Mana.


Sebagai contoh Saya terapkan di trading saham.


Saya baru baru ini baca berita bahwa SEKOLAH MULAI MASUK BULAN JANUARI 2021, langsung kepikiran apa yg bisa Jadi uang dengan Cepat? Perusahaan apa yg kira2 diuntungkan? Googling laporan keuangan nya 1Q 2Q 3Q, lihat chart nya bagus gaknya, jadilah uang Cepat.


Jadilah kepikiran TKIM atau pabrik kertas tjiwi kimia. Kok TKIM? Ya iyalah, kalo anak masuk sekolah dll kebutuhan kertas kan ningkat tajam Beeli pagi juaal sore, dapat 10%....lumayan dapat untuung sekitar Rp 2.5jt duduk Manis.


Mulailah belajar dari Cara yg Paling mudah Dulu, minim resiko, untuk jangka panjang, yakni menabung atau investasi saham dimana Hari Sabtu tanggal 5 Desember 2020 ini Ada workshop nya.


Bukan Saya Yang ngadakan, karena Saya minim pengetahuan. Diadakan oleh expert nya di bidang ini yakni Pak Kunardi founder dari Happy Billionaire Club.


Info detail bisa Saya Bantu, silahkan Komen ninggal jejak.


#BelajarNabungSaham

#BelajarInvestasiSaham

#WorkshopMenabungSaham

Kaidah Saham Piranhamas

 #KaidahSaham All New Piranhamas :


PE Ratio

PE = Price To Earning RENDAH

PB = Price To Book RENDAH


Gunakan

Fitur KEYSTATS

Aplikasi STOCKBIT


Price To Book Value


Management :

Jujur

Profesional

Berintregitas


Sederhanakan yang Rumit

Mudahkanlah yang Sulit

Gampangkanlah yang Sukar


cc : Purnomo Sony

Thursday, October 19, 2023

Kalau anda beli saham Unilever sekarang, balik modalnya 33 tahun lagi

 Kalau anda beli saham Unilever sekarang, balik modalnya 33 tahun lagi.


Perhatian: tulisan ini panjang

#IzmulMencariUang


Ini lucu, tapi beneran ada. Selama membuka jasa konsultasi keuangan, saya beberapa kali menemukan mindset begini:


Misalkan ada saham, harga Rp 1.000, tapi dia bilang mau beli di harga Rp 1.100. Alasannya, dia kira dengan beli di harga mahal keuntungan yang didapat juga akan banyak. Dia juga bangga beli sesuatu yang mahal.


Inilah alasan kenapa masih ada yang beli kopi Starbucks seharga Rp 50.000 daripada kopi tubruk Rp 3.000. Rasa beda tipis, bahkan sama-sama bikin batu ginjal kalau dikonsumsi banyak.


Tapi dengan beli di harga segitu, dia berkumpul bersama orang yang mampu beli di harga segitu juga. Dia kira, harga selalu menentukan kualitas, meski kopi itu sama-sama datang dari beraknya Luwak.


Ternyata, memang ada ilmunya. Saya pernah ngobrol dengan kakak kelas yang jadi marketing di Nestle. Katanya, walau produknya sama, kadang yang mahal lebih laku.


Ini adalah mindset konsumsi. Tapi jangan dibawa ke investasi. Saya sering menulis tentang mindset investasi di blog pribadi. Silakan baca.


Agar mudah dipahami masyarakat awam, kita bakal meninjau saham Unilever dengan metode Simple Payback Period.


Sederhananya begini, ada bisnis seharga Rp 10 juta, kemudian dia bisa untung bersih setahun Rp 2 juta. Artinya, anda bakal balik modal dalam waktu 5 tahun (10 dibagi 2).


Data seperti inflasi, MARR, growth, nilai sisa, dan lain-lain diabaikan dulu. Biar tulisan ini enggak kepanjangan dan mudah dipahami.


Bayangkan kalau anda beli bisnis itu seharga Rp 20 juta, maka balik modalnya 10 tahun. Bisnisnya jadi semakin tidak menarik, walau harganya mahal. Tapi kalau anda belinya di harga Rp 6 juta, maka balik modalnya hanya 3 tahun, sehingga bisnisnya jadi makin menarik. Di sinilah mindset investasinya, semakin murah semakin bagus.


Lalu, saya sering dapat pertanyaan begini:


"Koh, perusahaan Unilever kan berfundamental bagus, kok harga sahamnya turun terus sejak 2018?"


Kalau analisis fundamentalnya bener, hasil akhirnya bukan perusahaan itu bagus atau enggak, tapi valuasinya.


Unilever itu ibaratnya begini: ada warung, punya aset bersih Rp 10 juta. Dalam setahun, warung tersebut bisa punya untung bersih Rp 14,5 juta. Selama 10 tahun, dia konsisten begitu. Semua orang bakal bilang ini warung bagus.


Terus anda datang ke pemiliknya, bilang "pak/buk, saya mau beli ini warung. Harganya kena berapa?"


Kemudian pemilik warungnya bilang "saya baru berani lepas kalau kena Rp 480 juta."


Dia gak bakal mau jual seharga Rp 10 juta sesuai jumlah aset bersihnya. Karena ini warung bagus, setahun untung sudah melebihi aset. Dia bisa kehilangan mesin uang kalau jual murah.


Anda jadi beli? Kalau saya, tentu tidak. Laba 14,5 juta setahun, berarti saya secara Simple Payback Period baru balik modal 33 tahun lagi.


Ini bisnis yang buruk, walau perusahaannya baik.


Sebagai gambaran, balik modal normal untuk bisnis beda-beda bergantung skala bisnisnya. Kalau skala kecil seperti UMKM, kurang dari 5 tahun biasanya sudah balik modal. Kalau yang besar, biasanya di atas 15 tahun.


Bahkan kalau bisnis baru, misalkan gerobakan jual pisang goreng, balik modalnya bisa kurang dari setahun.


Mungkin, kalau warung itu dijual seharga Rp 145 juta saya masih akan pertimbangkan buat beli. Karena 10 tahun bisa balik modal.


Inilah sebabnya, mindset investasi beda dengan konsumsi. Di investasi, anda harus benar-benar bertanya, harganya berapa?


Di saham Unilever, anda perlu menunggu 33 tahun. Siapa yang mau investasi seperti ini?


Bahkan pernah suatu waktu warung ini dijual di harga Rp 600 juta lebih. Wes angel. Karena gak ada yang mau beli, akhirnya harga turun sampai sekarang menyentuh Rp 480 juta.


Begitulah kondisi saham Unilever sekarang. Makanya harganya turun terus: karena valuasinya kemahalan.


Selain itu, warung ini selama 10 tahun terakhir "gitu-gitu aja." Anda bisa cermati di gambar.


Penjualan Unilever selama 10 tahun terakhir hanya naik sebesar 118%. Beda sama pesaingnya, warung Mayora yang jualan Mie Gelas, naik sebanyak 225%.


Pun aset bersihnya. Selama 10 tahun warung Unilever cuma naik 21,9%. Beda sama warung Mayora yang sudah naik 427%.


Sebagai gambaran, kalau diibaratkan warung, Unilever ini 10 tahun lalu punya aset Rp 8,2 juta. Sekarang, cuma nambah Rp 1,8 juta.


Mengapa hal ini terjadi? Dalam pandangan saya ada dua alasan.


Pertama, seluruh laba bersih yang 14,5 juta itu dipakai buat hidup si pemilik warung. Tidak ada sisa buat nambah aset warung tersebut, seperti nambah kursi, bikin cabang, beli menu baru, dan sebagainya.


Kecuali 2 tahun terakhir, Unilever konsisten alokasi sekitar setengah keuntungannya buat nambah aset.


Kedua, hampir tidak ada pasar baru untuk dipenetrasi.


Kalau anda baca laporan tahunannya, dari paparan manajemen, mereka hanya berinovasi pada produk. Jadi, tiap tahun mereka launching produk baru. Kalau tidak salah 2019 mereka ada 4 produk baru di bidang kosmetik.


Tapi, mereka enggak ekspansi di bidang pasar. Bukan gak mau, tapi kayaknya memang gak bisa.


Ibaratnya, di pedalaman yang belum ada jalan daratnya pun, sabun Lifebuoy menguasai pasar. Jadi, mereka mau jualan di mana lagi?


Unilever ini kan aslinya perusahaan asing yang buka cabang di Indonesia. Mereka susah mau ekspor, karena di negara lain sudah ada cabangnya juga. Contoh, pasar Malaysia, ya dikuasai Unilever Malaysia.


Beda sama perusahaan kayak Sidomuncul, mereka bisa ekspor produk ke manapun. Jadi, peluang penjualannya tumbuh sangat besar.


Itulah sebabnya pada tahun 2019, pertumbuhan penjualan Unilever hanya 2,7%.


Apalagi, hampir semua produk mereka adalah market leader di bidang masing-masing. Ibaratnya, sabun mana yang lebih laku dari Lifebuoy?


Ke depan, sabun ini hanya punya 2 pilihan: bertahan atau diambil pasarnya oleh sabun lain. Sedangkan sabun lain, pilihannya nambah satu: mengambil pasarnya Lifebouy.


Melihat pasar mereka yang terbatas, maka penjualan hanya akan meningkat mengikuti Produk Domestik Bruto yang kisaran 5%. Kalau lebih, artinya hebat.


Apalagi, utang di kuartal 4 2020 meningkat gila. Sepertinya ini utang usaha sih, bukan utang bank atau obligasi.


Tapi kalau anda investasi di P2P Lending, anda pasti tau ada gosip yang beredar. Akhir-akhir ini cukup banyak vendornya Unilever yang gagal bayar utang. Gak usah saya sebutin lah nama-namanya ahahaa.


Inilah sebabnya, selama 10 tahun jualan sabun, saham Unilever hanya naik sebesar 198%. Beda sama yang jualan Mie Gelas, naik sampai 1800%.


It's still a good Investment. Ibaratnya kalau 10 tahun anda taruh duit di deposito bank dengan bunga 5% setahun, hari ini aset anda hanya bertumbuh 62,8%. Belum kena biaya admin.


Karena harga saham Unilever udah kemahalan, akhirnya secara perlahan, dia menuju ke "harga wajarnya."


Harga yang wajar di mana bisnis Unilever itu dihargai.


"Tapi koh, naik turunnya saham kan suka-suka bandar."


Anda kira berapa banyak manajer reksadana dan hedge fund yang beli saham Unilever selama 3 tahun terakhir dan rugi sampai sekarang?


Tiap hari ada asing beli ini saham, pun manajer reksadana dan hedge funding. Apakah harga sahamnya naik? Enggak.


Apalagi, saham-saham model Unilever begini memang tidak diperuntukkan mencari capital gain. Dia dapat untung dari dividennya. Jadi, cocok investasi jangka panjang untuk membentuk pendapatan pasif.


Tapi masalahnya, kalau mau membentuk pendapatan pasif dari Unilever pun berat. Dari dulu, dividen sahamnya segitu-segitu aja. Beda kalau anda membangun pendapatan pasif dari saham BCA, hari ini dapat dividen Rp 500an, 15 tahun lagi bisa jadi Rp 5 ribuan setahun.


Ke depan, dengan kebijakan enggak bagikan dividen banyak-banyak, semoga ekuitas perusahaan bisa naik.


Dan semoga, perusahaan terus berinovasi. Inovasi manusia memang tidak ada batasnya.


Akhir kata, Unilever perusahaan bagus. Sangat bagus. Tapi kalau kemahalan, gak ada yang mau beli juga.


Terus kapan waktu yang cocok buat beli Unilever ini? Saya pribadi di harga sekarang sudah lumayan menarik. Tapi disarankan beli antara Rp 5.500 sampai Rp 6.000.


Tapi ya, kalau mau jujur-jujuran. Paling bagus di harga Rp 2.000 sampai 2.300. Tapi kayaknya berat banget kalau mau sampai harga segini.


Ngerti gak? Kalau gak ngerti, kami buka jasa konsultasi keuangan, termasuk ngasih masukan tentang analisis saham. Murah kok, per jam konsultasi cuma bayar Rp 10.000. Undervalue sekali, bukan?


Kalau cewe, saya punya fitur khusus jelasin pake vn.


Jangan lupa gabung ke grup Telegram:

https://t.me/sutakananinvestment


Selamat berinvestasi!

Mendapatkan Rp100 juta pertama dengan gaji hanya Rp1,8 juta

 Mendapatkan Rp100 juta pertama dengan gaji hanya Rp1,8 juta


Perhatian: tulisan ini panjang banget


Sebelumnya kita disclaimer dulu, biar gak disangka flexing


✅ Ada banyak orang yang berteman dengan akun ini mencapai Rp100 juta bahkan Rp1 miliar pertama di usia lebih muda dari saya. Jadi kalau saya flexing, malah malu jatuhnya


✅ Tapi bagi sebagian orang, angka segitu luar biasa besarnya dan mungkin masih sekadar angan-angan aja


Dan sebelumnya disclaimer lagi tentang privilege yang saya miliki


✅ Saya orang yang sehat

✅ Hidup berkecukupan, kedua orangtua saya PNS. Anda tahu sendiri PNS itu hidupnya gimana

✅ Mampu sampai kuliah

✅ Rumah dekat sekolah (sebagian teman saya harus merantau buat sekolah setelah SD)

✅ Kebutuhan dasar terpenuhi, termasuk gizi yang baik (walau badan saya termasuk pendek)

✅ Hidup di lingkungan yang baik

✅ Ada tanggungan tapi sedikit

✅ Ganteng


Nah kalau anda punya privilege yang serupa, anda juga harusnya dapat mengumpulkan Rp100 juta. Tapi, take it slow aja, setiap orang punya startnya masing-masing


Tapi kalau privilege kita berbeda, saya harap anda menemukan jalannya sendiri.


Saya percaya, setiap orang punya privilegenya masing-masing. Tapi kadang, kita gak sadar aja.


Sadarnya nanti, pas udah kaya, terus netizen buka-buka latar belakangmu.


Dan, kita juga punya unprivilege masing-masing. Bagi saya, orangtua yang bekerja sebagai PNS bisa jadi sebuah hadiah karena kondisi keuangan yang stabil. Namun, ia juga bisa menjadi unprivilege karena sedari kecil saya tidak pernah diajarkan mindset bisnis maupun investasi.


Beda, dengan orangtua yang sehari-hari jualan di pasar. Walau pekerjaannya kasar, namun ia diberkahi dengan sudut pandang yang jarang dimiliki oleh PNS.


✅ Bagi saya, lompatan besar itu terjadi di tahun 2013 sejak berkenalan dengan pasar modal. Waktu itu saya masih SMA, ada olimpiadenya, ikut, dan Al-hamdulillah juara 1 tingkat provinsi.


Dari sana saya mulai kenal dan senang belajar hal-hal yang terkait pasar modal. Menggunakan privilege yang saya miliki, saya lebih memilih membeli buku-buku pasar modal, bisnis, dan biografi tokoh-tokoh, di saat teman seumuran lebih suka novel dan komik.


Investasi terbaik, kata orang, memang investasi badan ke atas.


Dari sanalah saya belajar, walau kita diberi privilege yang sama, belum tentu apa yang akan kita lakukan dan hasilnya juga akan sama.


2015, saya sudah punya KTP, langsung tuh daftar ke Mandiri Sekuritas buat bikin akun saham. Modal awal cuma Rp100 ribu.


Waktu itu saya masih disupport orangtua, biasanya Rp2 jutaan sebulan. Gak besar, tapi gak kecil juga.


Dengan uang segitu, saya bisa menyisihkan Rp200 ribu setiap bulannya buat investasi.


Itulah cerita pertama saya kenal dengan pasar modal.


✅ Setiap orang tentu punya jatuh bangunnya sendiri


Hingga tahun 2017, uang yang saya tabung seharusnya udah jadi Rp5 jutaan, tapi yang tersisa di kantong cuma setengahnya.


Kok bisa?


Sepanjang 2 tahun pertama berinvestasi, saya tidak memilih saham yang baik. Saya jatuh ke dalam bujuk rayu saham-saham gorengan yang menawarkan keuntungan tinggi.


Buat yang belum tau, saham gorengan itu saham-saham kecil yang mudah banget harganya dimainkan oleh bandar. Memang saham kayak gitu menawarkan keuntungan yang besar, tapi risikonya juga besar.


Saya dulu mikirnya, kalau saya punya modal Rp1 juta aja, dan konsisten untung 1% sehari, 3 tahun uang saya udah tembus Rp2 miliar 


Siapa yang gak mau?


Tapi kalau semudah itu dapet duit, kenapa gak semua orang melakukannya?


Ternyata, memang gak ada gunanya. Butuh 2 tahun bagi saya buat buang jauh-jauh mental penjudi tersebut.


Hilang duit Rp2,5 juta bagi saya dulu luar biasa besar, karena itu udah 50% dari aset yang saya miliki.


Kalau kamu lagi di fase kayak gini, gapapa, jalani aja


"Smart small, fail smaller, learn bigger."


✅ Apakah ada cara cepat buat jadi kaya?


Ada, dan banyak. Tapi semua itu percuma kalau mindsetnya masih orang miskin.


Miskin boleh, asalkan jangan miskin sejak dari dalam pikiran.


Saya kembali buka-buka buku biografi, mulai dari Dahlan Iskan, Jacob Oetama, Elon Musk (yang saat itu belum seterkenal sekarang), Bill Gates, dan guru dari Maha Guru: Warren Buffett.


Apa yang sama dari mereka semua?

Mungkin kita beda-beda ya memaknainya, tapi bagi saya: segala hal haruslah masuk akal.


Membeli saham PT Berau Coal Tbk (BRAU) di tahun 2015 adalah tidak masuk akal. Bagaimana bisa perusahaan merugi tapi sahamnya naik puluhan persen sehari?


Tidak masuk akal, dan inilah saham pertama yang saya beli dulu.


Sekarang, saya ubah mindset. Saya diberi kesempatan membeli PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dengan harga Rp2000


Waktu itu, sektor kertas memang baru bangkit setelah puluhan tahun tertekan. Terima kasih buat yang sering jual-beli online di zaman itu.


Laba yang dihasilkan INKP saat itu Rp1000 per lembar saham. Artinya, saya bisa untung 50% per tahun 


Bayangin aja, saat bunga deposito bank cuma 6%, saya ditawari membeli INKP dengan keuntungan 8x lipatnya.


Sangat masuk akal


Cuma beberapa bulan, sahamnya naik ke Rp5000. Saya untung 150%, modal saya yang hanya Rp2,5 juta itu pun berbalik jadi Rp5,5 juta


Di sini lah titik baliknya.


Kadang biaya terbesar dalam berinvestasi itu bukanlah uangnya, tapi waktu. Butuh 2 tahun agar saya sadar.


Walau saya menyesal, karena INKP tidak lama kemudian tembus Rp20.000. Harusnya aset saya bisa bertambah 10x lipat waktu itu 😂


✅ Warren Buffett, Guru dari Maha Guru investasi, hanya bisa untung 20% per tahun.


Bahkan ketika modalnya masih receh, 20% is the best he can does. Atau sekitar 1-2% per bulan.


Sehebat apa saya hingga pernah merasa bisa mencapai 1-2% per hari?


Take it or leave it, 20% setahun di saham itu udah hebat banget.


Kalau pengen lebih, bukan sahamnya yang dikencengin, tapi top-up nya


Saya akhirnya mulai coba meningkatkan earning power. Untungnya, keterampilan yang saya pelajari waktu kuliah merupakan salah satu high income skill.


Saya mulai bantuin orang-orang bikin gambar rumah, hitung struktur bangunan, dan lain-lain. Lumayan lah buat jajan saham.


Saya juga coba merintis bisnis, mulai dari jualan jus pinggir jalan sampai bikin bimbel online. Semua gagal? Yes. Tapi saya belajar banyak


Mumpung masih muda, cobain semua.


Banyak-banyakin salah, lalu minta ampun pada diri sendiri. Karena pada dasarnya, manusia tiada lain adalah makhluk yang paling membutuhkan ampun.


✅ Gaji pertama Rp1,8 juta


Waktu itu tahun 2019, dapet kenalan di lokasi KKN. Beliau salah satu kontraktor kecil di Klaten, dan ngajak kerja bareng.


Jadi pas KKN itu genrenya gak ada cinta-cintaannya gaes, apalagi horor kayak cerita KKN desa Ponari itu


Itulah pekerjaan pertama saya. Angka segitu termasuk wajar soalnya belum lulus kuliah


156 jam per bulan. Artinya, saya dibayar sekitar Rp11.500 per jam


Saat itu saya belum punya kendaraan. Karena kalau saya beli motor Rp15 juta, itu setara dengan 1305 jam kerja


Baju branded itu bukan Rp5 juta, tapi 434 jam kerja


Makan-makan manis di cafe itu bukan Rp1 juta, tapi 87 jam kerja


Dan saya sadar, semakin keras bekerja, semakin banyak pajak yang harus dibayarkan.


Jadi, sejak 2019, sebenarnya saya tetap disupport orangtua, tapi dengan adanya tambahan income, hampir seluruhnya saya investasikan ke saham.


Terutama saham yang dividennya baik, minimal 5% dari modal yang kita keluarkan.


Jadi misalkan, kalau saya investasi Rp10 juta, maka dalam setahun dividennya harus Rp500 ribu.


Saya maunya gak ngapa-ngapain, tapi tetap ada pemasukan. Biar makan-makan cantik yang Rp1 juta tadi tidak dihitung 87 jam kerja lagi.


Saya gak mau kerja terus, dan kalaupun saya kerja, kemampuan saya terbatas. Di sisi lain, uang tiada lain adalah pekerja terbaik, ia bekerja 24/7 hanya untuk pemiliknya.


Semakin dewasa, hendaknya kita makin tau batasan.


✅ Tips minta naik gaji


Tentu, gaji saya sekarang bukan Rp1,8 juta lagi. Judul di atas cuma clickbait 😂


Angkanya saya rahasiakan. Tapi saya mau sekalian share deh gimana caranya naik gaji. Biar top-up sahammu lebih kenceng.


Anda jangan tiba-tiba dateng ke atasan terus minta naik gaji. Itu goblok. Apalagi kalau kerjaanmu sengaja diburuk-burukin.


Kalau perusahaan mau PHK orang, bisa-bisa kamu malah jadi yang pertama.


Mending gini:


Pertama, tunjukin kalau anda itu rajin. 2 bulan aja cukup.


Yang kedua, datang ke atasan anda, lalu tanya, "pak/buk, kerjaan saya sudah selesai. Kira-kira ada tanggungjawab lain gak yang bisa saya kerjakan?"


Waktu itu, pas nanya gini, saya langsung diarahkan buat bantu proyek lain yang lagi dikerjain perusahaan.


Ketiga, udah sebulan. Minta deh penyesuaian gaji.


Kalau gak dikasih, jadi kutu loncat aja 👀


✅ Walau pendapatan bertambah, gaya hidup jangan ikutan nambah


Selama 3 tahun lebih kerja, pendapatan saya udah nambah berkali-kali lipat dari awalnya cuma Rp1,8 juta.


Tapi, gaya hidup saya cuma nambah dari Rp2 juta ke Rp3 juta sebulan. Itupun kadang kelebihan


Kuncinya hidup sesuai kebutuhan kita aja. Saya sendiri gak pernah beli hp di atas Rp1,6 juta karena merasa gak terlalu butuh.


Bahkan saya sampai sekarang gak punya kendaraan. Saya sadar, saya jarang ke luar. Kalau punya kendaraan, saya harus keluar uang buat beli bensin, servis, pajak, parkir, duh lah pusing teuing.


Walau secara finansial sebenarnya mampu. Tapi untuk sekarang, saya merasa lebih hemat dan nyaman naik gojek aja. 


Gak perlu mikirin tempat parkir.


Lagian, orang kaya kok beli mobil. Orang kaya tuh beli pabrik 👀


Kalau sekedar punya mobil, buruh sawit pun sekarang pada punya.


Tapi kita semua punya dosa masing-masing. Dosa saya sendiri adalah setiap makan beli, bukan masak. Andai saya masak sendiri, pasti akan jauh lebih hemat.


Tapi gapapa deh, sekalian mensejahterakan UMKM di sekitar sini. Toh selama kita mampu, belilah, karena membeli adalah cara bersedekah paling terhormat.


✅ Rp100 juta pertama adalah yang tersulit


Saya sebenarnya cukup beruntung karena bisa mencapai angka ini di usia muda


Kalau dihitung, selama 7 tahun masa investasi, saya menghasilkan sekitar 40% setiap tahun. Terima kasih ke saham-saham seperti INKP, PTBA, WEGE, BRIS, ANTM, hingga SMKL. Semua saham tersebut adalah yang memberikan keuntungan besar buat saya.


Angka tersebut anggap aja beruntung. Karena guru saya pun, Warren Buffett hanya menghasilkan 20%. Mungkin akan ada masa, di mana saham-saham saya hancur-hancuran, sehingga imbal hasil yang saya miliki kalau dirata-ratakan sama atau kurang dari beliau.


Karena di bursa saham, ada lebih banyak hal yang kita tidak tahu, daripada yang kita tahu. Maka saya lebih memilih fokus pada hal yang saya tahu saja.


Rumus investasi saya sederhana: 75% saham, 25% reksadana obligasi.


Reksadana obligasi adalah salah satu investasi yang paling aman. Jadi andai saya kehilangan seluruh saham yang dimiliki, saya masih punya 25% aset


Karena saya sadar, suatu saat, akan ada masa di mana kinerja saham-saham saya memburuk. Saya harus mempersiapkan segala risikonya.


Saya selalu percaya untuk mengukur kekayaan bukan dari uang, tapi dari waktu. Ibaratnya kalau kamu hari ini amit-amit kena PHK, berapa lama kamu bisa survive?


Bagi saya, 25% dari reksadana obligasi tadi sudah cukup lama. Karena biaya hidup saya cuma Rp3 juta per bulan.


Jadi, walau uangmu lebih banyak, tapi jika biaya hidupmu besar, bisa jadi kamu sebenarnya tidak lebih kaya daripada saya ini.


Selain itu, saya juga mulai berinvestasi pada bisnis-bisnis riil. Kapan-kapan kita bahas deh.


Rp100 juta pertama memang yang paling sulit. Bagi saya, butuh bertahun-tahun buat mencapai angka segitu. Tapi, dengan imbal hasil 40% setahun, cukup 2 tahun buat menggandakannya menjadi Rp200 juta. Saya udah merasakannya sendiri.


Sekarang saya sedang dalam perjalanan menuju Rp1 miliar pertama. Sebenarnya angka ini udah saya capai sih, andai Suta Kanan dijual 😂


Buat kamu yang lagi berjuang mencapai Rp100 juta pertama, take it easy ya. Hidup bukan balap-balapan


Kalau mau balapan, belilah Tamiya, bukan saham


Begitulah cara saya mengumpulkan tiga digit pertama dengan segala privilege saya miliki.


Kalau kamu ngerasa gak punya privilege, sebagaimana kata admin salah satu grup Facebook, bertemanlah dengan orang lain, niscaya privilege yang mereka miliki bisa ikut kamu rasakan juga.


Buat kamu yang lagi cari temen buat belajar saham, gabung ke grup kami aja


t.me/sutakananinvestment


Pada dasarnya, mengumpulkan Rp100 juta pertama bukan hanya mengumpulkan uang, melainkan juga proses belajar yang panjang.


Mulai dari belajar kerja yang bener, belajar kerja dengan pinter, hingga belajar buat berdamai dengan diri sendiri.


Kalau kita gak melewati fase ini dalam mengumpulkan Rp100 juta pertama, bisa jadi kita bakalan melewatinya pas ngumpulin Rp1 miliar pertama atau lebih. Dan sekali kita gagal, jatuhnya akan lebih sakit.


Dan sekali lagi, start setiap orang beda-beda. Bisa jadi anda memulai dari punya utang, punya tanggungan, atau gemericing piring makan malam saya terdengar saat anda kelaparan


Gak usah bandingkan dirimu dengan orang lain, gak ada habisnya. Tugas kita dalam berinvestasi bukan membandingkan diri dengan orang lain, tapi dengan diri kita kemarin.


Saya harap, kita semua menemukan jalan dan mendapatkan ampun.


✅ Tentu setiap hal punya pengecualian


Orangtua yang berkecukupan seperti yang saya punya memang sering melahirkan anak yang juga kaya


Tapi tidak jarang lho, orangtua kaya melahirkan generasi pemalas yang justru menghabiskan kekayaannya


Dan tidak jarang juga ada orangtua miskin yang melahirkan generasi terhormat dan mulia. 


Karena pemikirannya, kaya ✅

Discounted Cash Flow (DCF) Metode terbaik untuk memilih saham

 Discounted Cash Flow (DCF)


Metode terbaik untuk memilih saham.


Perhatian: tulisan ini panjang

#IzmulMencariUang


Sekilas mengenai value investing. Ibaratnya begini, ada toko jualan sepatu dengan harga normal Rp 500 ribu. Kemudian ada diskon 40% sehingga harganya tinggal Rp 300 ribu.


Anda beli sepatu itu, kemudian jual ke teman Anda dengan harga normal. Al-Hasil, anda mendapatkan untung Rp 200 ribu.


Di saham juga berlaku sama. Ada beberapa saham yang dapat dibeli dengan harga murah, bahkan lebih murah daripada harga wajarnya.


Tantangannya adalah, menentukan harga wajar ini. Terdapat banyak sekali caranya. Yang paling umum adalah Price to Book Value (PBV) dan Price to Earning Ratio (PER atau P/E). Namun, bagi yang sudah paham, pasti tahu bahwa kedua metode ini banyak celahnya.


Anda bisa simak ulasan kami tentang value investing di sini:

https://www.facebook.com/100002245830465/posts/3733192590098899/


Lalu mengapa menurut saya metode DCF ini adalah metode terbaik? Simak ulasan kami berikut.


Kita juga bakal ngitung bentar ya. Hitungannya gak terlalu banyak kok, gak sebanyak kalau kamu mau bikin gedung 😂

Inilah yang dinamakan value investing. Kita berinvestasi pada nilai perusahaan, bukan pada harganya

 Tahukah kamu, kalau ada saham yang bisa kamu beli seharga Rp 230, tapi kamu dapet aset bersih sebesar Rp 756?


Perhatian: Tulisan ini cocok buat kalian yang suka panjang-panjang


#IzmulMencariUang


Kalau kata Warren Buffett, keuntungan pada saham itu bukan terjadi pas kita jual, tapi pas beli.


Ketika saya beli saham Panin Financial seharga Rp 240 per lembar, sebetulnya saya telah mendapatkan aset sebesar Rp 756 per lembar saham yang saya beli. 


Dengan kata lain, saya sudah untung 3x lipat lebih. Makanya saya bilang, main saham itu mudah.


Perihal besoknya harga saham mau turun ke Rp 230, yasudah, itu urusan dia dengan pasar. Urusan saya dengan perusahaan hanya satu: saya punya aset bersih Rp 756 per lembar saham yang saya beli. Kalau besok perusahaannya bangkrut atau likuidasi, saya dapat aset segitu.


Inilah yang dinamakan value investing. Kita berinvestasi pada nilai perusahaan, bukan pada harganya.


Darimana saya tahu bahwa nilai perusahaan ini Rp 756 per lembar saham? Dari yang namanya book value.


Cara mengetahui nilai book value ini gampang. Di internet atau aplikasi saham pasti ada. Atau kalau mau hitung sendiri juga bisa, rumusnya aset dikurangi liabilitas (utang, insentif pegawai, sewa, dll), didapatkan lah ekuitas. Setelah itu, ekuitas ini dibagi dengan jumlah saham yang beredar, didapatkanlah book value.


"Tapi masa saya harus nunggu perusahaannya bangkrut dulu baru saya dapet Rp 756 tadi?"


Konsep value Investing itu begini, kita beli saham di bawah harga wajarnya (book value), kemudian suatu saat, harga saham yang sedang di Rp 230 tadi akan terkoreksi dengan sendirinya ke harga wajar tersebut.


Sederhananya begini. Ada toko diskon 30%. Mereka jual sepatu, harga aslinya Rp 1 juta, tapi cuma dijual Rp 700 ribu. Kamu beli, kemudian jual ke temanmu yang goblok dengan harga aslinya. Alhasil, kamu untung Rp 300 ribu.


Hal seperti ini juga berlaku di saham. Makanya, jangan beli saham sembarangan.


Dalam hal saham Panin Financial ini, saya beli di harga Rp 240 dengan harga wajarnya Rp 756. Artinya, saya beli dengan harga diskon hampir 70%.


Saham-saham seperti inilah yang disebut undervalue. Harga pasarnya di bawah harga aslinya.


Dalam investasi, angka 70% ini sering disebut Margin of Safety (MoS). Kalau kata Copper Academy, MoS inilah yang harus dipelajari pertama kali saat anda investasi di saham.


Sabar, tulisannya masih panjang.


Kalau anda bagi harga pasar dengan harga wajar tersebut, yaitu 240/756, akan didapatkan hasil 0,32. Angka ini disebut Price to Book Value (PBV). Artinya, saya membeli saham Panin Financial ini 0,32x lebih murah daripada harga aslinya.


Nilai PBV inilah yang sering dijadikan acuan utama value investor dalam berinvestasi. Ketentuan dasarnya begini:


PBV = 1, harga sedang wajar

PBV < 1, harga sedang murah

PBV > 1, harga sedang mahal


Umumnya, seorang value investor akan membeli saham saat PBV < 1, kemudian jual pas PBV > 1. Atau kalau investornya berani, bakal nungguin sampai PBV > 1,5.


"Tapi om, Unilever PBV nya 40an ke atas. Kok bisa?"


Itulah sebabnya ketentuan dasar di atas harus dipermanis lagi.


Maka ada PBV rata-rata, umumnya diambil 5 tahunan. Selama 5 tahun terakhir, PBV Unilever berkisar antara 40 sampai 60. Artinya, seorang value investor akan membeli saat PBV nya 40an, kemudian jual di 60an.


Menurut pengalaman saya pribadi, nilai PBV ini berkorelasi erat dengan nilai RoE (Return on Equity, laba bersih dibagi ekuitas). Ketentuannya begini:


RoE < 10%, PBV = 1

RoE = 10%, PBV = 1 juga

RoE = 30%, PBV = 3 (boleh interpolasi dengan PBV sebelumnya)

RoE > 30%, PBV nya udah gak ngotak


Contoh, Unilever punya RoE 111%, maka PBV nya +40an. BCA juga punya RoE 32%, PBV nya sekitar 8x.


Karena perusahaan yang menguntungkan (RoE tinggi), maka semakin layak dia dihargai mahal (PBV tinggi juga).


Ah daripada tulisan ini kepanjangan, lebih baik lanjutan tentang PBV ini saya tulis di blog pribadi nanti.


Kemudian bagaimana kalau perusahaan ini sedang lesu? Katakanlah PBV nya rendah, tapi perusahaan ini laba bersihnya kecil, atau bahkan rugi.


Makanya PBV ini harus diiringi dengan menghitung Price to Earning Ratio (PER).


Cara hitungnya juga cukup mudah. Laba bersih dibagi jumlah saham beredar, didapatkanlah Earning per Share (EPS).


Kemudian, harga saham saat ini dibagi dengan EPS, didapatkanlah nilai PER.


Tidak ada ketentuan pasti mengenai PER ini. Saya pribadi biasanya cari saham dengan PER di bawah 10, kemudian jual saat PER di atas 15.


Kekurangan metode ini adalah, dia sangat menggantungkan hidupnya pada laba bersih. Laba bersih ini bisa kapan saja berubah, apalagi pada perusahaan yang sifatnya cyclical, seperti perusahaan tambang.


Misalkan, bisa saja Adaro Energy tahun ini untung triliunan karena harga batubara naik. Tapi ketika harga batu bara turun, maka laba bersih Adaro juga kemungkinan turun drastis, bahkan bisa rugi. Nah, nilai PER sangat sensitif pada hal-hal seperti ini.


Beda dengan PBV, karena dia bergantung pada ekuitas (aset dan utang). Ibaratnya, kalau perusahaan itu punya aset Rp 100 triliun, gak mungkin lah habis dalam setahun doang.


Tapi jangan pernah beli saham yang kedua nilai tersebut negatif. Karena kalau PER negatif, artinya perusahaan itu sedang rugi. Kemudian kalau PBV negatif, artinya perusahaan tersebut memiliki lebih banyak utang daripada aset.


Masih agak panjang tulisannya, sabar ya.


Kemudian karena keterbatasan akuntansi, anda tidak bisa "terima beres" nilai PBV dan PER tersebut.


Koreksi ya bila salah, karena saya tidak mendalami akuntansi.


Contohnya, ketika sebuah perusahaan beli aset berupa tanah, maka yang dicatat pada balance sheetnya adalah harga beli tanah tersebut. Padahal, harga tanah berubah tiap tahun.


Atau ketika perusahaan menemukan cadangan batubara. Yang dicatat sebagai aset adalah biaya eksplorasinya, bukan potensi cadangan terbukti batubara tersebut.


Kemudian misalkan perusahaan punya aset kebanyakan dalam bentuk tak lancar (gedung, mesin, dll). Aset tersebut gak bisa dicairkan hari ini juga, butuh proses, yang proses tersebut mungkin membutuhkan biaya.


Kemudian misalkan, perusahaan tersebut punya branding yang bagus. Katakanlah gojek yang gak punya kendaraan satu pun, tapi valuasinya tetap besar.


Kasus lagi, misalkan perusahaan saat ini laba bersihnya kecil, namun baru dapat kontrak yang besar. Tapi kontrak tersebut belum tercantum di laporan keuangan.


Dan banyak lagi kasus lainnya.


Maka berkembanglah beberapa cara untuk menentukan nilai wajar saham. Seperti Revalued Net Asset Value (RNAV), Enterprise Future Value, Benjamin Graham Formula, dan lain-lain. Semua ini akan saya tulis di blog pribadi biar post ini gak panjang.


Sudah banyak saham "hasil karya" value investing ini. Yang paling waw dan stock of the decade menurut saya adalah kasus INKP (lupa kepanjangannya apa).


2017 lalu orang rame bilang, bisnis kertas akan mati ditelan digitalisasi. Padahal di sisi lain, INKP terus menumbuhkan laba bersih tiap tahunnya.


Dari 2017 ke 2018, harga sahamnya naik dari Rp 1.000 ke Rp 20.000. Artinya, hanya dalam setahun, anda sudah mengalami keuntungan sebesar 2000%. Kalau invest Rp 1 juta, anda akan keluar dengan duit Rp 20 juta.


Banyak kasus yang seperti ini. Hal yang tidak dapat dilakukan bahkan oleh saham yang lagi ngetren sekalipun, ANTM dan BRIS.


Dikit lagi yaa


Kemudian bagaimana dengan dividen?


Ada satu metode value Investing andalan saya, dan sering dipakai oleh manajer reksadana. Namanya Discounted Cash Flow (DCF). Metode ini pertama kali saya kenal pas belajar studi kelayakan investasi jalan tol.


Metode ini didasari pada free cashflow (duit nganggur) perusahaan. Simpelnya begini:


Misalkan, anda beli saham harga Rp 1.000 per lembar. Tahun ini, perusahaan ngasih dividen sebesar Rp 50.


Kemudian anda analisis, selama 20 tahun ke depan, free cashflow mereka akan naik sebesar 10% setiap tahunnya.


Maka anda bisa prediksi, tahun depan dividennya naik kira-kira ke Rp 55, tahun depannya lagi Rp 60,5, dan seterusnya.


Pada tahun ke 20, total dividen yang anda peroleh akan menjadi sekitar Rp 1.431. Kemudian nilai ini "dipresentkan" dengan metode Net Present Value. Bisa anda lihat di blog pribadi saya.


Artinya, anda mendapatkan cashflow sebesar angka tersebut selama 20 tahun, atau 143,1% dari modal anda. Dan akan terus bertambah setiap tahun selama sahamnya belum anda jual.


Tentu, metode DCF ini tidak semua orang bisa pake. Anda harus paham betul kondisi perusahaan dan mampu mengambil investor judgement yang tepat.


Perhitungan lebih detailnya sudah saya tulis di sini ya:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=3955996897818466&id=100002245830465


Tulisan saya ini hanya sebagai gambaran bagaimana cara melakukan value Investing. Tidak semua orang siap nungguin saham sampai 20 tahun.


Namun, kecenderungannya, orang sukses di saham sering menggunakan metode ini. Contoh, bos Djarum, beli saham BCA 20 tahunan lalu seharga "cuma" Rp 4 triliun, sekarang jadi Rp +800 triliun, dengan dividen hampir Rp 3 triliun per tahun.


Banyak lagi nama besar di Indonesia seperti bapak Sandiaga Uno, Hary Tanoe, dan di level internasional ada Warren Buffett, Bill Gates, Jeff Bezos, dan sebagainya.


Udah ya, tangan saya cape. Kalau kangen chat aja.


Jangan lupa join grup kami yaa

https://t.me/sutakananinvestment


Update: sekarang harganya Rp 170an, sedangkan valuenya Rp 818. Harga lebih murah, value lebih tinggi.


Update 2 tahun setelah post ini dibuat:

Sahamnya udah naik 2x lipat

Wednesday, October 18, 2023

Gimana cara dapet kerja online? #IzmulMencariUang

 Gimana cara dapet kerja online?

Alias remote

Alias WFA


🎗️ Long post

#IzmulMencariUang


Ini berdasarkan pengalamanku

1 tahun ngantor

2 tahun hybrid

1 tahun online


Ada 1 skill mutlak yang harus dimiliki: KOMUNIKASI


Jadi gini, banyak perusahaan yang masih wajibin ke kantor karena issue komunikasi. Menurut mereka, lebih gampang koordinasi kalau ketemu langsung. Setuju gak?


Nah sebelum nyari kerja WFA, menurutku skill ini yang paling perlu dilatih


✅ Mudah dihubungi

✅ Rajin konfirmasi & follow-up sesuatu

✅ Pinter menyaring mana kerjaan yang perlu diomongin dulu, atau dikerjain dulu baru diomongin

✅ Hilangin rasa gak enakan

✅ Punya banyak stiker lucu di WA


Gimana cara kita menghadirkan kualitas komunikasi yang sama seperti kalau kerja di kantor


Sama satu lagi, JANGAN GAPTEK


Harus tech savvy, minimal bisa pakai chatGPT. Kalau Ms. Word, Excel, PPT, itu gak usah ditanya lagi yaa


Karena 80% kerjaanmu akan berhubungan sama teknologi


👨🏻‍🎓"Loh 20% nya apa bang?"


Nah ini, lagi-lagi apa? Yak betul


Olahraga dan jaga kesehatan


👨🏻‍🎓"oke bang, balik ke pertanyaan awal, cara dapet kerjanya gimana?"


Entar dulu, sebelum nyari kerja, kita harus sadar kalau gak semua skill bisa dionlinekan


❌ Skill tukang

❌ Skill mager

❌ Skill malu


Itu adalah skill-skill yang BELUM bisa dionlinekan UNTUK SAAT INI


Kecuali kalau kamu tukang terus dibikinkan konten. Itu beda cerita yaa. Konteksnya di sini kerja online yang apply ke perusahaan


Menurut pengamatanku, ini skill high in demand di masa sekarang


- Copywriter

- Editor video

- Storyboard

- Sosmed specialist/strategist/officer

- Programmer

- Data analyst

- Apapun tentang website

- Konsultan finance

- Drafter konstruksi

- Arsitek

- Konsultan struktur gedung

- Asisten virtual

- SEO writer


Jadi kalau kamu belajar skill-skill di atas, kemungkinan dapet kerja onlinenya besar


Ini pengamatanku yaa, kalau ada lagi tambah-tambah aja di komentar


Dan opportunity kerjaan kayak gini tuh gede banget. Aku pernah bandingkan di Jobstreet


✅ Kerja di pabrik: pelamarnya 40-60 ribu

✅ Kerja di start-up as copywriter: pelamarnya hanya 400-600 aja


Beda jauh kan?


👨🏻‍🎓"Oke bang, aku udah belajar skill itu. Terus gimana?"


Kebanyakan perusahaan yang berani WFA adalah start-up


Start-up ini biasanya punya sirkel sendiri. Jarang banget mereka post lowongan di FB, IG, bahkan Jobstreet yang ku pakai perbandingan tadi


Biasanya mereka posting di:

✅ LinkedIn

✅ TikTok

✅ YouTube

✅ Glints

✅ Freelance dulu di Fiverr atau Upwork, entar kerja beneran


Aku sendiri dapet dari YouTube


Sekedar info: 70% lowongan di start-up itu tidak dipublish. Kebanyakan melalui mulut ke mulut, melalui rekomendasi


Jadi cara paling mudah untuk mendapatkan kerja online: bertemanlah sama anak start-up


Jangan heran nanti ngelamarnya cuma disuruh isi google form, terus tiba-tiba dihubungi lewat WA


Kalau pelamarnya gak tau, pasti dikira penipuan


Karena memang kerjanya se-sat-set itu


✅ Gak pakai ngirim surat lamaran kerja

✅ Gak pakai ngirim ijazah

✅ Gak, gak ditanya pengalaman organisasi. Ini dianggap gak ada


👨🏻‍🎓"Duh start-up ya bang. Katanya kerja di sana susah, banyak targetnya ya?"


Iyes. Beban kerja di start-up emang gede. Tapi kerjanya nyantai


Aku beberapa kali harus kerja di bus/kereta/pesawat, kayak di foto


Yang harus kamu ketahui, 8 jam kerja di kantor itu gak sama kayak 8 jam kerja remote


Menurutku, 8 jam kerja di kantor sama dengan 5-6 jam kerja remote. Karena capeknya beda. 


Jujur aja di kantor tuh kebanyakan waktunya gak efektif dan banyak dipakai buat menunggu & ngobrol. 


Beda sama kerja dari rumah, kita rasanya pengen selesaikan kerjaan cepet-cepet. Gak ada yang ditunggu, gak ada yang diajak ngobrol


Ini yang bikin tingkat stressnya juga tinggi. Aku bahkan beli beberapa alat olahraga buat pelampiasan


Makanya kalau ada uang, sebaiknya kita invest ke kenyamanan


✅ Bikin ruangan yang enak dan kedap suara

✅ Beli komputer yang proper

✅ Pakai AC dan sesekali buka jendela biar seger

✅ Beli kursi kerja yang empuk

✅ Beli samsak buat dipukulin pas stress


Aku waktu awal-awal kerja online langsung encok gara-gara gak punya kursi nyaman


👨🏻‍🎓"Ya sebenarnya gapapa sih kerjanya berat, asalkan gajinya sesuai"


Tenang, kebanyakan start-up itu bisa "diporotin" kok soal gaji


Kalau kamu bisa nego, gajinya bisa ngalahin pegawai BUMN bahkan tambang


Apalagi kalau balik ke pembahasan awal: kerja online. Dalam kasusku, aku tinggal di Jogja dengan gaji standar Jakarta


Yes, Indonesian Dream banget kan?


Tapi jangan kebalik. Kantornya di Jogja, tinggalnya di Jakarta


👨🏻‍🎓"Portofolio sama pengalaman kerja penting gak bang?"


PENTING


DI CV TUH HARUS TAROH PALING ATAS


Jangan IPK atau pengalaman organisasi


👨🏻‍🎓"Aku pengen jadi editor video tapi gak punya portofolio, gimana bang?"


Bikin aja video sendiri, terus post di sosmed. Gak usah diambil pusing


👨🏻‍🎓 "Bahasa Inggris penting gak bang?"


Untuk posisi tertentu iya, kayak penulis


Tapi secara umum enggak. Banyak kok temanku yang gak tau arti "salary" padahal tiap bulan nerima


Menurutku bukan bahasa Inggrisnya yang penting, tapi cara kita berkomunikasi dan membawa diri


Misalkan, kalau kamu ditanya, apa itu Bitcoin?


👨🏻‍🎓"Bitcoin adalah sistem blockchain yang..."


Kalau jawabnya begitu, kayaknya kamu lebih cocok jadi PNS deh


Kalau kamu tanya aku, aku bakal jawab begini


✅ "Bitcoin tuh kayak mata uang digital. Terus apa bedanya sama uang kita di bank, Gopay atau Ovo? Pertama mata uangnya beda, terus Bitcoin tuh ada sistem yang sulit banget dibobol. Bahkan kalau rekening bank, gopay, atau ovo-mu dinonaktifkan, uang tadi tuh akan tetap atas namamu dan gak ada yang bisa ambil. Misalkan nih yaa..."


Sekali lagi, komunikasi


👨🏻‍🎓 "Bang bener gak kalau kerja WFA itu, kita bisa gampang ambil kerjaan lain?"


Bener kalau kamu kuat. Tapi memang opportunity buat ambil kerja sampingan itu gede banget


👨🏻‍🎓 "Bang aku bisa nulis nih, tapi skillku rata-rata. Gimana caraku bisa bersaing?"


Bikin skillmu jadi spesifik


Misalkan aku yaa. Aku sekarang kerja sebagai penulis konten medsos edukasi keuangan


Kemampuan nulisku sebenarnya biasa aja


Tapi, aku nulis buat konten medsos

Lebih spesifik, kontennya edukasi keuangan

Lebih spesifik, tentang saham

Lebih spesifik, tentang analisis fundamental


Ada banyak yang lebih jago nulis dari aku


Tapi kalau kamu nyari penulis untuk konten medsos edukasi analisis fundamental saham, gak akan kemana-mana, kamu bakal ketemu aku


Dan kalau kamu nyari orang dengan skill sespesifik itu, artinya kamu serius soal pekerjaan & gaji


Kuncinya: kalau kamu gak bisa jadi si terbaik, jadilah si spesialis


👨🏻‍🎓 "Kalau konteksnya kayak gitu, mending aku tajamin skill nulis atau skill keuangannya?"


Skill keuangannya


👨🏻‍🎓 "Eh tapi bang, ada temenku kerja online gajinya di bawah UMR"


Setiap perusahaan emang punya kebijakannya masing-masing yaa


Kamu harus sadar kebanyakan start-up itu rugi. Bahkan 80-90% start-up tidak berhasil mendapatkan pendanaan apapun setelah seed funding


Start-up yang royal & sistem kerjanya bagus biasanya ada 2


✅ Udah dapet pendanaan minimal seri A (biasanya $1 juta atau Rp15 miliar)

✅ Bootstrap atau start-up yang udah untung


Nah kalau kamu mau kerjaan yang proper, opportunity yang besar di sana


Apalagi kalau posisimu sekarang lagi kerja. Itu para start-up pasti geregetan mau culik kamu


***


Nah ini aja sih dari aku. Kalau dirangkum, gimana caranya dapet kerja online?


✅ Kembangkan skill komunikasi & jangan gaptek

✅ Pelajari skill yang bisa dionlinekan di masa sekarang

✅ Bikin skillmu jadi spesifik

✅ Cari lowongan di platform tertentu, kalau bisa temenan sama anak start-up

✅ Bangun portofolio

✅ Kalau bisa cari perusahaan yang udah proper

✅ Jangan kaget kalau kerjanya sat-set dan banyak target

✅ Beli samsak buat dipukulin kalau lagi enakan

✅ Punya banyak stiker lucu di WA


Kalau ada lagi tambah-tambahin di komentar yaa


Share juga tulisan ini buat dibaca lagi nanti~

Enggak Pernah Cutloss

 Enggak Pernah Cutloss


Perhatian: postingan ini panjang & buat apresiasi diri

#IzmulMencariUang


Kata pepatah:


✅ Cuan dan gak discreenshot itu sama kayak pakai baju baru tengah malam: enggak ada yang lihat!


Karena di luar sana

✅ Banyak yang masih rugi

✅ Banyak juga yang lebih untung, tapi gak tau tahun depan bisa untung lagi apa enggak

✅ Banyak yang untung +1000%, tapi cuma 1% asetnya yang dibelikan saham itu


Aku sendiri penganut value investing. Kalau kamu tau metode ini, pasti tau kenapa aku gak pernah cutloss


Aku ingat pas beli saham PNLF, desember 2020. Ya awalnya banyak diketawain, karena saham ini turun terus.


Kata mereka

➡️ Grup Panin gak pernah bagi dividen koh

➡️ Bisnis asuransi bakal mati, banyak penipuan

➡️ Value trap, aslinya itu perusahaan sampah

➡️ Naik turun saham itu tergantung bandar


Tapi aku kan kepala batu ya, jadi tetap beli 😂


Waktu itu, harga sahamnya cuma Rp240. Tapi, kamu bakalan dapet aset Rp700.


Perihal besok harganya turun ke Rp160, itu urusannya dengan pasar. Urusanku dengan perusahaan hanya satu: asetku di sana senilai Rp700 per lembar saham yang ku miliki


Dan bertambah menjadi Rp800+ tahun depannya, karena perusahaannya untung


Ulasan lengkapku soal Value Investing dan PNLF ada di sini yaa

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=3733192590098899&id=100002245830465


Metode ini juga aku pakai buat saham lain


Aku beli berapa lembar? Wah itu urusan dapurku yaa. Tapi nilainya lebih dari 5% asetku.


PTBA lebih gila lagi, 40% dari aset ahahaa


Tapi investasi paling beraniku justru bukan dari saham PTBA ini, -walau secara nominal paling besar. Investasi terbesarku malah di Suta Kanan Investment yang kami mulai justru TANPA MODAL


✅ Saat aku dan partnerku bikin Suta Kanan, buatku ini bukan hanya soal nambah income, tapi juga ajang membuktikan diri


And I did it. Di gambar adalah beberapa saham yang sempet aku screenshot yang untungnya +100%


Tentu enggak semua saham naik segitu. Ada juga yang naiknya cuma 30%, 20%, atau cuma 10%


Ada juga yang rugi, kayak HMSP. Walau sebenarnya masih untung berkat dividen


Jadi kalau dirata-rata, di aplikasi Ajaib kenaikan asetku sekitar 50% setahun ini


Kalau di aplikasi Mandiri Sekuritas (asetku terbanyak di sini), aku hitung manual dapet sekitar +75%. Terima kasih ke saham-saham batubara dan properti


✅ Yuk coba evaluasi bareng-bareng. Kira-kira setahun ini asetmu udah naik berapa?


Apakah...

✅ Rp1 juta ➡️ Rp1,75 juta

✅ Rp100 juta ➡️ Rp175 juta

✅ Rp100 miliar ➡️ Rp175 miliar


Atau malah rugi?


Soal nominal, jangan bandingin deh, karena kemampuan orang beda-beda. Tugas kita sebagai investor adalah bandingin diri kita hari ini sama kemarin, bukan sama orang lain


Tapi jejak digital dan pandanganku soal saham-saham ini bisa kamu lihat di grup ku

https://t.me/sutakananinvestment


Oke, balik lagi ke PNLF. Udah 1,5 tahun sejak aku beli sahamnya. Apakah worth it buat nunggu selama itu?


Coba kita bandingkan, kalau kita invest 1,5 tahun ke sini:

✅ Tabungan bank ➡️ 1,5%

✅ Deposito ➡️ 7,5%

✅ Obligasi ➡️ 8%

✅ PNLF ➡️ 117%


Tapi percayalah, aset naik segitu banyak bukan karena aku hebat, tapi karena aku beruntung


Panutanku, Warren Buffett secara rata-rata cuma naikkin aset 20% setahun. Siapa aku?


Aku yakin akan ada masanya investasiku juga turun, sehingga rata-rata sekitaran 20% setahun juga.


Beberapa tahun ini, aku memang sering berada di waktu dan tempat yang tepat aja. Enggak ada hebat-hebatnya, biasa aja


Harapannya, semoga performa ini bakal jadi modal awal investasiku ke depan, entah di dunia saham maupun bisnis


Aku enggak mendorong kamu ngikutin metodeku. Karena aku paham enggak semua orang siap nungguin saham bertahun-tahun.


Rugilah di masa-masa awal investasimu, dan temukan sendiri jalanmu. Start small, fail smaller, learn bigger.


Karena beli saham itu gak cuma soal nyari untung, tapi juga soal mengenal diri sendiri


Ngomongin soal rugi, kalau kamu baru mulai investasi 2-3 tahun ini, take your time. Aku sendiri mulai investasi tahun 2015, sampai 2017 tuh masih rugi. Pernah sampai hilang 50% aset karena beli saham gorengan


Take your time. Karena investor sejati enggak hanya cari uang, tapi juga kesabaran