Tahukah kamu, kalau ada saham yang bisa kamu beli seharga Rp 230, tapi kamu dapet aset bersih sebesar Rp 756?
Perhatian: Tulisan ini cocok buat kalian yang suka panjang-panjang
#IzmulMencariUang
Kalau kata Warren Buffett, keuntungan pada saham itu bukan terjadi pas kita jual, tapi pas beli.
Ketika saya beli saham Panin Financial seharga Rp 240 per lembar, sebetulnya saya telah mendapatkan aset sebesar Rp 756 per lembar saham yang saya beli.
Dengan kata lain, saya sudah untung 3x lipat lebih. Makanya saya bilang, main saham itu mudah.
Perihal besoknya harga saham mau turun ke Rp 230, yasudah, itu urusan dia dengan pasar. Urusan saya dengan perusahaan hanya satu: saya punya aset bersih Rp 756 per lembar saham yang saya beli. Kalau besok perusahaannya bangkrut atau likuidasi, saya dapat aset segitu.
Inilah yang dinamakan value investing. Kita berinvestasi pada nilai perusahaan, bukan pada harganya.
Darimana saya tahu bahwa nilai perusahaan ini Rp 756 per lembar saham? Dari yang namanya book value.
Cara mengetahui nilai book value ini gampang. Di internet atau aplikasi saham pasti ada. Atau kalau mau hitung sendiri juga bisa, rumusnya aset dikurangi liabilitas (utang, insentif pegawai, sewa, dll), didapatkan lah ekuitas. Setelah itu, ekuitas ini dibagi dengan jumlah saham yang beredar, didapatkanlah book value.
"Tapi masa saya harus nunggu perusahaannya bangkrut dulu baru saya dapet Rp 756 tadi?"
Konsep value Investing itu begini, kita beli saham di bawah harga wajarnya (book value), kemudian suatu saat, harga saham yang sedang di Rp 230 tadi akan terkoreksi dengan sendirinya ke harga wajar tersebut.
Sederhananya begini. Ada toko diskon 30%. Mereka jual sepatu, harga aslinya Rp 1 juta, tapi cuma dijual Rp 700 ribu. Kamu beli, kemudian jual ke temanmu yang goblok dengan harga aslinya. Alhasil, kamu untung Rp 300 ribu.
Hal seperti ini juga berlaku di saham. Makanya, jangan beli saham sembarangan.
Dalam hal saham Panin Financial ini, saya beli di harga Rp 240 dengan harga wajarnya Rp 756. Artinya, saya beli dengan harga diskon hampir 70%.
Saham-saham seperti inilah yang disebut undervalue. Harga pasarnya di bawah harga aslinya.
Dalam investasi, angka 70% ini sering disebut Margin of Safety (MoS). Kalau kata Copper Academy, MoS inilah yang harus dipelajari pertama kali saat anda investasi di saham.
Sabar, tulisannya masih panjang.
Kalau anda bagi harga pasar dengan harga wajar tersebut, yaitu 240/756, akan didapatkan hasil 0,32. Angka ini disebut Price to Book Value (PBV). Artinya, saya membeli saham Panin Financial ini 0,32x lebih murah daripada harga aslinya.
Nilai PBV inilah yang sering dijadikan acuan utama value investor dalam berinvestasi. Ketentuan dasarnya begini:
PBV = 1, harga sedang wajar
PBV < 1, harga sedang murah
PBV > 1, harga sedang mahal
Umumnya, seorang value investor akan membeli saham saat PBV < 1, kemudian jual pas PBV > 1. Atau kalau investornya berani, bakal nungguin sampai PBV > 1,5.
"Tapi om, Unilever PBV nya 40an ke atas. Kok bisa?"
Itulah sebabnya ketentuan dasar di atas harus dipermanis lagi.
Maka ada PBV rata-rata, umumnya diambil 5 tahunan. Selama 5 tahun terakhir, PBV Unilever berkisar antara 40 sampai 60. Artinya, seorang value investor akan membeli saat PBV nya 40an, kemudian jual di 60an.
Menurut pengalaman saya pribadi, nilai PBV ini berkorelasi erat dengan nilai RoE (Return on Equity, laba bersih dibagi ekuitas). Ketentuannya begini:
RoE < 10%, PBV = 1
RoE = 10%, PBV = 1 juga
RoE = 30%, PBV = 3 (boleh interpolasi dengan PBV sebelumnya)
RoE > 30%, PBV nya udah gak ngotak
Contoh, Unilever punya RoE 111%, maka PBV nya +40an. BCA juga punya RoE 32%, PBV nya sekitar 8x.
Karena perusahaan yang menguntungkan (RoE tinggi), maka semakin layak dia dihargai mahal (PBV tinggi juga).
Ah daripada tulisan ini kepanjangan, lebih baik lanjutan tentang PBV ini saya tulis di blog pribadi nanti.
Kemudian bagaimana kalau perusahaan ini sedang lesu? Katakanlah PBV nya rendah, tapi perusahaan ini laba bersihnya kecil, atau bahkan rugi.
Makanya PBV ini harus diiringi dengan menghitung Price to Earning Ratio (PER).
Cara hitungnya juga cukup mudah. Laba bersih dibagi jumlah saham beredar, didapatkanlah Earning per Share (EPS).
Kemudian, harga saham saat ini dibagi dengan EPS, didapatkanlah nilai PER.
Tidak ada ketentuan pasti mengenai PER ini. Saya pribadi biasanya cari saham dengan PER di bawah 10, kemudian jual saat PER di atas 15.
Kekurangan metode ini adalah, dia sangat menggantungkan hidupnya pada laba bersih. Laba bersih ini bisa kapan saja berubah, apalagi pada perusahaan yang sifatnya cyclical, seperti perusahaan tambang.
Misalkan, bisa saja Adaro Energy tahun ini untung triliunan karena harga batubara naik. Tapi ketika harga batu bara turun, maka laba bersih Adaro juga kemungkinan turun drastis, bahkan bisa rugi. Nah, nilai PER sangat sensitif pada hal-hal seperti ini.
Beda dengan PBV, karena dia bergantung pada ekuitas (aset dan utang). Ibaratnya, kalau perusahaan itu punya aset Rp 100 triliun, gak mungkin lah habis dalam setahun doang.
Tapi jangan pernah beli saham yang kedua nilai tersebut negatif. Karena kalau PER negatif, artinya perusahaan itu sedang rugi. Kemudian kalau PBV negatif, artinya perusahaan tersebut memiliki lebih banyak utang daripada aset.
Masih agak panjang tulisannya, sabar ya.
Kemudian karena keterbatasan akuntansi, anda tidak bisa "terima beres" nilai PBV dan PER tersebut.
Koreksi ya bila salah, karena saya tidak mendalami akuntansi.
Contohnya, ketika sebuah perusahaan beli aset berupa tanah, maka yang dicatat pada balance sheetnya adalah harga beli tanah tersebut. Padahal, harga tanah berubah tiap tahun.
Atau ketika perusahaan menemukan cadangan batubara. Yang dicatat sebagai aset adalah biaya eksplorasinya, bukan potensi cadangan terbukti batubara tersebut.
Kemudian misalkan perusahaan punya aset kebanyakan dalam bentuk tak lancar (gedung, mesin, dll). Aset tersebut gak bisa dicairkan hari ini juga, butuh proses, yang proses tersebut mungkin membutuhkan biaya.
Kemudian misalkan, perusahaan tersebut punya branding yang bagus. Katakanlah gojek yang gak punya kendaraan satu pun, tapi valuasinya tetap besar.
Kasus lagi, misalkan perusahaan saat ini laba bersihnya kecil, namun baru dapat kontrak yang besar. Tapi kontrak tersebut belum tercantum di laporan keuangan.
Dan banyak lagi kasus lainnya.
Maka berkembanglah beberapa cara untuk menentukan nilai wajar saham. Seperti Revalued Net Asset Value (RNAV), Enterprise Future Value, Benjamin Graham Formula, dan lain-lain. Semua ini akan saya tulis di blog pribadi biar post ini gak panjang.
Sudah banyak saham "hasil karya" value investing ini. Yang paling waw dan stock of the decade menurut saya adalah kasus INKP (lupa kepanjangannya apa).
2017 lalu orang rame bilang, bisnis kertas akan mati ditelan digitalisasi. Padahal di sisi lain, INKP terus menumbuhkan laba bersih tiap tahunnya.
Dari 2017 ke 2018, harga sahamnya naik dari Rp 1.000 ke Rp 20.000. Artinya, hanya dalam setahun, anda sudah mengalami keuntungan sebesar 2000%. Kalau invest Rp 1 juta, anda akan keluar dengan duit Rp 20 juta.
Banyak kasus yang seperti ini. Hal yang tidak dapat dilakukan bahkan oleh saham yang lagi ngetren sekalipun, ANTM dan BRIS.
Dikit lagi yaa
Kemudian bagaimana dengan dividen?
Ada satu metode value Investing andalan saya, dan sering dipakai oleh manajer reksadana. Namanya Discounted Cash Flow (DCF). Metode ini pertama kali saya kenal pas belajar studi kelayakan investasi jalan tol.
Metode ini didasari pada free cashflow (duit nganggur) perusahaan. Simpelnya begini:
Misalkan, anda beli saham harga Rp 1.000 per lembar. Tahun ini, perusahaan ngasih dividen sebesar Rp 50.
Kemudian anda analisis, selama 20 tahun ke depan, free cashflow mereka akan naik sebesar 10% setiap tahunnya.
Maka anda bisa prediksi, tahun depan dividennya naik kira-kira ke Rp 55, tahun depannya lagi Rp 60,5, dan seterusnya.
Pada tahun ke 20, total dividen yang anda peroleh akan menjadi sekitar Rp 1.431. Kemudian nilai ini "dipresentkan" dengan metode Net Present Value. Bisa anda lihat di blog pribadi saya.
Artinya, anda mendapatkan cashflow sebesar angka tersebut selama 20 tahun, atau 143,1% dari modal anda. Dan akan terus bertambah setiap tahun selama sahamnya belum anda jual.
Tentu, metode DCF ini tidak semua orang bisa pake. Anda harus paham betul kondisi perusahaan dan mampu mengambil investor judgement yang tepat.
Perhitungan lebih detailnya sudah saya tulis di sini ya:
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=3955996897818466&id=100002245830465
Tulisan saya ini hanya sebagai gambaran bagaimana cara melakukan value Investing. Tidak semua orang siap nungguin saham sampai 20 tahun.
Namun, kecenderungannya, orang sukses di saham sering menggunakan metode ini. Contoh, bos Djarum, beli saham BCA 20 tahunan lalu seharga "cuma" Rp 4 triliun, sekarang jadi Rp +800 triliun, dengan dividen hampir Rp 3 triliun per tahun.
Banyak lagi nama besar di Indonesia seperti bapak Sandiaga Uno, Hary Tanoe, dan di level internasional ada Warren Buffett, Bill Gates, Jeff Bezos, dan sebagainya.
Udah ya, tangan saya cape. Kalau kangen chat aja.
Jangan lupa join grup kami yaa
https://t.me/sutakananinvestment
Update: sekarang harganya Rp 170an, sedangkan valuenya Rp 818. Harga lebih murah, value lebih tinggi.
Update 2 tahun setelah post ini dibuat:
Sahamnya udah naik 2x lipat
No comments:
Post a Comment