Kalau anda beli saham Unilever sekarang, balik modalnya 33 tahun lagi.
Perhatian: tulisan ini panjang
#IzmulMencariUang
Ini lucu, tapi beneran ada. Selama membuka jasa konsultasi keuangan, saya beberapa kali menemukan mindset begini:
Misalkan ada saham, harga Rp 1.000, tapi dia bilang mau beli di harga Rp 1.100. Alasannya, dia kira dengan beli di harga mahal keuntungan yang didapat juga akan banyak. Dia juga bangga beli sesuatu yang mahal.
Inilah alasan kenapa masih ada yang beli kopi Starbucks seharga Rp 50.000 daripada kopi tubruk Rp 3.000. Rasa beda tipis, bahkan sama-sama bikin batu ginjal kalau dikonsumsi banyak.
Tapi dengan beli di harga segitu, dia berkumpul bersama orang yang mampu beli di harga segitu juga. Dia kira, harga selalu menentukan kualitas, meski kopi itu sama-sama datang dari beraknya Luwak.
Ternyata, memang ada ilmunya. Saya pernah ngobrol dengan kakak kelas yang jadi marketing di Nestle. Katanya, walau produknya sama, kadang yang mahal lebih laku.
Ini adalah mindset konsumsi. Tapi jangan dibawa ke investasi. Saya sering menulis tentang mindset investasi di blog pribadi. Silakan baca.
Agar mudah dipahami masyarakat awam, kita bakal meninjau saham Unilever dengan metode Simple Payback Period.
Sederhananya begini, ada bisnis seharga Rp 10 juta, kemudian dia bisa untung bersih setahun Rp 2 juta. Artinya, anda bakal balik modal dalam waktu 5 tahun (10 dibagi 2).
Data seperti inflasi, MARR, growth, nilai sisa, dan lain-lain diabaikan dulu. Biar tulisan ini enggak kepanjangan dan mudah dipahami.
Bayangkan kalau anda beli bisnis itu seharga Rp 20 juta, maka balik modalnya 10 tahun. Bisnisnya jadi semakin tidak menarik, walau harganya mahal. Tapi kalau anda belinya di harga Rp 6 juta, maka balik modalnya hanya 3 tahun, sehingga bisnisnya jadi makin menarik. Di sinilah mindset investasinya, semakin murah semakin bagus.
Lalu, saya sering dapat pertanyaan begini:
"Koh, perusahaan Unilever kan berfundamental bagus, kok harga sahamnya turun terus sejak 2018?"
Kalau analisis fundamentalnya bener, hasil akhirnya bukan perusahaan itu bagus atau enggak, tapi valuasinya.
Unilever itu ibaratnya begini: ada warung, punya aset bersih Rp 10 juta. Dalam setahun, warung tersebut bisa punya untung bersih Rp 14,5 juta. Selama 10 tahun, dia konsisten begitu. Semua orang bakal bilang ini warung bagus.
Terus anda datang ke pemiliknya, bilang "pak/buk, saya mau beli ini warung. Harganya kena berapa?"
Kemudian pemilik warungnya bilang "saya baru berani lepas kalau kena Rp 480 juta."
Dia gak bakal mau jual seharga Rp 10 juta sesuai jumlah aset bersihnya. Karena ini warung bagus, setahun untung sudah melebihi aset. Dia bisa kehilangan mesin uang kalau jual murah.
Anda jadi beli? Kalau saya, tentu tidak. Laba 14,5 juta setahun, berarti saya secara Simple Payback Period baru balik modal 33 tahun lagi.
Ini bisnis yang buruk, walau perusahaannya baik.
Sebagai gambaran, balik modal normal untuk bisnis beda-beda bergantung skala bisnisnya. Kalau skala kecil seperti UMKM, kurang dari 5 tahun biasanya sudah balik modal. Kalau yang besar, biasanya di atas 15 tahun.
Bahkan kalau bisnis baru, misalkan gerobakan jual pisang goreng, balik modalnya bisa kurang dari setahun.
Mungkin, kalau warung itu dijual seharga Rp 145 juta saya masih akan pertimbangkan buat beli. Karena 10 tahun bisa balik modal.
Inilah sebabnya, mindset investasi beda dengan konsumsi. Di investasi, anda harus benar-benar bertanya, harganya berapa?
Di saham Unilever, anda perlu menunggu 33 tahun. Siapa yang mau investasi seperti ini?
Bahkan pernah suatu waktu warung ini dijual di harga Rp 600 juta lebih. Wes angel. Karena gak ada yang mau beli, akhirnya harga turun sampai sekarang menyentuh Rp 480 juta.
Begitulah kondisi saham Unilever sekarang. Makanya harganya turun terus: karena valuasinya kemahalan.
Selain itu, warung ini selama 10 tahun terakhir "gitu-gitu aja." Anda bisa cermati di gambar.
Penjualan Unilever selama 10 tahun terakhir hanya naik sebesar 118%. Beda sama pesaingnya, warung Mayora yang jualan Mie Gelas, naik sebanyak 225%.
Pun aset bersihnya. Selama 10 tahun warung Unilever cuma naik 21,9%. Beda sama warung Mayora yang sudah naik 427%.
Sebagai gambaran, kalau diibaratkan warung, Unilever ini 10 tahun lalu punya aset Rp 8,2 juta. Sekarang, cuma nambah Rp 1,8 juta.
Mengapa hal ini terjadi? Dalam pandangan saya ada dua alasan.
Pertama, seluruh laba bersih yang 14,5 juta itu dipakai buat hidup si pemilik warung. Tidak ada sisa buat nambah aset warung tersebut, seperti nambah kursi, bikin cabang, beli menu baru, dan sebagainya.
Kecuali 2 tahun terakhir, Unilever konsisten alokasi sekitar setengah keuntungannya buat nambah aset.
Kedua, hampir tidak ada pasar baru untuk dipenetrasi.
Kalau anda baca laporan tahunannya, dari paparan manajemen, mereka hanya berinovasi pada produk. Jadi, tiap tahun mereka launching produk baru. Kalau tidak salah 2019 mereka ada 4 produk baru di bidang kosmetik.
Tapi, mereka enggak ekspansi di bidang pasar. Bukan gak mau, tapi kayaknya memang gak bisa.
Ibaratnya, di pedalaman yang belum ada jalan daratnya pun, sabun Lifebuoy menguasai pasar. Jadi, mereka mau jualan di mana lagi?
Unilever ini kan aslinya perusahaan asing yang buka cabang di Indonesia. Mereka susah mau ekspor, karena di negara lain sudah ada cabangnya juga. Contoh, pasar Malaysia, ya dikuasai Unilever Malaysia.
Beda sama perusahaan kayak Sidomuncul, mereka bisa ekspor produk ke manapun. Jadi, peluang penjualannya tumbuh sangat besar.
Itulah sebabnya pada tahun 2019, pertumbuhan penjualan Unilever hanya 2,7%.
Apalagi, hampir semua produk mereka adalah market leader di bidang masing-masing. Ibaratnya, sabun mana yang lebih laku dari Lifebuoy?
Ke depan, sabun ini hanya punya 2 pilihan: bertahan atau diambil pasarnya oleh sabun lain. Sedangkan sabun lain, pilihannya nambah satu: mengambil pasarnya Lifebouy.
Melihat pasar mereka yang terbatas, maka penjualan hanya akan meningkat mengikuti Produk Domestik Bruto yang kisaran 5%. Kalau lebih, artinya hebat.
Apalagi, utang di kuartal 4 2020 meningkat gila. Sepertinya ini utang usaha sih, bukan utang bank atau obligasi.
Tapi kalau anda investasi di P2P Lending, anda pasti tau ada gosip yang beredar. Akhir-akhir ini cukup banyak vendornya Unilever yang gagal bayar utang. Gak usah saya sebutin lah nama-namanya ahahaa.
Inilah sebabnya, selama 10 tahun jualan sabun, saham Unilever hanya naik sebesar 198%. Beda sama yang jualan Mie Gelas, naik sampai 1800%.
It's still a good Investment. Ibaratnya kalau 10 tahun anda taruh duit di deposito bank dengan bunga 5% setahun, hari ini aset anda hanya bertumbuh 62,8%. Belum kena biaya admin.
Karena harga saham Unilever udah kemahalan, akhirnya secara perlahan, dia menuju ke "harga wajarnya."
Harga yang wajar di mana bisnis Unilever itu dihargai.
"Tapi koh, naik turunnya saham kan suka-suka bandar."
Anda kira berapa banyak manajer reksadana dan hedge fund yang beli saham Unilever selama 3 tahun terakhir dan rugi sampai sekarang?
Tiap hari ada asing beli ini saham, pun manajer reksadana dan hedge funding. Apakah harga sahamnya naik? Enggak.
Apalagi, saham-saham model Unilever begini memang tidak diperuntukkan mencari capital gain. Dia dapat untung dari dividennya. Jadi, cocok investasi jangka panjang untuk membentuk pendapatan pasif.
Tapi masalahnya, kalau mau membentuk pendapatan pasif dari Unilever pun berat. Dari dulu, dividen sahamnya segitu-segitu aja. Beda kalau anda membangun pendapatan pasif dari saham BCA, hari ini dapat dividen Rp 500an, 15 tahun lagi bisa jadi Rp 5 ribuan setahun.
Ke depan, dengan kebijakan enggak bagikan dividen banyak-banyak, semoga ekuitas perusahaan bisa naik.
Dan semoga, perusahaan terus berinovasi. Inovasi manusia memang tidak ada batasnya.
Akhir kata, Unilever perusahaan bagus. Sangat bagus. Tapi kalau kemahalan, gak ada yang mau beli juga.
Terus kapan waktu yang cocok buat beli Unilever ini? Saya pribadi di harga sekarang sudah lumayan menarik. Tapi disarankan beli antara Rp 5.500 sampai Rp 6.000.
Tapi ya, kalau mau jujur-jujuran. Paling bagus di harga Rp 2.000 sampai 2.300. Tapi kayaknya berat banget kalau mau sampai harga segini.
Ngerti gak? Kalau gak ngerti, kami buka jasa konsultasi keuangan, termasuk ngasih masukan tentang analisis saham. Murah kok, per jam konsultasi cuma bayar Rp 10.000. Undervalue sekali, bukan?
Kalau cewe, saya punya fitur khusus jelasin pake vn.
Jangan lupa gabung ke grup Telegram:
https://t.me/sutakananinvestment
Selamat berinvestasi!
No comments:
Post a Comment