Thursday, October 19, 2023

Mendapatkan Rp100 juta pertama dengan gaji hanya Rp1,8 juta

 Mendapatkan Rp100 juta pertama dengan gaji hanya Rp1,8 juta


Perhatian: tulisan ini panjang banget


Sebelumnya kita disclaimer dulu, biar gak disangka flexing


✅ Ada banyak orang yang berteman dengan akun ini mencapai Rp100 juta bahkan Rp1 miliar pertama di usia lebih muda dari saya. Jadi kalau saya flexing, malah malu jatuhnya


✅ Tapi bagi sebagian orang, angka segitu luar biasa besarnya dan mungkin masih sekadar angan-angan aja


Dan sebelumnya disclaimer lagi tentang privilege yang saya miliki


✅ Saya orang yang sehat

✅ Hidup berkecukupan, kedua orangtua saya PNS. Anda tahu sendiri PNS itu hidupnya gimana

✅ Mampu sampai kuliah

✅ Rumah dekat sekolah (sebagian teman saya harus merantau buat sekolah setelah SD)

✅ Kebutuhan dasar terpenuhi, termasuk gizi yang baik (walau badan saya termasuk pendek)

✅ Hidup di lingkungan yang baik

✅ Ada tanggungan tapi sedikit

✅ Ganteng


Nah kalau anda punya privilege yang serupa, anda juga harusnya dapat mengumpulkan Rp100 juta. Tapi, take it slow aja, setiap orang punya startnya masing-masing


Tapi kalau privilege kita berbeda, saya harap anda menemukan jalannya sendiri.


Saya percaya, setiap orang punya privilegenya masing-masing. Tapi kadang, kita gak sadar aja.


Sadarnya nanti, pas udah kaya, terus netizen buka-buka latar belakangmu.


Dan, kita juga punya unprivilege masing-masing. Bagi saya, orangtua yang bekerja sebagai PNS bisa jadi sebuah hadiah karena kondisi keuangan yang stabil. Namun, ia juga bisa menjadi unprivilege karena sedari kecil saya tidak pernah diajarkan mindset bisnis maupun investasi.


Beda, dengan orangtua yang sehari-hari jualan di pasar. Walau pekerjaannya kasar, namun ia diberkahi dengan sudut pandang yang jarang dimiliki oleh PNS.


✅ Bagi saya, lompatan besar itu terjadi di tahun 2013 sejak berkenalan dengan pasar modal. Waktu itu saya masih SMA, ada olimpiadenya, ikut, dan Al-hamdulillah juara 1 tingkat provinsi.


Dari sana saya mulai kenal dan senang belajar hal-hal yang terkait pasar modal. Menggunakan privilege yang saya miliki, saya lebih memilih membeli buku-buku pasar modal, bisnis, dan biografi tokoh-tokoh, di saat teman seumuran lebih suka novel dan komik.


Investasi terbaik, kata orang, memang investasi badan ke atas.


Dari sanalah saya belajar, walau kita diberi privilege yang sama, belum tentu apa yang akan kita lakukan dan hasilnya juga akan sama.


2015, saya sudah punya KTP, langsung tuh daftar ke Mandiri Sekuritas buat bikin akun saham. Modal awal cuma Rp100 ribu.


Waktu itu saya masih disupport orangtua, biasanya Rp2 jutaan sebulan. Gak besar, tapi gak kecil juga.


Dengan uang segitu, saya bisa menyisihkan Rp200 ribu setiap bulannya buat investasi.


Itulah cerita pertama saya kenal dengan pasar modal.


✅ Setiap orang tentu punya jatuh bangunnya sendiri


Hingga tahun 2017, uang yang saya tabung seharusnya udah jadi Rp5 jutaan, tapi yang tersisa di kantong cuma setengahnya.


Kok bisa?


Sepanjang 2 tahun pertama berinvestasi, saya tidak memilih saham yang baik. Saya jatuh ke dalam bujuk rayu saham-saham gorengan yang menawarkan keuntungan tinggi.


Buat yang belum tau, saham gorengan itu saham-saham kecil yang mudah banget harganya dimainkan oleh bandar. Memang saham kayak gitu menawarkan keuntungan yang besar, tapi risikonya juga besar.


Saya dulu mikirnya, kalau saya punya modal Rp1 juta aja, dan konsisten untung 1% sehari, 3 tahun uang saya udah tembus Rp2 miliar 


Siapa yang gak mau?


Tapi kalau semudah itu dapet duit, kenapa gak semua orang melakukannya?


Ternyata, memang gak ada gunanya. Butuh 2 tahun bagi saya buat buang jauh-jauh mental penjudi tersebut.


Hilang duit Rp2,5 juta bagi saya dulu luar biasa besar, karena itu udah 50% dari aset yang saya miliki.


Kalau kamu lagi di fase kayak gini, gapapa, jalani aja


"Smart small, fail smaller, learn bigger."


✅ Apakah ada cara cepat buat jadi kaya?


Ada, dan banyak. Tapi semua itu percuma kalau mindsetnya masih orang miskin.


Miskin boleh, asalkan jangan miskin sejak dari dalam pikiran.


Saya kembali buka-buka buku biografi, mulai dari Dahlan Iskan, Jacob Oetama, Elon Musk (yang saat itu belum seterkenal sekarang), Bill Gates, dan guru dari Maha Guru: Warren Buffett.


Apa yang sama dari mereka semua?

Mungkin kita beda-beda ya memaknainya, tapi bagi saya: segala hal haruslah masuk akal.


Membeli saham PT Berau Coal Tbk (BRAU) di tahun 2015 adalah tidak masuk akal. Bagaimana bisa perusahaan merugi tapi sahamnya naik puluhan persen sehari?


Tidak masuk akal, dan inilah saham pertama yang saya beli dulu.


Sekarang, saya ubah mindset. Saya diberi kesempatan membeli PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dengan harga Rp2000


Waktu itu, sektor kertas memang baru bangkit setelah puluhan tahun tertekan. Terima kasih buat yang sering jual-beli online di zaman itu.


Laba yang dihasilkan INKP saat itu Rp1000 per lembar saham. Artinya, saya bisa untung 50% per tahun 


Bayangin aja, saat bunga deposito bank cuma 6%, saya ditawari membeli INKP dengan keuntungan 8x lipatnya.


Sangat masuk akal


Cuma beberapa bulan, sahamnya naik ke Rp5000. Saya untung 150%, modal saya yang hanya Rp2,5 juta itu pun berbalik jadi Rp5,5 juta


Di sini lah titik baliknya.


Kadang biaya terbesar dalam berinvestasi itu bukanlah uangnya, tapi waktu. Butuh 2 tahun agar saya sadar.


Walau saya menyesal, karena INKP tidak lama kemudian tembus Rp20.000. Harusnya aset saya bisa bertambah 10x lipat waktu itu ๐Ÿ˜‚


✅ Warren Buffett, Guru dari Maha Guru investasi, hanya bisa untung 20% per tahun.


Bahkan ketika modalnya masih receh, 20% is the best he can does. Atau sekitar 1-2% per bulan.


Sehebat apa saya hingga pernah merasa bisa mencapai 1-2% per hari?


Take it or leave it, 20% setahun di saham itu udah hebat banget.


Kalau pengen lebih, bukan sahamnya yang dikencengin, tapi top-up nya


Saya akhirnya mulai coba meningkatkan earning power. Untungnya, keterampilan yang saya pelajari waktu kuliah merupakan salah satu high income skill.


Saya mulai bantuin orang-orang bikin gambar rumah, hitung struktur bangunan, dan lain-lain. Lumayan lah buat jajan saham.


Saya juga coba merintis bisnis, mulai dari jualan jus pinggir jalan sampai bikin bimbel online. Semua gagal? Yes. Tapi saya belajar banyak


Mumpung masih muda, cobain semua.


Banyak-banyakin salah, lalu minta ampun pada diri sendiri. Karena pada dasarnya, manusia tiada lain adalah makhluk yang paling membutuhkan ampun.


✅ Gaji pertama Rp1,8 juta


Waktu itu tahun 2019, dapet kenalan di lokasi KKN. Beliau salah satu kontraktor kecil di Klaten, dan ngajak kerja bareng.


Jadi pas KKN itu genrenya gak ada cinta-cintaannya gaes, apalagi horor kayak cerita KKN desa Ponari itu


Itulah pekerjaan pertama saya. Angka segitu termasuk wajar soalnya belum lulus kuliah


156 jam per bulan. Artinya, saya dibayar sekitar Rp11.500 per jam


Saat itu saya belum punya kendaraan. Karena kalau saya beli motor Rp15 juta, itu setara dengan 1305 jam kerja


Baju branded itu bukan Rp5 juta, tapi 434 jam kerja


Makan-makan manis di cafe itu bukan Rp1 juta, tapi 87 jam kerja


Dan saya sadar, semakin keras bekerja, semakin banyak pajak yang harus dibayarkan.


Jadi, sejak 2019, sebenarnya saya tetap disupport orangtua, tapi dengan adanya tambahan income, hampir seluruhnya saya investasikan ke saham.


Terutama saham yang dividennya baik, minimal 5% dari modal yang kita keluarkan.


Jadi misalkan, kalau saya investasi Rp10 juta, maka dalam setahun dividennya harus Rp500 ribu.


Saya maunya gak ngapa-ngapain, tapi tetap ada pemasukan. Biar makan-makan cantik yang Rp1 juta tadi tidak dihitung 87 jam kerja lagi.


Saya gak mau kerja terus, dan kalaupun saya kerja, kemampuan saya terbatas. Di sisi lain, uang tiada lain adalah pekerja terbaik, ia bekerja 24/7 hanya untuk pemiliknya.


Semakin dewasa, hendaknya kita makin tau batasan.


✅ Tips minta naik gaji


Tentu, gaji saya sekarang bukan Rp1,8 juta lagi. Judul di atas cuma clickbait ๐Ÿ˜‚


Angkanya saya rahasiakan. Tapi saya mau sekalian share deh gimana caranya naik gaji. Biar top-up sahammu lebih kenceng.


Anda jangan tiba-tiba dateng ke atasan terus minta naik gaji. Itu goblok. Apalagi kalau kerjaanmu sengaja diburuk-burukin.


Kalau perusahaan mau PHK orang, bisa-bisa kamu malah jadi yang pertama.


Mending gini:


Pertama, tunjukin kalau anda itu rajin. 2 bulan aja cukup.


Yang kedua, datang ke atasan anda, lalu tanya, "pak/buk, kerjaan saya sudah selesai. Kira-kira ada tanggungjawab lain gak yang bisa saya kerjakan?"


Waktu itu, pas nanya gini, saya langsung diarahkan buat bantu proyek lain yang lagi dikerjain perusahaan.


Ketiga, udah sebulan. Minta deh penyesuaian gaji.


Kalau gak dikasih, jadi kutu loncat aja ๐Ÿ‘€


✅ Walau pendapatan bertambah, gaya hidup jangan ikutan nambah


Selama 3 tahun lebih kerja, pendapatan saya udah nambah berkali-kali lipat dari awalnya cuma Rp1,8 juta.


Tapi, gaya hidup saya cuma nambah dari Rp2 juta ke Rp3 juta sebulan. Itupun kadang kelebihan


Kuncinya hidup sesuai kebutuhan kita aja. Saya sendiri gak pernah beli hp di atas Rp1,6 juta karena merasa gak terlalu butuh.


Bahkan saya sampai sekarang gak punya kendaraan. Saya sadar, saya jarang ke luar. Kalau punya kendaraan, saya harus keluar uang buat beli bensin, servis, pajak, parkir, duh lah pusing teuing.


Walau secara finansial sebenarnya mampu. Tapi untuk sekarang, saya merasa lebih hemat dan nyaman naik gojek aja. 


Gak perlu mikirin tempat parkir.


Lagian, orang kaya kok beli mobil. Orang kaya tuh beli pabrik ๐Ÿ‘€


Kalau sekedar punya mobil, buruh sawit pun sekarang pada punya.


Tapi kita semua punya dosa masing-masing. Dosa saya sendiri adalah setiap makan beli, bukan masak. Andai saya masak sendiri, pasti akan jauh lebih hemat.


Tapi gapapa deh, sekalian mensejahterakan UMKM di sekitar sini. Toh selama kita mampu, belilah, karena membeli adalah cara bersedekah paling terhormat.


✅ Rp100 juta pertama adalah yang tersulit


Saya sebenarnya cukup beruntung karena bisa mencapai angka ini di usia muda


Kalau dihitung, selama 7 tahun masa investasi, saya menghasilkan sekitar 40% setiap tahun. Terima kasih ke saham-saham seperti INKP, PTBA, WEGE, BRIS, ANTM, hingga SMKL. Semua saham tersebut adalah yang memberikan keuntungan besar buat saya.


Angka tersebut anggap aja beruntung. Karena guru saya pun, Warren Buffett hanya menghasilkan 20%. Mungkin akan ada masa, di mana saham-saham saya hancur-hancuran, sehingga imbal hasil yang saya miliki kalau dirata-ratakan sama atau kurang dari beliau.


Karena di bursa saham, ada lebih banyak hal yang kita tidak tahu, daripada yang kita tahu. Maka saya lebih memilih fokus pada hal yang saya tahu saja.


Rumus investasi saya sederhana: 75% saham, 25% reksadana obligasi.


Reksadana obligasi adalah salah satu investasi yang paling aman. Jadi andai saya kehilangan seluruh saham yang dimiliki, saya masih punya 25% aset


Karena saya sadar, suatu saat, akan ada masa di mana kinerja saham-saham saya memburuk. Saya harus mempersiapkan segala risikonya.


Saya selalu percaya untuk mengukur kekayaan bukan dari uang, tapi dari waktu. Ibaratnya kalau kamu hari ini amit-amit kena PHK, berapa lama kamu bisa survive?


Bagi saya, 25% dari reksadana obligasi tadi sudah cukup lama. Karena biaya hidup saya cuma Rp3 juta per bulan.


Jadi, walau uangmu lebih banyak, tapi jika biaya hidupmu besar, bisa jadi kamu sebenarnya tidak lebih kaya daripada saya ini.


Selain itu, saya juga mulai berinvestasi pada bisnis-bisnis riil. Kapan-kapan kita bahas deh.


Rp100 juta pertama memang yang paling sulit. Bagi saya, butuh bertahun-tahun buat mencapai angka segitu. Tapi, dengan imbal hasil 40% setahun, cukup 2 tahun buat menggandakannya menjadi Rp200 juta. Saya udah merasakannya sendiri.


Sekarang saya sedang dalam perjalanan menuju Rp1 miliar pertama. Sebenarnya angka ini udah saya capai sih, andai Suta Kanan dijual ๐Ÿ˜‚


Buat kamu yang lagi berjuang mencapai Rp100 juta pertama, take it easy ya. Hidup bukan balap-balapan


Kalau mau balapan, belilah Tamiya, bukan saham


Begitulah cara saya mengumpulkan tiga digit pertama dengan segala privilege saya miliki.


Kalau kamu ngerasa gak punya privilege, sebagaimana kata admin salah satu grup Facebook, bertemanlah dengan orang lain, niscaya privilege yang mereka miliki bisa ikut kamu rasakan juga.


Buat kamu yang lagi cari temen buat belajar saham, gabung ke grup kami aja


t.me/sutakananinvestment


Pada dasarnya, mengumpulkan Rp100 juta pertama bukan hanya mengumpulkan uang, melainkan juga proses belajar yang panjang.


Mulai dari belajar kerja yang bener, belajar kerja dengan pinter, hingga belajar buat berdamai dengan diri sendiri.


Kalau kita gak melewati fase ini dalam mengumpulkan Rp100 juta pertama, bisa jadi kita bakalan melewatinya pas ngumpulin Rp1 miliar pertama atau lebih. Dan sekali kita gagal, jatuhnya akan lebih sakit.


Dan sekali lagi, start setiap orang beda-beda. Bisa jadi anda memulai dari punya utang, punya tanggungan, atau gemericing piring makan malam saya terdengar saat anda kelaparan


Gak usah bandingkan dirimu dengan orang lain, gak ada habisnya. Tugas kita dalam berinvestasi bukan membandingkan diri dengan orang lain, tapi dengan diri kita kemarin.


Saya harap, kita semua menemukan jalan dan mendapatkan ampun.


✅ Tentu setiap hal punya pengecualian


Orangtua yang berkecukupan seperti yang saya punya memang sering melahirkan anak yang juga kaya


Tapi tidak jarang lho, orangtua kaya melahirkan generasi pemalas yang justru menghabiskan kekayaannya


Dan tidak jarang juga ada orangtua miskin yang melahirkan generasi terhormat dan mulia. 


Karena pemikirannya, kaya ✅

No comments:

Post a Comment