Apa yang ada di saham dan tidak ada di Bitcoin maupun emas?
Namanya dividen.
Perhatian: tulisan ini panjang.
Dividen ini adalah pembagian keuntungan oleh perusahaan ke pemegang saham.
Secara umum, keuntungan yang didapatkan dari membeli saham ada 2. Yang pertama capital gain, misalkan anda beli saham harga Rp 2.000, kemudian jual Rp 2.500, maka anda mendapatkan capital gain sebesar Rp 500. Lumayan.
Yang kedua, dividen. Inilah yang akan kami tulis panjang lebar.
Sama seperti ada teman anda punya warung makan, lalu anda berinvestasi di sana, kemudian untungnya dibagi hasilkan. Di saham juga begitu, hanya saja saham yang di Bursa Efek Indonesia (BEI) dividennya lebih baku, kaku, dan teratur.
Secara umum, dividen dibagi 2. Pertama dividen final, atau umumnya disebut dividen biasa. Yang kedua ada namanya dividen interim, atau umumnya disebut dividen tambahan.
Selanjutnya dividen itu dibagi-bagi lagi. Ada perusahaan yang ngasih uang tunai sebagai dividen, ada pula yang ngasih dalam bentuk waran, ada juga saham tambahan, dan sebagainya.
Namun umumnya dividen yang diberikan adalah dalam bentuk uang tunai.
Sebanyak apa anda akan mendapatkan dividen? Sebanyak jumlah lembar saham yang anda miliki. Semisal, ada perusahaan yang mau bagikan Rp 300/lembar saham, kemudian anda memiliki 1 lot (100 lembar) saham. Maka uang tunai yang akan anda dapatkan adalah 300x100 = Rp 30.000.
Hebatnya, sejak disahkan UU Omnibus Law, dividen adalah penghasilan yang tidak dikenai pajak penghasilan. Sebelumnya, dividen ini dikenai pajak 10%. Cukup besar untuk investasi saham. Akan dibahas lain waktu mengapa pajak ini dihapuskan.
Bagaimana caranya mendapatkan dividen ini?
Pertama dan paling utama, berinvestasilah pada perusahaan yang menghasilkan laba bersih.
Sekali lagi, dividen adalah pembagian keuntungan dari perusahaan ke pemegang sahamnya. Lalu bagaimana kalau perusahaannya tidak untung? Maka mereka tidak akan membagikan dividen sama sekali.
Dividen biasa, dibagikan berdasarkan laba bersih tahun lalu. Jadi misalkan, dividen akan dibagikan tahun 2020 ini, artinya dividen yang anda peroleh sebenarnya dari hasil keuntungan tahun 2019.
Sedangkan dividen interim biasanya berdasarkan laba bersih tahun berjalan. Misalkan dia membagikannya pada tahun 2020, maka dividen tersebut sebenarnya juga dari keuntungan tahun 2020 yang berlebih. Biasanya berdasarkan kuartal. Jadi kalau dibagikan pada kuartal ketiga, maka itu sebenarnya keuntungan dari kuartal kedua.
Maka cermatilah laba bersih yang dimiliki perusahaan tersebut, lewat laporan keuangannya. Atau paling mudah, amati lewat berita. Karena sekali perusahaan tersebut menjual saham di BEI, laporan keuangannya menjadi konsumsi publik.
Tapi tidak semua perusahaan yang menghasilkan laba bersih akan membagikan dividen. Karena mungkin saja seluruh atau sebagian laba tersebut dipakai sebagai modal kerja tahun berikutnya. Entah untuk keperluan ekspansi perusahaan, maupun hal lain seperti bayar utang.
Maka ada namanya Dividend Payout Ratio (DPR), yaitu rasio antara dividen yang dibagikan dengan laba bersih. Misalkan, laba bersih perusahaan Rp 10 T, sedangkan dividen yang dibagikan adalah Rp 2 T, maka nilai DPR-nya adalah 20%.
Saya merekomendasikan investasi pada perusahaan dengan nilai DPR 10% hingga 60%. Karena kalau nilai ini terlalu kecil, artinya keuangan perusahaan sedang bermasalah. Sedangkan kalau nilainya terlalu besar, artinya perusahaannya tidak berekspansi.
Selain DPR, ada nilai yang perlu anda perhatikan seperti ROA, ROE, NPM, EPS, dan sebagainya. Namun nilai-nilai ini dan pengaruhnya terhadap dividen akan ditulis di lain waktu. Intinya: semakin baik nilainya, semakin besar dividennya.
Umumnya dividen final dibagikan sekali dalam setahun. Namun, kalau keuntungan perusahaannya banyak, bisa jadi dia akan membagikan dividen tambahan. Tahun ini ada nama-nama seperti Unilever dan Kalbe Farma yang membagikan dividen tambahan.
Langkah kedua, perhatikan jadwal Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Para pemegang saham, walau sesedikit apapun saham yang dimilikinya, biasanya akan diundang pada acara RUPS ini.
Namun kadang, ada juga perusahaan yang ngasih batasan, misalkan investor dengan kepemilikan minimal 0,1% saja yang boleh menghadiri RUPS. Tapi ini jarang terjadi.
Bila diundang, anda tidak wajib hadir. Namun kalau memungkinkan, saya sarankan hadir saja, karena biasanya ada merchandise. Lumayan dapat kaos gratis.
RUPS ini dibagi 2, ada yang tahunan (RUPST), ada pula yang luar biasa (RUPSLB), walau sebenarnya RUPSLB gak luar-luar biasa banget.
Pada RUPS inilah diputuskan beberapa hal, misalkan pergantian komisaris dan direksi, penyetujuan laporan keuangan, aksi korporasi, hingga ada pembagian dividen atau tidak serta jumlahnya berapa.
Biasanya, bagi perusahaan yang kinerjanya positif, harga sahamnya akan naik menjelang RUPS. Anda boleh mulai beli di waktu ini.
Kemudian, apabila diputuskan perusahaan tersebut akan membagikan dividen, akan ada 4 tanggal penting yang harus anda pantau.
1. Cum-date
2. Ex-date
3. Reporting date
4. Payment date
Cum-date adalah hari terakhir pembelian saham agar dapat dividen. Sebagai contoh, Kalbe Farma (KLBF) yang saya lampirkan gambarnya ini memiliki cum-date 3 desember kemarin. Bila beli lewat dari ini, misalkan tanggal 4, maka anda tidak akan mendapatkan dividen.
Kemudian ex-date, yaitu hari pertama saham tersebut boleh dijual, dan anda tetap mendapatkan dividen. Misalkan untuk KLBF, ex-datenya 4 desember kemarin. Bila sahamnya jual sebelum tanggal ini, maka tidak akan mendapatkan dividen.
Sederhananya begini, sahamnya cukup anda pegang selama 1 hari, yaitu dari tanggal 3 hingga tanggal 4, maka anda akan mendapatkan dividen. Cukup mudah 'kan?
Kemudian reporting date adalah tanggal pengumuman siapa saja yang mendapatkan dividen tersebut, dan seberapa besar. Biasanya anda akan dikirimi email.
Kemudian payment date adalah tanggal pembayaran dividen tersebut. Biasanya langsung masuk ke rekening saham anda. Kadang pagi, sore, atau bahkan besoknya. Tergantung sekuritas apa yang anda pakai.
Begitulah caranya mendapatkan dividen. Namun, ada beberapa trik sebelum anda memutuskan untuk berburu dividen ini. Caranya sebagai berikut.
Pertama, sangat disarankan membelil saham sebelum RUPS. Lebih cepat lebih baik. Karena biasanya, harga saham akan terus naik hingga cum-date. Karena orang terus beli sehingga harganya naik.
Jadi kalau anda beli sahamnya di harga rendah, anda akan menikmati capital gain + dividen dari saham tersebut.
Hal kedua yang perlu anda perhatikan adalah jumlah dividen yang diberikan. Semisalkan, dalam kasus saham KLBF ini, dividen yang diberikan adalah Rp 6/lembar saham. Sangat kecil, tapi lumayan.
Selanjutnya, dividen tersebut dibagi dengan harga saham yang anda beli, kemudian dikali 100%. Contoh, saya membeli di harga Rp 1.490, maka 6 dibagi 1.490 dikali 100% sama dengan 0,4%.
0,4% tersebut dinamakan dividend yield. Angka ini yang paling penting dalam berburu dividen.
Kemudian anda akumulasikan dengan capital gain yang didapat. Misalkan saham anda naik 1%, kemudian dividen 0,4%, maka keuntungan anda adalah 1,4%.
Kalau harga saham turun, misalkan 0,3%, namun dapat dividen 0,4%, maka anda masih untung 0,1%.
Begitu seterusnya.
Mengapa dividend yield sangat penting? Karena pada saat ex-date, harga saham biasanya turun.
Pada tanggal ini, orang sudah boleh jual sahamnya dan tetap mendapatkan dividen. Sehingga biasanya, pada tanggal ini, harga saham turun.
Jangan sampai, penurunan harga ini lebih besar daripada dividend yield yang anda dapat. Misalkan, dividend yield cuma 0,4%, namun penurunan sahamnya sampai 1,68%, seperti pada gambar. Maka sebenarnya saya rugi 1,28%.
Bayangkan, saya beli saham Rp. 4.47 juta. Dividennya hanya Rp 6/lembar. Kalau dihitung, saya dapat dividen sebesar Rp. 18.000, sedangkan harga sahamnya turun hingga rugi Rp. 75.000.
Inilah yang disebut dividend trap. Anda dapat dividend, tapi malah rugi.
Dalam kasus ini, saya beli sahamnya H-2 cum-date. Entah kerasukan apa waktu itu.
Makanya sangat disarankan belinya di jauh-jauh hari, dan perhitungkan dengan matang.
Bahkan kadang, ada yang beli saham jauh-jauh hari, kemudian saat cum-date malah dijual, sehingga tidak dapat dividen. Namun, dia mendapatkan capital gain, karena harga saham yang naik.
Kecenderungannya memang begitu, cum-date harga naik, ex-date harga turun. Tapi ini tidak mutlak.
Kadang terjadi sebaliknya, misalkan kayak KLBF ini cum-date harga malah turun, sedangkan ex-date malah naik, meski naiknya tidak menutup penurunannya kemarin. Hal ini dikarenakan banyak faktor, salah satunya karena saham dengan kode DMAS mengalami penurunan mengerikan saat ex-datenya tanggal 3 desember, sehingga orang takut masuk ke KLBF dan cenderung jual pada tanggal yang sama.
Selain itu ada faktor lain, seperti kondisi ekonomi, dan harga saham di pasar tunai. Contoh, saham PGAS pas cum-date naik, pas ex-date malah makin naik.
Tentang pasar tunai akan kami tulis lain waktu.
Makanya kalau mau investasi dengan cara dividend oriented, sangat berbahaya beli di cum-date kemudian jual di ex-date. Perlu perhitungan yang teliti.
Bila ingin dividend oriented, lebih baik sahamnya dibenar-benar dipegang dalam waktu lama. Seperti yang saya lakukan pada saham Bukit Asam (PTBA)
Beli di harga Rp 2100 pada tahun 2017, saya pegang hingga sekarang. Dividend yield 13% tiap tahun sudah saya dapatkan 3x. Artinya keuntungan saya sudah sekitar 39%. Harga saham sekarang sudah hampir 2500, atau capital gain 17%. Artinya saya sudah untung sekitar 58%.
Di deposito, keuntungan seperti ini baru bisa anda dapat setelah 11 tahun investasi. Saya hanya cukup 3 tahun di saham.
Bahkan dia pernah mencapai harga hampir Rp 5.000. Artinya keuntungan saya harusnya hampir 300% bila saya pinteran dikit.
Namun, saya berencana untuk menjual saham PTBA ini dengan target harga Rp 3.000 dalam waktu dekat. Karena dividen yang dibagikan biasanya hanya dividen final, yang berasal dari keuntungan tahun lalu. Sehingga di tahun 2021, saya ragu perusahaan ini akan memberikan dividen yang besar, mengingat 2020 adalah tahun yang buruk. Kalau saya hitung, keuntungan totalnya bakal mencapai angka +94%.
Namun, namanya manusia, kadang salah wajar. Di KLBF ini saya malah rugi karena mengejar kenikmatan instan dari dividen.
Sebenarnya kalau saya biarkan sahamnya sebulanan, mungkin bakalan dapat capital gain yang cukup, karena ada kemungkinan sahamnya naik. Namun, saya baru mendapat kabar dari rekan yang kerja di Kalbe Nutrisi, bahwa sales Kalbe Farma sudah menurun bahkan sebelum Corona. Itulah sebabnya ketika hype vaksin, sahamnya tidak terlalu naik sebagaimana saham farmasi lain. Walau laporan keuangannya masih positif.
Akhirnya, saya cutloss dalam keadaan rugi.
Saya tidak seperti investor yang jualan seminar dan grup-grup premium itu ya. Yang kalau rugi diem, kalau untung ngocehnya udah kayak the next Warren Buffett. Saya untung atau rugi pun tetap ngoceh seperti ini hahaa.
Tapi kalau rugi terus, mungkin saya juga akan beralih profesi jadi jualan seminar, biar ruginya nutup hahaa.