Tuesday, November 7, 2023

Apa yang ada di saham dan tidak ada di Bitcoin maupun emas?

 Apa yang ada di saham dan tidak ada di Bitcoin maupun emas?


Namanya dividen.


Perhatian: tulisan ini panjang.


Dividen ini adalah pembagian keuntungan oleh perusahaan ke pemegang saham.


Secara umum, keuntungan yang didapatkan dari membeli saham ada 2. Yang pertama capital gain, misalkan anda beli saham harga Rp 2.000, kemudian jual Rp 2.500, maka anda mendapatkan capital gain sebesar Rp 500. Lumayan.


Yang kedua, dividen. Inilah yang akan kami tulis panjang lebar.


Sama seperti ada teman anda punya warung makan, lalu anda berinvestasi di sana, kemudian untungnya dibagi hasilkan. Di saham juga begitu, hanya saja saham yang di Bursa Efek Indonesia (BEI) dividennya lebih baku, kaku, dan teratur.


Secara umum, dividen dibagi 2. Pertama dividen final, atau umumnya disebut dividen biasa. Yang kedua ada namanya dividen interim, atau umumnya disebut dividen tambahan.


Selanjutnya dividen itu dibagi-bagi lagi. Ada perusahaan yang ngasih uang tunai sebagai dividen, ada pula yang ngasih dalam bentuk waran, ada juga saham tambahan, dan sebagainya.


Namun umumnya dividen yang diberikan adalah dalam bentuk uang tunai.


Sebanyak apa anda akan mendapatkan dividen? Sebanyak jumlah lembar saham yang anda miliki. Semisal, ada perusahaan yang mau bagikan Rp 300/lembar saham, kemudian anda memiliki 1 lot (100 lembar) saham. Maka uang tunai yang akan anda dapatkan adalah 300x100 = Rp 30.000.


Hebatnya, sejak disahkan UU Omnibus Law, dividen adalah penghasilan yang tidak dikenai pajak penghasilan. Sebelumnya, dividen ini dikenai pajak 10%. Cukup besar untuk investasi saham. Akan dibahas lain waktu mengapa pajak ini dihapuskan.


Bagaimana caranya mendapatkan dividen ini?


Pertama dan paling utama, berinvestasilah pada perusahaan yang menghasilkan laba bersih.


Sekali lagi, dividen adalah pembagian keuntungan dari perusahaan ke pemegang sahamnya. Lalu bagaimana kalau perusahaannya tidak untung? Maka mereka tidak akan membagikan dividen sama sekali.


Dividen biasa, dibagikan berdasarkan laba bersih tahun lalu. Jadi misalkan, dividen akan dibagikan tahun 2020 ini, artinya dividen yang anda peroleh sebenarnya dari hasil keuntungan tahun 2019.


Sedangkan dividen interim biasanya berdasarkan laba bersih tahun berjalan. Misalkan dia membagikannya pada tahun 2020, maka dividen tersebut sebenarnya juga dari keuntungan tahun 2020 yang berlebih. Biasanya berdasarkan kuartal. Jadi kalau dibagikan pada kuartal ketiga, maka itu sebenarnya keuntungan dari kuartal kedua.


Maka cermatilah laba bersih yang dimiliki perusahaan tersebut, lewat laporan keuangannya. Atau paling mudah, amati lewat berita. Karena sekali perusahaan tersebut menjual saham di BEI, laporan keuangannya menjadi konsumsi publik.


Tapi tidak semua perusahaan yang menghasilkan laba bersih akan membagikan dividen. Karena mungkin saja seluruh atau sebagian laba tersebut dipakai sebagai modal kerja tahun berikutnya. Entah untuk keperluan ekspansi perusahaan, maupun hal lain seperti bayar utang.


Maka ada namanya Dividend Payout Ratio (DPR), yaitu rasio antara dividen yang dibagikan dengan laba bersih. Misalkan, laba bersih perusahaan Rp 10 T, sedangkan dividen yang dibagikan adalah Rp 2 T, maka nilai DPR-nya adalah 20%.


Saya merekomendasikan investasi pada perusahaan dengan nilai DPR 10% hingga 60%. Karena kalau nilai ini terlalu kecil, artinya keuangan perusahaan sedang bermasalah. Sedangkan kalau nilainya terlalu besar, artinya perusahaannya tidak berekspansi.


Selain DPR, ada nilai yang perlu anda perhatikan seperti ROA, ROE, NPM, EPS, dan sebagainya. Namun nilai-nilai ini dan pengaruhnya terhadap dividen akan ditulis di lain waktu. Intinya: semakin baik nilainya, semakin besar dividennya.


Umumnya dividen final dibagikan sekali dalam setahun. Namun, kalau keuntungan perusahaannya banyak, bisa jadi dia akan membagikan dividen tambahan. Tahun ini ada nama-nama seperti Unilever dan Kalbe Farma yang membagikan dividen tambahan.


Langkah kedua, perhatikan jadwal Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Para pemegang saham, walau sesedikit apapun saham yang dimilikinya, biasanya akan diundang pada acara RUPS ini.


Namun kadang, ada juga perusahaan yang ngasih batasan, misalkan investor dengan kepemilikan minimal 0,1% saja yang boleh menghadiri RUPS. Tapi ini jarang terjadi.


Bila diundang, anda tidak wajib hadir. Namun kalau memungkinkan, saya sarankan hadir saja, karena biasanya ada merchandise. Lumayan dapat kaos gratis.


RUPS ini dibagi 2, ada yang tahunan (RUPST), ada pula yang luar biasa (RUPSLB), walau sebenarnya RUPSLB gak luar-luar biasa banget.


Pada RUPS inilah diputuskan beberapa hal, misalkan pergantian komisaris dan direksi, penyetujuan laporan keuangan, aksi korporasi, hingga ada pembagian dividen atau tidak serta jumlahnya berapa.


Biasanya, bagi perusahaan yang kinerjanya positif, harga sahamnya akan naik menjelang RUPS. Anda boleh mulai beli di waktu ini.


Kemudian, apabila diputuskan perusahaan tersebut akan membagikan dividen, akan ada 4 tanggal penting yang harus anda pantau.

1. Cum-date

2. Ex-date

3. Reporting date

4. Payment date


Cum-date adalah hari terakhir pembelian saham agar dapat dividen. Sebagai contoh, Kalbe Farma (KLBF) yang saya lampirkan gambarnya ini memiliki cum-date 3 desember kemarin. Bila beli lewat dari ini, misalkan tanggal 4, maka anda tidak akan mendapatkan dividen.


Kemudian ex-date, yaitu hari pertama saham tersebut boleh dijual, dan anda tetap mendapatkan dividen. Misalkan untuk KLBF, ex-datenya 4 desember kemarin. Bila sahamnya jual sebelum tanggal ini, maka tidak akan mendapatkan dividen.


Sederhananya begini, sahamnya cukup anda pegang selama 1 hari, yaitu dari tanggal 3 hingga tanggal 4, maka anda akan mendapatkan dividen. Cukup mudah 'kan?


Kemudian reporting date adalah tanggal pengumuman siapa saja yang mendapatkan dividen tersebut, dan seberapa besar. Biasanya anda akan dikirimi email.


Kemudian payment date adalah tanggal pembayaran dividen tersebut. Biasanya langsung masuk ke rekening saham anda. Kadang pagi, sore, atau bahkan besoknya. Tergantung sekuritas apa yang anda pakai.


Begitulah caranya mendapatkan dividen. Namun, ada beberapa trik sebelum anda memutuskan untuk berburu dividen ini. Caranya sebagai berikut.


Pertama, sangat disarankan membelil saham sebelum RUPS. Lebih cepat lebih baik. Karena biasanya, harga saham akan terus naik hingga cum-date. Karena orang terus beli sehingga harganya naik.


Jadi kalau anda beli sahamnya di harga rendah, anda akan menikmati capital gain + dividen dari saham tersebut.


Hal kedua yang perlu anda perhatikan adalah jumlah dividen yang diberikan. Semisalkan, dalam kasus saham KLBF ini, dividen yang diberikan adalah Rp 6/lembar saham. Sangat kecil, tapi lumayan.


Selanjutnya, dividen tersebut dibagi dengan harga saham yang anda beli, kemudian dikali 100%. Contoh, saya membeli di harga Rp 1.490, maka 6 dibagi 1.490 dikali 100% sama dengan 0,4%.


0,4% tersebut dinamakan dividend yield. Angka ini yang paling penting dalam berburu dividen.


Kemudian anda akumulasikan dengan capital gain yang didapat. Misalkan saham anda naik 1%, kemudian dividen 0,4%, maka keuntungan anda adalah 1,4%.


Kalau harga saham turun, misalkan 0,3%, namun dapat dividen 0,4%, maka anda masih untung 0,1%.


Begitu seterusnya.


Mengapa dividend yield sangat penting? Karena pada saat ex-date, harga saham biasanya turun.


Pada tanggal ini, orang sudah boleh jual sahamnya dan tetap mendapatkan dividen. Sehingga biasanya, pada tanggal ini, harga saham turun.


Jangan sampai, penurunan harga ini lebih besar daripada dividend yield yang anda dapat. Misalkan, dividend yield cuma 0,4%, namun penurunan sahamnya sampai 1,68%, seperti pada gambar. Maka sebenarnya saya rugi 1,28%.


Bayangkan, saya beli saham Rp. 4.47 juta. Dividennya hanya Rp 6/lembar. Kalau dihitung, saya dapat dividen sebesar Rp. 18.000, sedangkan harga sahamnya turun hingga rugi Rp. 75.000.


Inilah yang disebut dividend trap. Anda dapat dividend, tapi malah rugi.


Dalam kasus ini, saya beli sahamnya H-2 cum-date. Entah kerasukan apa waktu itu.


Makanya sangat disarankan belinya di jauh-jauh hari, dan perhitungkan dengan matang.


Bahkan kadang, ada yang beli saham jauh-jauh hari, kemudian saat cum-date malah dijual, sehingga tidak dapat dividen. Namun, dia mendapatkan capital gain, karena harga saham yang naik.


Kecenderungannya memang begitu, cum-date harga naik, ex-date harga turun. Tapi ini tidak mutlak. 


Kadang terjadi sebaliknya, misalkan kayak KLBF ini cum-date harga malah turun, sedangkan ex-date malah naik, meski naiknya tidak menutup penurunannya kemarin. Hal ini dikarenakan banyak faktor, salah satunya karena saham dengan kode DMAS mengalami penurunan mengerikan saat ex-datenya tanggal 3 desember, sehingga orang takut masuk ke KLBF dan cenderung jual pada tanggal yang sama.


Selain itu ada faktor lain, seperti kondisi ekonomi, dan harga saham di pasar tunai. Contoh, saham PGAS pas cum-date naik, pas ex-date malah makin naik.


Tentang pasar tunai akan kami tulis lain waktu.


Makanya kalau mau investasi dengan cara dividend oriented, sangat berbahaya beli di cum-date kemudian jual di ex-date. Perlu perhitungan yang teliti.


Bila ingin dividend oriented, lebih baik sahamnya dibenar-benar dipegang dalam waktu lama. Seperti yang saya lakukan pada saham Bukit Asam (PTBA)


Beli di harga Rp 2100 pada tahun 2017, saya pegang hingga sekarang. Dividend yield 13% tiap tahun sudah saya dapatkan 3x. Artinya keuntungan saya sudah sekitar 39%. Harga saham sekarang sudah hampir 2500, atau capital gain 17%. Artinya saya sudah untung sekitar 58%.


Di deposito, keuntungan seperti ini baru bisa anda dapat setelah 11 tahun investasi. Saya hanya cukup 3 tahun di saham.


Bahkan dia pernah mencapai harga hampir Rp 5.000. Artinya keuntungan saya harusnya hampir 300% bila saya pinteran dikit.


Namun, saya berencana untuk menjual saham PTBA ini dengan target harga Rp 3.000 dalam waktu dekat. Karena dividen yang dibagikan biasanya hanya dividen final, yang berasal dari keuntungan tahun lalu. Sehingga di tahun 2021, saya ragu perusahaan ini akan memberikan dividen yang besar, mengingat 2020 adalah tahun yang buruk. Kalau saya hitung, keuntungan totalnya bakal mencapai angka +94%.


Namun, namanya manusia, kadang salah wajar. Di KLBF ini saya malah rugi karena mengejar kenikmatan instan dari dividen.


Sebenarnya kalau saya biarkan sahamnya sebulanan, mungkin bakalan dapat capital gain yang cukup, karena ada kemungkinan sahamnya naik. Namun, saya baru mendapat kabar dari rekan yang kerja di Kalbe Nutrisi, bahwa sales Kalbe Farma sudah menurun bahkan sebelum Corona. Itulah sebabnya ketika hype vaksin, sahamnya tidak terlalu naik sebagaimana saham farmasi lain. Walau laporan keuangannya masih positif.


Akhirnya, saya cutloss dalam keadaan rugi.


Saya tidak seperti investor yang jualan seminar dan grup-grup premium itu ya. Yang kalau rugi diem, kalau untung ngocehnya udah kayak the next Warren Buffett. Saya untung atau rugi pun tetap ngoceh seperti ini hahaa.


Tapi kalau rugi terus, mungkin saya juga akan beralih profesi jadi jualan seminar, biar ruginya nutup hahaa.

Tahukah kamu, kalau ada saham yang bisa kamu beli seharga Rp 230, tapi kamu dapet aset bersih sebesar Rp 756?

 Tahukah kamu, kalau ada saham yang bisa kamu beli seharga Rp 230, tapi kamu dapet aset bersih sebesar Rp 756?


Perhatian: Tulisan ini cocok buat kalian yang suka panjang-panjang


#IzmulMencariUang


Kalau kata Warren Buffett, keuntungan pada saham itu bukan terjadi pas kita jual, tapi pas beli.


Ketika saya beli saham Panin Financial seharga Rp 240 per lembar, sebetulnya saya telah mendapatkan aset sebesar Rp 756 per lembar saham yang saya beli. 


Dengan kata lain, saya sudah untung 3x lipat lebih. Makanya saya bilang, main saham itu mudah.


Perihal besoknya harga saham mau turun ke Rp 230, yasudah, itu urusan dia dengan pasar. Urusan saya dengan perusahaan hanya satu: saya punya aset bersih Rp 756 per lembar saham yang saya beli. Kalau besok perusahaannya bangkrut atau likuidasi, saya dapat aset segitu.


Inilah yang dinamakan value investing. Kita berinvestasi pada nilai perusahaan, bukan pada harganya.


Darimana saya tahu bahwa nilai perusahaan ini Rp 756 per lembar saham? Dari yang namanya book value.


Cara mengetahui nilai book value ini gampang. Di internet atau aplikasi saham pasti ada. Atau kalau mau hitung sendiri juga bisa, rumusnya aset dikurangi liabilitas (utang, insentif pegawai, sewa, dll), didapatkan lah ekuitas. Setelah itu, ekuitas ini dibagi dengan jumlah saham yang beredar, didapatkanlah book value.


"Tapi masa saya harus nunggu perusahaannya bangkrut dulu baru saya dapet Rp 756 tadi?"


Konsep value Investing itu begini, kita beli saham di bawah harga wajarnya (book value), kemudian suatu saat, harga saham yang sedang di Rp 230 tadi akan terkoreksi dengan sendirinya ke harga wajar tersebut.


Sederhananya begini. Ada toko diskon 30%. Mereka jual sepatu, harga aslinya Rp 1 juta, tapi cuma dijual Rp 700 ribu. Kamu beli, kemudian jual ke temanmu yang goblok dengan harga aslinya. Alhasil, kamu untung Rp 300 ribu.


Hal seperti ini juga berlaku di saham. Makanya, jangan beli saham sembarangan.


Dalam hal saham Panin Financial ini, saya beli di harga Rp 240 dengan harga wajarnya Rp 756. Artinya, saya beli dengan harga diskon hampir 70%.


Saham-saham seperti inilah yang disebut undervalue. Harga pasarnya di bawah harga aslinya.


Dalam investasi, angka 70% ini sering disebut Margin of Safety (MoS). Kalau kata Copper Academy, MoS inilah yang harus dipelajari pertama kali saat anda investasi di saham.


Sabar, tulisannya masih panjang.


Kalau anda bagi harga pasar dengan harga wajar tersebut, yaitu 240/756, akan didapatkan hasil 0,32. Angka ini disebut Price to Book Value (PBV). Artinya, saya membeli saham Panin Financial ini 0,32x lebih murah daripada harga aslinya.


Nilai PBV inilah yang sering dijadikan acuan utama value investor dalam berinvestasi. Ketentuan dasarnya begini:


PBV = 1, harga sedang wajar

PBV < 1, harga sedang murah

PBV > 1, harga sedang mahal


Umumnya, seorang value investor akan membeli saham saat PBV < 1, kemudian jual pas PBV > 1. Atau kalau investornya berani, bakal nungguin sampai PBV > 1,5.


"Tapi om, Unilever PBV nya 40an ke atas. Kok bisa?"


Itulah sebabnya ketentuan dasar di atas harus dipermanis lagi.


Maka ada PBV rata-rata, umumnya diambil 5 tahunan. Selama 5 tahun terakhir, PBV Unilever berkisar antara 40 sampai 60. Artinya, seorang value investor akan membeli saat PBV nya 40an, kemudian jual di 60an.


Menurut pengalaman saya pribadi, nilai PBV ini berkorelasi erat dengan nilai RoE (Return on Equity, laba bersih dibagi ekuitas). Ketentuannya begini:


RoE < 10%, PBV = 1

RoE = 10%, PBV = 1 juga

RoE = 30%, PBV = 3 (boleh interpolasi dengan PBV sebelumnya)

RoE > 30%, PBV nya udah gak ngotak


Contoh, Unilever punya RoE 111%, maka PBV nya +40an. BCA juga punya RoE 32%, PBV nya sekitar 8x.


Karena perusahaan yang menguntungkan (RoE tinggi), maka semakin layak dia dihargai mahal (PBV tinggi juga).


Ah daripada tulisan ini kepanjangan, lebih baik lanjutan tentang PBV ini saya tulis di blog pribadi nanti.


Kemudian bagaimana kalau perusahaan ini sedang lesu? Katakanlah PBV nya rendah, tapi perusahaan ini laba bersihnya kecil, atau bahkan rugi.


Makanya PBV ini harus diiringi dengan menghitung Price to Earning Ratio (PER).


Cara hitungnya juga cukup mudah. Laba bersih dibagi jumlah saham beredar, didapatkanlah Earning per Share (EPS).


Kemudian, harga saham saat ini dibagi dengan EPS, didapatkanlah nilai PER.


Tidak ada ketentuan pasti mengenai PER ini. Saya pribadi biasanya cari saham dengan PER di bawah 10, kemudian jual saat PER di atas 15.


Kekurangan metode ini adalah, dia sangat menggantungkan hidupnya pada laba bersih. Laba bersih ini bisa kapan saja berubah, apalagi pada perusahaan yang sifatnya cyclical, seperti perusahaan tambang.


Misalkan, bisa saja Adaro Energy tahun ini untung triliunan karena harga batubara naik. Tapi ketika harga batu bara turun, maka laba bersih Adaro juga kemungkinan turun drastis, bahkan bisa rugi. Nah, nilai PER sangat sensitif pada hal-hal seperti ini.


Beda dengan PBV, karena dia bergantung pada ekuitas (aset dan utang). Ibaratnya, kalau perusahaan itu punya aset Rp 100 triliun, gak mungkin lah habis dalam setahun doang.


Tapi jangan pernah beli saham yang kedua nilai tersebut negatif. Karena kalau PER negatif, artinya perusahaan itu sedang rugi. Kemudian kalau PBV negatif, artinya perusahaan tersebut memiliki lebih banyak utang daripada aset.


Masih agak panjang tulisannya, sabar ya.


Kemudian karena keterbatasan akuntansi, anda tidak bisa "terima beres" nilai PBV dan PER tersebut.


Koreksi ya bila salah, karena saya tidak mendalami akuntansi.


Contohnya, ketika sebuah perusahaan beli aset berupa tanah, maka yang dicatat pada balance sheetnya adalah harga beli tanah tersebut. Padahal, harga tanah berubah tiap tahun.


Atau ketika perusahaan menemukan cadangan batubara. Yang dicatat sebagai aset adalah biaya eksplorasinya, bukan potensi cadangan terbukti batubara tersebut.


Kemudian misalkan perusahaan punya aset kebanyakan dalam bentuk tak lancar (gedung, mesin, dll). Aset tersebut gak bisa dicairkan hari ini juga, butuh proses, yang proses tersebut mungkin membutuhkan biaya.


Kemudian misalkan, perusahaan tersebut punya branding yang bagus. Katakanlah gojek yang gak punya kendaraan satu pun, tapi valuasinya tetap besar.


Kasus lagi, misalkan perusahaan saat ini laba bersihnya kecil, namun baru dapat kontrak yang besar. Tapi kontrak tersebut belum tercantum di laporan keuangan.


Dan banyak lagi kasus lainnya.


Maka berkembanglah beberapa cara untuk menentukan nilai wajar saham. Seperti Revalued Net Asset Value (RNAV), Enterprise Future Value, Benjamin Graham Formula, dan lain-lain. Semua ini akan saya tulis di blog pribadi biar post ini gak panjang.


Sudah banyak saham "hasil karya" value investing ini. Yang paling waw dan stock of the decade menurut saya adalah kasus INKP (lupa kepanjangannya apa).


2017 lalu orang rame bilang, bisnis kertas akan mati ditelan digitalisasi. Padahal di sisi lain, INKP terus menumbuhkan laba bersih tiap tahunnya.


Dari 2017 ke 2018, harga sahamnya naik dari Rp 1.000 ke Rp 20.000. Artinya, hanya dalam setahun, anda sudah mengalami keuntungan sebesar 2000%. Kalau invest Rp 1 juta, anda akan keluar dengan duit Rp 20 juta.


Banyak kasus yang seperti ini. Hal yang tidak dapat dilakukan bahkan oleh saham yang lagi ngetren sekalipun, ANTM dan BRIS.


Dikit lagi yaa


Kemudian bagaimana dengan dividen?


Ada satu metode value Investing andalan saya, dan sering dipakai oleh manajer reksadana. Namanya Discounted Cash Flow (DCF). Metode ini pertama kali saya kenal pas belajar studi kelayakan investasi jalan tol.


Metode ini didasari pada free cashflow (duit nganggur) perusahaan. Simpelnya begini:


Misalkan, anda beli saham harga Rp 1.000 per lembar. Tahun ini, perusahaan ngasih dividen sebesar Rp 50.


Kemudian anda analisis, selama 20 tahun ke depan, free cashflow mereka akan naik sebesar 10% setiap tahunnya.


Maka anda bisa prediksi, tahun depan dividennya naik kira-kira ke Rp 55, tahun depannya lagi Rp 60,5, dan seterusnya.


Pada tahun ke 20, total dividen yang anda peroleh akan menjadi sekitar Rp 1.431. Kemudian nilai ini "dipresentkan" dengan metode Net Present Value. Bisa anda lihat di blog pribadi saya.


Artinya, anda mendapatkan cashflow sebesar angka tersebut selama 20 tahun, atau 143,1% dari modal anda. Dan akan terus bertambah setiap tahun selama sahamnya belum anda jual.


Tentu, metode DCF ini tidak semua orang bisa pake. Anda harus paham betul kondisi perusahaan dan mampu mengambil investor judgement yang tepat.


Perhitungan lebih detailnya sudah saya tulis di sini ya:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=3955996897818466&id=100002245830465


Tulisan saya ini hanya sebagai gambaran bagaimana cara melakukan value Investing. Tidak semua orang siap nungguin saham sampai 20 tahun.


Namun, kecenderungannya, orang sukses di saham sering menggunakan metode ini. Contoh, bos Djarum, beli saham BCA 20 tahunan lalu seharga "cuma" Rp 4 triliun, sekarang jadi Rp +800 triliun, dengan dividen hampir Rp 3 triliun per tahun.


Banyak lagi nama besar di Indonesia seperti bapak Sandiaga Uno, Hary Tanoe, dan di level internasional ada Warren Buffett, Bill Gates, Jeff Bezos, dan sebagainya.


Udah ya, tangan saya cape. Kalau kangen chat aja.


Jangan lupa join grup kami yaa

https://t.me/sutakananinvestment


Update: sekarang harganya Rp 170an, sedangkan valuenya Rp 818. Harga lebih murah, value lebih tinggi.


Update 2 tahun setelah post ini dibuat:

Sahamnya udah naik 2x lipat