Monday, October 23, 2023

MENGUMPULKAN PUZZLE YANG BERTEBARAN DI SAHAM

 MENGUMPULKAN PUZZLE YANG BERTEBARAN DI SAHAM

.

Aslinya hanya kayak anak yang bermain main puzzle yang bertebaran. Kita harus mulai darimana, bagaimana memetakan, bagaimana menyusun yang cepat dll. Beruntung Saya sudah mendapatkan ilmu ini dari Pak suhu Agus Setiyawan, yg ternyata bisa diterapkan dimana Mana.


Sebagai contoh Saya terapkan di trading saham.


Saya baru baru ini baca berita bahwa SEKOLAH MULAI MASUK BULAN JANUARI 2021, langsung kepikiran apa yg bisa Jadi uang dengan Cepat? Perusahaan apa yg kira2 diuntungkan? Googling laporan keuangan nya 1Q 2Q 3Q, lihat chart nya bagus gaknya, jadilah uang Cepat.


Jadilah kepikiran TKIM atau pabrik kertas tjiwi kimia. Kok TKIM? Ya iyalah, kalo anak masuk sekolah dll kebutuhan kertas kan ningkat tajam Beeli pagi juaal sore, dapat 10%....lumayan dapat untuung sekitar Rp 2.5jt duduk Manis.


Mulailah belajar dari Cara yg Paling mudah Dulu, minim resiko, untuk jangka panjang, yakni menabung atau investasi saham dimana Hari Sabtu tanggal 5 Desember 2020 ini Ada workshop nya.


Bukan Saya Yang ngadakan, karena Saya minim pengetahuan. Diadakan oleh expert nya di bidang ini yakni Pak Kunardi founder dari Happy Billionaire Club.


Info detail bisa Saya Bantu, silahkan Komen ninggal jejak.


#BelajarNabungSaham

#BelajarInvestasiSaham

#WorkshopMenabungSaham

Kaidah Saham Piranhamas

 #KaidahSaham All New Piranhamas :


PE Ratio

PE = Price To Earning RENDAH

PB = Price To Book RENDAH


Gunakan

Fitur KEYSTATS

Aplikasi STOCKBIT


Price To Book Value


Management :

Jujur

Profesional

Berintregitas


Sederhanakan yang Rumit

Mudahkanlah yang Sulit

Gampangkanlah yang Sukar


cc : Purnomo Sony

Thursday, October 19, 2023

Kalau anda beli saham Unilever sekarang, balik modalnya 33 tahun lagi

 Kalau anda beli saham Unilever sekarang, balik modalnya 33 tahun lagi.


Perhatian: tulisan ini panjang

#IzmulMencariUang


Ini lucu, tapi beneran ada. Selama membuka jasa konsultasi keuangan, saya beberapa kali menemukan mindset begini:


Misalkan ada saham, harga Rp 1.000, tapi dia bilang mau beli di harga Rp 1.100. Alasannya, dia kira dengan beli di harga mahal keuntungan yang didapat juga akan banyak. Dia juga bangga beli sesuatu yang mahal.


Inilah alasan kenapa masih ada yang beli kopi Starbucks seharga Rp 50.000 daripada kopi tubruk Rp 3.000. Rasa beda tipis, bahkan sama-sama bikin batu ginjal kalau dikonsumsi banyak.


Tapi dengan beli di harga segitu, dia berkumpul bersama orang yang mampu beli di harga segitu juga. Dia kira, harga selalu menentukan kualitas, meski kopi itu sama-sama datang dari beraknya Luwak.


Ternyata, memang ada ilmunya. Saya pernah ngobrol dengan kakak kelas yang jadi marketing di Nestle. Katanya, walau produknya sama, kadang yang mahal lebih laku.


Ini adalah mindset konsumsi. Tapi jangan dibawa ke investasi. Saya sering menulis tentang mindset investasi di blog pribadi. Silakan baca.


Agar mudah dipahami masyarakat awam, kita bakal meninjau saham Unilever dengan metode Simple Payback Period.


Sederhananya begini, ada bisnis seharga Rp 10 juta, kemudian dia bisa untung bersih setahun Rp 2 juta. Artinya, anda bakal balik modal dalam waktu 5 tahun (10 dibagi 2).


Data seperti inflasi, MARR, growth, nilai sisa, dan lain-lain diabaikan dulu. Biar tulisan ini enggak kepanjangan dan mudah dipahami.


Bayangkan kalau anda beli bisnis itu seharga Rp 20 juta, maka balik modalnya 10 tahun. Bisnisnya jadi semakin tidak menarik, walau harganya mahal. Tapi kalau anda belinya di harga Rp 6 juta, maka balik modalnya hanya 3 tahun, sehingga bisnisnya jadi makin menarik. Di sinilah mindset investasinya, semakin murah semakin bagus.


Lalu, saya sering dapat pertanyaan begini:


"Koh, perusahaan Unilever kan berfundamental bagus, kok harga sahamnya turun terus sejak 2018?"


Kalau analisis fundamentalnya bener, hasil akhirnya bukan perusahaan itu bagus atau enggak, tapi valuasinya.


Unilever itu ibaratnya begini: ada warung, punya aset bersih Rp 10 juta. Dalam setahun, warung tersebut bisa punya untung bersih Rp 14,5 juta. Selama 10 tahun, dia konsisten begitu. Semua orang bakal bilang ini warung bagus.


Terus anda datang ke pemiliknya, bilang "pak/buk, saya mau beli ini warung. Harganya kena berapa?"


Kemudian pemilik warungnya bilang "saya baru berani lepas kalau kena Rp 480 juta."


Dia gak bakal mau jual seharga Rp 10 juta sesuai jumlah aset bersihnya. Karena ini warung bagus, setahun untung sudah melebihi aset. Dia bisa kehilangan mesin uang kalau jual murah.


Anda jadi beli? Kalau saya, tentu tidak. Laba 14,5 juta setahun, berarti saya secara Simple Payback Period baru balik modal 33 tahun lagi.


Ini bisnis yang buruk, walau perusahaannya baik.


Sebagai gambaran, balik modal normal untuk bisnis beda-beda bergantung skala bisnisnya. Kalau skala kecil seperti UMKM, kurang dari 5 tahun biasanya sudah balik modal. Kalau yang besar, biasanya di atas 15 tahun.


Bahkan kalau bisnis baru, misalkan gerobakan jual pisang goreng, balik modalnya bisa kurang dari setahun.


Mungkin, kalau warung itu dijual seharga Rp 145 juta saya masih akan pertimbangkan buat beli. Karena 10 tahun bisa balik modal.


Inilah sebabnya, mindset investasi beda dengan konsumsi. Di investasi, anda harus benar-benar bertanya, harganya berapa?


Di saham Unilever, anda perlu menunggu 33 tahun. Siapa yang mau investasi seperti ini?


Bahkan pernah suatu waktu warung ini dijual di harga Rp 600 juta lebih. Wes angel. Karena gak ada yang mau beli, akhirnya harga turun sampai sekarang menyentuh Rp 480 juta.


Begitulah kondisi saham Unilever sekarang. Makanya harganya turun terus: karena valuasinya kemahalan.


Selain itu, warung ini selama 10 tahun terakhir "gitu-gitu aja." Anda bisa cermati di gambar.


Penjualan Unilever selama 10 tahun terakhir hanya naik sebesar 118%. Beda sama pesaingnya, warung Mayora yang jualan Mie Gelas, naik sebanyak 225%.


Pun aset bersihnya. Selama 10 tahun warung Unilever cuma naik 21,9%. Beda sama warung Mayora yang sudah naik 427%.


Sebagai gambaran, kalau diibaratkan warung, Unilever ini 10 tahun lalu punya aset Rp 8,2 juta. Sekarang, cuma nambah Rp 1,8 juta.


Mengapa hal ini terjadi? Dalam pandangan saya ada dua alasan.


Pertama, seluruh laba bersih yang 14,5 juta itu dipakai buat hidup si pemilik warung. Tidak ada sisa buat nambah aset warung tersebut, seperti nambah kursi, bikin cabang, beli menu baru, dan sebagainya.


Kecuali 2 tahun terakhir, Unilever konsisten alokasi sekitar setengah keuntungannya buat nambah aset.


Kedua, hampir tidak ada pasar baru untuk dipenetrasi.


Kalau anda baca laporan tahunannya, dari paparan manajemen, mereka hanya berinovasi pada produk. Jadi, tiap tahun mereka launching produk baru. Kalau tidak salah 2019 mereka ada 4 produk baru di bidang kosmetik.


Tapi, mereka enggak ekspansi di bidang pasar. Bukan gak mau, tapi kayaknya memang gak bisa.


Ibaratnya, di pedalaman yang belum ada jalan daratnya pun, sabun Lifebuoy menguasai pasar. Jadi, mereka mau jualan di mana lagi?


Unilever ini kan aslinya perusahaan asing yang buka cabang di Indonesia. Mereka susah mau ekspor, karena di negara lain sudah ada cabangnya juga. Contoh, pasar Malaysia, ya dikuasai Unilever Malaysia.


Beda sama perusahaan kayak Sidomuncul, mereka bisa ekspor produk ke manapun. Jadi, peluang penjualannya tumbuh sangat besar.


Itulah sebabnya pada tahun 2019, pertumbuhan penjualan Unilever hanya 2,7%.


Apalagi, hampir semua produk mereka adalah market leader di bidang masing-masing. Ibaratnya, sabun mana yang lebih laku dari Lifebuoy?


Ke depan, sabun ini hanya punya 2 pilihan: bertahan atau diambil pasarnya oleh sabun lain. Sedangkan sabun lain, pilihannya nambah satu: mengambil pasarnya Lifebouy.


Melihat pasar mereka yang terbatas, maka penjualan hanya akan meningkat mengikuti Produk Domestik Bruto yang kisaran 5%. Kalau lebih, artinya hebat.


Apalagi, utang di kuartal 4 2020 meningkat gila. Sepertinya ini utang usaha sih, bukan utang bank atau obligasi.


Tapi kalau anda investasi di P2P Lending, anda pasti tau ada gosip yang beredar. Akhir-akhir ini cukup banyak vendornya Unilever yang gagal bayar utang. Gak usah saya sebutin lah nama-namanya ahahaa.


Inilah sebabnya, selama 10 tahun jualan sabun, saham Unilever hanya naik sebesar 198%. Beda sama yang jualan Mie Gelas, naik sampai 1800%.


It's still a good Investment. Ibaratnya kalau 10 tahun anda taruh duit di deposito bank dengan bunga 5% setahun, hari ini aset anda hanya bertumbuh 62,8%. Belum kena biaya admin.


Karena harga saham Unilever udah kemahalan, akhirnya secara perlahan, dia menuju ke "harga wajarnya."


Harga yang wajar di mana bisnis Unilever itu dihargai.


"Tapi koh, naik turunnya saham kan suka-suka bandar."


Anda kira berapa banyak manajer reksadana dan hedge fund yang beli saham Unilever selama 3 tahun terakhir dan rugi sampai sekarang?


Tiap hari ada asing beli ini saham, pun manajer reksadana dan hedge funding. Apakah harga sahamnya naik? Enggak.


Apalagi, saham-saham model Unilever begini memang tidak diperuntukkan mencari capital gain. Dia dapat untung dari dividennya. Jadi, cocok investasi jangka panjang untuk membentuk pendapatan pasif.


Tapi masalahnya, kalau mau membentuk pendapatan pasif dari Unilever pun berat. Dari dulu, dividen sahamnya segitu-segitu aja. Beda kalau anda membangun pendapatan pasif dari saham BCA, hari ini dapat dividen Rp 500an, 15 tahun lagi bisa jadi Rp 5 ribuan setahun.


Ke depan, dengan kebijakan enggak bagikan dividen banyak-banyak, semoga ekuitas perusahaan bisa naik.


Dan semoga, perusahaan terus berinovasi. Inovasi manusia memang tidak ada batasnya.


Akhir kata, Unilever perusahaan bagus. Sangat bagus. Tapi kalau kemahalan, gak ada yang mau beli juga.


Terus kapan waktu yang cocok buat beli Unilever ini? Saya pribadi di harga sekarang sudah lumayan menarik. Tapi disarankan beli antara Rp 5.500 sampai Rp 6.000.


Tapi ya, kalau mau jujur-jujuran. Paling bagus di harga Rp 2.000 sampai 2.300. Tapi kayaknya berat banget kalau mau sampai harga segini.


Ngerti gak? Kalau gak ngerti, kami buka jasa konsultasi keuangan, termasuk ngasih masukan tentang analisis saham. Murah kok, per jam konsultasi cuma bayar Rp 10.000. Undervalue sekali, bukan?


Kalau cewe, saya punya fitur khusus jelasin pake vn.


Jangan lupa gabung ke grup Telegram:

https://t.me/sutakananinvestment


Selamat berinvestasi!

Mendapatkan Rp100 juta pertama dengan gaji hanya Rp1,8 juta

 Mendapatkan Rp100 juta pertama dengan gaji hanya Rp1,8 juta


Perhatian: tulisan ini panjang banget


Sebelumnya kita disclaimer dulu, biar gak disangka flexing


✅ Ada banyak orang yang berteman dengan akun ini mencapai Rp100 juta bahkan Rp1 miliar pertama di usia lebih muda dari saya. Jadi kalau saya flexing, malah malu jatuhnya


✅ Tapi bagi sebagian orang, angka segitu luar biasa besarnya dan mungkin masih sekadar angan-angan aja


Dan sebelumnya disclaimer lagi tentang privilege yang saya miliki


✅ Saya orang yang sehat

✅ Hidup berkecukupan, kedua orangtua saya PNS. Anda tahu sendiri PNS itu hidupnya gimana

✅ Mampu sampai kuliah

✅ Rumah dekat sekolah (sebagian teman saya harus merantau buat sekolah setelah SD)

✅ Kebutuhan dasar terpenuhi, termasuk gizi yang baik (walau badan saya termasuk pendek)

✅ Hidup di lingkungan yang baik

✅ Ada tanggungan tapi sedikit

✅ Ganteng


Nah kalau anda punya privilege yang serupa, anda juga harusnya dapat mengumpulkan Rp100 juta. Tapi, take it slow aja, setiap orang punya startnya masing-masing


Tapi kalau privilege kita berbeda, saya harap anda menemukan jalannya sendiri.


Saya percaya, setiap orang punya privilegenya masing-masing. Tapi kadang, kita gak sadar aja.


Sadarnya nanti, pas udah kaya, terus netizen buka-buka latar belakangmu.


Dan, kita juga punya unprivilege masing-masing. Bagi saya, orangtua yang bekerja sebagai PNS bisa jadi sebuah hadiah karena kondisi keuangan yang stabil. Namun, ia juga bisa menjadi unprivilege karena sedari kecil saya tidak pernah diajarkan mindset bisnis maupun investasi.


Beda, dengan orangtua yang sehari-hari jualan di pasar. Walau pekerjaannya kasar, namun ia diberkahi dengan sudut pandang yang jarang dimiliki oleh PNS.


✅ Bagi saya, lompatan besar itu terjadi di tahun 2013 sejak berkenalan dengan pasar modal. Waktu itu saya masih SMA, ada olimpiadenya, ikut, dan Al-hamdulillah juara 1 tingkat provinsi.


Dari sana saya mulai kenal dan senang belajar hal-hal yang terkait pasar modal. Menggunakan privilege yang saya miliki, saya lebih memilih membeli buku-buku pasar modal, bisnis, dan biografi tokoh-tokoh, di saat teman seumuran lebih suka novel dan komik.


Investasi terbaik, kata orang, memang investasi badan ke atas.


Dari sanalah saya belajar, walau kita diberi privilege yang sama, belum tentu apa yang akan kita lakukan dan hasilnya juga akan sama.


2015, saya sudah punya KTP, langsung tuh daftar ke Mandiri Sekuritas buat bikin akun saham. Modal awal cuma Rp100 ribu.


Waktu itu saya masih disupport orangtua, biasanya Rp2 jutaan sebulan. Gak besar, tapi gak kecil juga.


Dengan uang segitu, saya bisa menyisihkan Rp200 ribu setiap bulannya buat investasi.


Itulah cerita pertama saya kenal dengan pasar modal.


✅ Setiap orang tentu punya jatuh bangunnya sendiri


Hingga tahun 2017, uang yang saya tabung seharusnya udah jadi Rp5 jutaan, tapi yang tersisa di kantong cuma setengahnya.


Kok bisa?


Sepanjang 2 tahun pertama berinvestasi, saya tidak memilih saham yang baik. Saya jatuh ke dalam bujuk rayu saham-saham gorengan yang menawarkan keuntungan tinggi.


Buat yang belum tau, saham gorengan itu saham-saham kecil yang mudah banget harganya dimainkan oleh bandar. Memang saham kayak gitu menawarkan keuntungan yang besar, tapi risikonya juga besar.


Saya dulu mikirnya, kalau saya punya modal Rp1 juta aja, dan konsisten untung 1% sehari, 3 tahun uang saya udah tembus Rp2 miliar 


Siapa yang gak mau?


Tapi kalau semudah itu dapet duit, kenapa gak semua orang melakukannya?


Ternyata, memang gak ada gunanya. Butuh 2 tahun bagi saya buat buang jauh-jauh mental penjudi tersebut.


Hilang duit Rp2,5 juta bagi saya dulu luar biasa besar, karena itu udah 50% dari aset yang saya miliki.


Kalau kamu lagi di fase kayak gini, gapapa, jalani aja


"Smart small, fail smaller, learn bigger."


✅ Apakah ada cara cepat buat jadi kaya?


Ada, dan banyak. Tapi semua itu percuma kalau mindsetnya masih orang miskin.


Miskin boleh, asalkan jangan miskin sejak dari dalam pikiran.


Saya kembali buka-buka buku biografi, mulai dari Dahlan Iskan, Jacob Oetama, Elon Musk (yang saat itu belum seterkenal sekarang), Bill Gates, dan guru dari Maha Guru: Warren Buffett.


Apa yang sama dari mereka semua?

Mungkin kita beda-beda ya memaknainya, tapi bagi saya: segala hal haruslah masuk akal.


Membeli saham PT Berau Coal Tbk (BRAU) di tahun 2015 adalah tidak masuk akal. Bagaimana bisa perusahaan merugi tapi sahamnya naik puluhan persen sehari?


Tidak masuk akal, dan inilah saham pertama yang saya beli dulu.


Sekarang, saya ubah mindset. Saya diberi kesempatan membeli PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dengan harga Rp2000


Waktu itu, sektor kertas memang baru bangkit setelah puluhan tahun tertekan. Terima kasih buat yang sering jual-beli online di zaman itu.


Laba yang dihasilkan INKP saat itu Rp1000 per lembar saham. Artinya, saya bisa untung 50% per tahun 


Bayangin aja, saat bunga deposito bank cuma 6%, saya ditawari membeli INKP dengan keuntungan 8x lipatnya.


Sangat masuk akal


Cuma beberapa bulan, sahamnya naik ke Rp5000. Saya untung 150%, modal saya yang hanya Rp2,5 juta itu pun berbalik jadi Rp5,5 juta


Di sini lah titik baliknya.


Kadang biaya terbesar dalam berinvestasi itu bukanlah uangnya, tapi waktu. Butuh 2 tahun agar saya sadar.


Walau saya menyesal, karena INKP tidak lama kemudian tembus Rp20.000. Harusnya aset saya bisa bertambah 10x lipat waktu itu 😂


✅ Warren Buffett, Guru dari Maha Guru investasi, hanya bisa untung 20% per tahun.


Bahkan ketika modalnya masih receh, 20% is the best he can does. Atau sekitar 1-2% per bulan.


Sehebat apa saya hingga pernah merasa bisa mencapai 1-2% per hari?


Take it or leave it, 20% setahun di saham itu udah hebat banget.


Kalau pengen lebih, bukan sahamnya yang dikencengin, tapi top-up nya


Saya akhirnya mulai coba meningkatkan earning power. Untungnya, keterampilan yang saya pelajari waktu kuliah merupakan salah satu high income skill.


Saya mulai bantuin orang-orang bikin gambar rumah, hitung struktur bangunan, dan lain-lain. Lumayan lah buat jajan saham.


Saya juga coba merintis bisnis, mulai dari jualan jus pinggir jalan sampai bikin bimbel online. Semua gagal? Yes. Tapi saya belajar banyak


Mumpung masih muda, cobain semua.


Banyak-banyakin salah, lalu minta ampun pada diri sendiri. Karena pada dasarnya, manusia tiada lain adalah makhluk yang paling membutuhkan ampun.


✅ Gaji pertama Rp1,8 juta


Waktu itu tahun 2019, dapet kenalan di lokasi KKN. Beliau salah satu kontraktor kecil di Klaten, dan ngajak kerja bareng.


Jadi pas KKN itu genrenya gak ada cinta-cintaannya gaes, apalagi horor kayak cerita KKN desa Ponari itu


Itulah pekerjaan pertama saya. Angka segitu termasuk wajar soalnya belum lulus kuliah


156 jam per bulan. Artinya, saya dibayar sekitar Rp11.500 per jam


Saat itu saya belum punya kendaraan. Karena kalau saya beli motor Rp15 juta, itu setara dengan 1305 jam kerja


Baju branded itu bukan Rp5 juta, tapi 434 jam kerja


Makan-makan manis di cafe itu bukan Rp1 juta, tapi 87 jam kerja


Dan saya sadar, semakin keras bekerja, semakin banyak pajak yang harus dibayarkan.


Jadi, sejak 2019, sebenarnya saya tetap disupport orangtua, tapi dengan adanya tambahan income, hampir seluruhnya saya investasikan ke saham.


Terutama saham yang dividennya baik, minimal 5% dari modal yang kita keluarkan.


Jadi misalkan, kalau saya investasi Rp10 juta, maka dalam setahun dividennya harus Rp500 ribu.


Saya maunya gak ngapa-ngapain, tapi tetap ada pemasukan. Biar makan-makan cantik yang Rp1 juta tadi tidak dihitung 87 jam kerja lagi.


Saya gak mau kerja terus, dan kalaupun saya kerja, kemampuan saya terbatas. Di sisi lain, uang tiada lain adalah pekerja terbaik, ia bekerja 24/7 hanya untuk pemiliknya.


Semakin dewasa, hendaknya kita makin tau batasan.


✅ Tips minta naik gaji


Tentu, gaji saya sekarang bukan Rp1,8 juta lagi. Judul di atas cuma clickbait 😂


Angkanya saya rahasiakan. Tapi saya mau sekalian share deh gimana caranya naik gaji. Biar top-up sahammu lebih kenceng.


Anda jangan tiba-tiba dateng ke atasan terus minta naik gaji. Itu goblok. Apalagi kalau kerjaanmu sengaja diburuk-burukin.


Kalau perusahaan mau PHK orang, bisa-bisa kamu malah jadi yang pertama.


Mending gini:


Pertama, tunjukin kalau anda itu rajin. 2 bulan aja cukup.


Yang kedua, datang ke atasan anda, lalu tanya, "pak/buk, kerjaan saya sudah selesai. Kira-kira ada tanggungjawab lain gak yang bisa saya kerjakan?"


Waktu itu, pas nanya gini, saya langsung diarahkan buat bantu proyek lain yang lagi dikerjain perusahaan.


Ketiga, udah sebulan. Minta deh penyesuaian gaji.


Kalau gak dikasih, jadi kutu loncat aja 👀


✅ Walau pendapatan bertambah, gaya hidup jangan ikutan nambah


Selama 3 tahun lebih kerja, pendapatan saya udah nambah berkali-kali lipat dari awalnya cuma Rp1,8 juta.


Tapi, gaya hidup saya cuma nambah dari Rp2 juta ke Rp3 juta sebulan. Itupun kadang kelebihan


Kuncinya hidup sesuai kebutuhan kita aja. Saya sendiri gak pernah beli hp di atas Rp1,6 juta karena merasa gak terlalu butuh.


Bahkan saya sampai sekarang gak punya kendaraan. Saya sadar, saya jarang ke luar. Kalau punya kendaraan, saya harus keluar uang buat beli bensin, servis, pajak, parkir, duh lah pusing teuing.


Walau secara finansial sebenarnya mampu. Tapi untuk sekarang, saya merasa lebih hemat dan nyaman naik gojek aja. 


Gak perlu mikirin tempat parkir.


Lagian, orang kaya kok beli mobil. Orang kaya tuh beli pabrik 👀


Kalau sekedar punya mobil, buruh sawit pun sekarang pada punya.


Tapi kita semua punya dosa masing-masing. Dosa saya sendiri adalah setiap makan beli, bukan masak. Andai saya masak sendiri, pasti akan jauh lebih hemat.


Tapi gapapa deh, sekalian mensejahterakan UMKM di sekitar sini. Toh selama kita mampu, belilah, karena membeli adalah cara bersedekah paling terhormat.


✅ Rp100 juta pertama adalah yang tersulit


Saya sebenarnya cukup beruntung karena bisa mencapai angka ini di usia muda


Kalau dihitung, selama 7 tahun masa investasi, saya menghasilkan sekitar 40% setiap tahun. Terima kasih ke saham-saham seperti INKP, PTBA, WEGE, BRIS, ANTM, hingga SMKL. Semua saham tersebut adalah yang memberikan keuntungan besar buat saya.


Angka tersebut anggap aja beruntung. Karena guru saya pun, Warren Buffett hanya menghasilkan 20%. Mungkin akan ada masa, di mana saham-saham saya hancur-hancuran, sehingga imbal hasil yang saya miliki kalau dirata-ratakan sama atau kurang dari beliau.


Karena di bursa saham, ada lebih banyak hal yang kita tidak tahu, daripada yang kita tahu. Maka saya lebih memilih fokus pada hal yang saya tahu saja.


Rumus investasi saya sederhana: 75% saham, 25% reksadana obligasi.


Reksadana obligasi adalah salah satu investasi yang paling aman. Jadi andai saya kehilangan seluruh saham yang dimiliki, saya masih punya 25% aset


Karena saya sadar, suatu saat, akan ada masa di mana kinerja saham-saham saya memburuk. Saya harus mempersiapkan segala risikonya.


Saya selalu percaya untuk mengukur kekayaan bukan dari uang, tapi dari waktu. Ibaratnya kalau kamu hari ini amit-amit kena PHK, berapa lama kamu bisa survive?


Bagi saya, 25% dari reksadana obligasi tadi sudah cukup lama. Karena biaya hidup saya cuma Rp3 juta per bulan.


Jadi, walau uangmu lebih banyak, tapi jika biaya hidupmu besar, bisa jadi kamu sebenarnya tidak lebih kaya daripada saya ini.


Selain itu, saya juga mulai berinvestasi pada bisnis-bisnis riil. Kapan-kapan kita bahas deh.


Rp100 juta pertama memang yang paling sulit. Bagi saya, butuh bertahun-tahun buat mencapai angka segitu. Tapi, dengan imbal hasil 40% setahun, cukup 2 tahun buat menggandakannya menjadi Rp200 juta. Saya udah merasakannya sendiri.


Sekarang saya sedang dalam perjalanan menuju Rp1 miliar pertama. Sebenarnya angka ini udah saya capai sih, andai Suta Kanan dijual 😂


Buat kamu yang lagi berjuang mencapai Rp100 juta pertama, take it easy ya. Hidup bukan balap-balapan


Kalau mau balapan, belilah Tamiya, bukan saham


Begitulah cara saya mengumpulkan tiga digit pertama dengan segala privilege saya miliki.


Kalau kamu ngerasa gak punya privilege, sebagaimana kata admin salah satu grup Facebook, bertemanlah dengan orang lain, niscaya privilege yang mereka miliki bisa ikut kamu rasakan juga.


Buat kamu yang lagi cari temen buat belajar saham, gabung ke grup kami aja


t.me/sutakananinvestment


Pada dasarnya, mengumpulkan Rp100 juta pertama bukan hanya mengumpulkan uang, melainkan juga proses belajar yang panjang.


Mulai dari belajar kerja yang bener, belajar kerja dengan pinter, hingga belajar buat berdamai dengan diri sendiri.


Kalau kita gak melewati fase ini dalam mengumpulkan Rp100 juta pertama, bisa jadi kita bakalan melewatinya pas ngumpulin Rp1 miliar pertama atau lebih. Dan sekali kita gagal, jatuhnya akan lebih sakit.


Dan sekali lagi, start setiap orang beda-beda. Bisa jadi anda memulai dari punya utang, punya tanggungan, atau gemericing piring makan malam saya terdengar saat anda kelaparan


Gak usah bandingkan dirimu dengan orang lain, gak ada habisnya. Tugas kita dalam berinvestasi bukan membandingkan diri dengan orang lain, tapi dengan diri kita kemarin.


Saya harap, kita semua menemukan jalan dan mendapatkan ampun.


✅ Tentu setiap hal punya pengecualian


Orangtua yang berkecukupan seperti yang saya punya memang sering melahirkan anak yang juga kaya


Tapi tidak jarang lho, orangtua kaya melahirkan generasi pemalas yang justru menghabiskan kekayaannya


Dan tidak jarang juga ada orangtua miskin yang melahirkan generasi terhormat dan mulia. 


Karena pemikirannya, kaya ✅

Discounted Cash Flow (DCF) Metode terbaik untuk memilih saham

 Discounted Cash Flow (DCF)


Metode terbaik untuk memilih saham.


Perhatian: tulisan ini panjang

#IzmulMencariUang


Sekilas mengenai value investing. Ibaratnya begini, ada toko jualan sepatu dengan harga normal Rp 500 ribu. Kemudian ada diskon 40% sehingga harganya tinggal Rp 300 ribu.


Anda beli sepatu itu, kemudian jual ke teman Anda dengan harga normal. Al-Hasil, anda mendapatkan untung Rp 200 ribu.


Di saham juga berlaku sama. Ada beberapa saham yang dapat dibeli dengan harga murah, bahkan lebih murah daripada harga wajarnya.


Tantangannya adalah, menentukan harga wajar ini. Terdapat banyak sekali caranya. Yang paling umum adalah Price to Book Value (PBV) dan Price to Earning Ratio (PER atau P/E). Namun, bagi yang sudah paham, pasti tahu bahwa kedua metode ini banyak celahnya.


Anda bisa simak ulasan kami tentang value investing di sini:

https://www.facebook.com/100002245830465/posts/3733192590098899/


Lalu mengapa menurut saya metode DCF ini adalah metode terbaik? Simak ulasan kami berikut.


Kita juga bakal ngitung bentar ya. Hitungannya gak terlalu banyak kok, gak sebanyak kalau kamu mau bikin gedung 😂

Inilah yang dinamakan value investing. Kita berinvestasi pada nilai perusahaan, bukan pada harganya

 Tahukah kamu, kalau ada saham yang bisa kamu beli seharga Rp 230, tapi kamu dapet aset bersih sebesar Rp 756?


Perhatian: Tulisan ini cocok buat kalian yang suka panjang-panjang


#IzmulMencariUang


Kalau kata Warren Buffett, keuntungan pada saham itu bukan terjadi pas kita jual, tapi pas beli.


Ketika saya beli saham Panin Financial seharga Rp 240 per lembar, sebetulnya saya telah mendapatkan aset sebesar Rp 756 per lembar saham yang saya beli. 


Dengan kata lain, saya sudah untung 3x lipat lebih. Makanya saya bilang, main saham itu mudah.


Perihal besoknya harga saham mau turun ke Rp 230, yasudah, itu urusan dia dengan pasar. Urusan saya dengan perusahaan hanya satu: saya punya aset bersih Rp 756 per lembar saham yang saya beli. Kalau besok perusahaannya bangkrut atau likuidasi, saya dapat aset segitu.


Inilah yang dinamakan value investing. Kita berinvestasi pada nilai perusahaan, bukan pada harganya.


Darimana saya tahu bahwa nilai perusahaan ini Rp 756 per lembar saham? Dari yang namanya book value.


Cara mengetahui nilai book value ini gampang. Di internet atau aplikasi saham pasti ada. Atau kalau mau hitung sendiri juga bisa, rumusnya aset dikurangi liabilitas (utang, insentif pegawai, sewa, dll), didapatkan lah ekuitas. Setelah itu, ekuitas ini dibagi dengan jumlah saham yang beredar, didapatkanlah book value.


"Tapi masa saya harus nunggu perusahaannya bangkrut dulu baru saya dapet Rp 756 tadi?"


Konsep value Investing itu begini, kita beli saham di bawah harga wajarnya (book value), kemudian suatu saat, harga saham yang sedang di Rp 230 tadi akan terkoreksi dengan sendirinya ke harga wajar tersebut.


Sederhananya begini. Ada toko diskon 30%. Mereka jual sepatu, harga aslinya Rp 1 juta, tapi cuma dijual Rp 700 ribu. Kamu beli, kemudian jual ke temanmu yang goblok dengan harga aslinya. Alhasil, kamu untung Rp 300 ribu.


Hal seperti ini juga berlaku di saham. Makanya, jangan beli saham sembarangan.


Dalam hal saham Panin Financial ini, saya beli di harga Rp 240 dengan harga wajarnya Rp 756. Artinya, saya beli dengan harga diskon hampir 70%.


Saham-saham seperti inilah yang disebut undervalue. Harga pasarnya di bawah harga aslinya.


Dalam investasi, angka 70% ini sering disebut Margin of Safety (MoS). Kalau kata Copper Academy, MoS inilah yang harus dipelajari pertama kali saat anda investasi di saham.


Sabar, tulisannya masih panjang.


Kalau anda bagi harga pasar dengan harga wajar tersebut, yaitu 240/756, akan didapatkan hasil 0,32. Angka ini disebut Price to Book Value (PBV). Artinya, saya membeli saham Panin Financial ini 0,32x lebih murah daripada harga aslinya.


Nilai PBV inilah yang sering dijadikan acuan utama value investor dalam berinvestasi. Ketentuan dasarnya begini:


PBV = 1, harga sedang wajar

PBV < 1, harga sedang murah

PBV > 1, harga sedang mahal


Umumnya, seorang value investor akan membeli saham saat PBV < 1, kemudian jual pas PBV > 1. Atau kalau investornya berani, bakal nungguin sampai PBV > 1,5.


"Tapi om, Unilever PBV nya 40an ke atas. Kok bisa?"


Itulah sebabnya ketentuan dasar di atas harus dipermanis lagi.


Maka ada PBV rata-rata, umumnya diambil 5 tahunan. Selama 5 tahun terakhir, PBV Unilever berkisar antara 40 sampai 60. Artinya, seorang value investor akan membeli saat PBV nya 40an, kemudian jual di 60an.


Menurut pengalaman saya pribadi, nilai PBV ini berkorelasi erat dengan nilai RoE (Return on Equity, laba bersih dibagi ekuitas). Ketentuannya begini:


RoE < 10%, PBV = 1

RoE = 10%, PBV = 1 juga

RoE = 30%, PBV = 3 (boleh interpolasi dengan PBV sebelumnya)

RoE > 30%, PBV nya udah gak ngotak


Contoh, Unilever punya RoE 111%, maka PBV nya +40an. BCA juga punya RoE 32%, PBV nya sekitar 8x.


Karena perusahaan yang menguntungkan (RoE tinggi), maka semakin layak dia dihargai mahal (PBV tinggi juga).


Ah daripada tulisan ini kepanjangan, lebih baik lanjutan tentang PBV ini saya tulis di blog pribadi nanti.


Kemudian bagaimana kalau perusahaan ini sedang lesu? Katakanlah PBV nya rendah, tapi perusahaan ini laba bersihnya kecil, atau bahkan rugi.


Makanya PBV ini harus diiringi dengan menghitung Price to Earning Ratio (PER).


Cara hitungnya juga cukup mudah. Laba bersih dibagi jumlah saham beredar, didapatkanlah Earning per Share (EPS).


Kemudian, harga saham saat ini dibagi dengan EPS, didapatkanlah nilai PER.


Tidak ada ketentuan pasti mengenai PER ini. Saya pribadi biasanya cari saham dengan PER di bawah 10, kemudian jual saat PER di atas 15.


Kekurangan metode ini adalah, dia sangat menggantungkan hidupnya pada laba bersih. Laba bersih ini bisa kapan saja berubah, apalagi pada perusahaan yang sifatnya cyclical, seperti perusahaan tambang.


Misalkan, bisa saja Adaro Energy tahun ini untung triliunan karena harga batubara naik. Tapi ketika harga batu bara turun, maka laba bersih Adaro juga kemungkinan turun drastis, bahkan bisa rugi. Nah, nilai PER sangat sensitif pada hal-hal seperti ini.


Beda dengan PBV, karena dia bergantung pada ekuitas (aset dan utang). Ibaratnya, kalau perusahaan itu punya aset Rp 100 triliun, gak mungkin lah habis dalam setahun doang.


Tapi jangan pernah beli saham yang kedua nilai tersebut negatif. Karena kalau PER negatif, artinya perusahaan itu sedang rugi. Kemudian kalau PBV negatif, artinya perusahaan tersebut memiliki lebih banyak utang daripada aset.


Masih agak panjang tulisannya, sabar ya.


Kemudian karena keterbatasan akuntansi, anda tidak bisa "terima beres" nilai PBV dan PER tersebut.


Koreksi ya bila salah, karena saya tidak mendalami akuntansi.


Contohnya, ketika sebuah perusahaan beli aset berupa tanah, maka yang dicatat pada balance sheetnya adalah harga beli tanah tersebut. Padahal, harga tanah berubah tiap tahun.


Atau ketika perusahaan menemukan cadangan batubara. Yang dicatat sebagai aset adalah biaya eksplorasinya, bukan potensi cadangan terbukti batubara tersebut.


Kemudian misalkan perusahaan punya aset kebanyakan dalam bentuk tak lancar (gedung, mesin, dll). Aset tersebut gak bisa dicairkan hari ini juga, butuh proses, yang proses tersebut mungkin membutuhkan biaya.


Kemudian misalkan, perusahaan tersebut punya branding yang bagus. Katakanlah gojek yang gak punya kendaraan satu pun, tapi valuasinya tetap besar.


Kasus lagi, misalkan perusahaan saat ini laba bersihnya kecil, namun baru dapat kontrak yang besar. Tapi kontrak tersebut belum tercantum di laporan keuangan.


Dan banyak lagi kasus lainnya.


Maka berkembanglah beberapa cara untuk menentukan nilai wajar saham. Seperti Revalued Net Asset Value (RNAV), Enterprise Future Value, Benjamin Graham Formula, dan lain-lain. Semua ini akan saya tulis di blog pribadi biar post ini gak panjang.


Sudah banyak saham "hasil karya" value investing ini. Yang paling waw dan stock of the decade menurut saya adalah kasus INKP (lupa kepanjangannya apa).


2017 lalu orang rame bilang, bisnis kertas akan mati ditelan digitalisasi. Padahal di sisi lain, INKP terus menumbuhkan laba bersih tiap tahunnya.


Dari 2017 ke 2018, harga sahamnya naik dari Rp 1.000 ke Rp 20.000. Artinya, hanya dalam setahun, anda sudah mengalami keuntungan sebesar 2000%. Kalau invest Rp 1 juta, anda akan keluar dengan duit Rp 20 juta.


Banyak kasus yang seperti ini. Hal yang tidak dapat dilakukan bahkan oleh saham yang lagi ngetren sekalipun, ANTM dan BRIS.


Dikit lagi yaa


Kemudian bagaimana dengan dividen?


Ada satu metode value Investing andalan saya, dan sering dipakai oleh manajer reksadana. Namanya Discounted Cash Flow (DCF). Metode ini pertama kali saya kenal pas belajar studi kelayakan investasi jalan tol.


Metode ini didasari pada free cashflow (duit nganggur) perusahaan. Simpelnya begini:


Misalkan, anda beli saham harga Rp 1.000 per lembar. Tahun ini, perusahaan ngasih dividen sebesar Rp 50.


Kemudian anda analisis, selama 20 tahun ke depan, free cashflow mereka akan naik sebesar 10% setiap tahunnya.


Maka anda bisa prediksi, tahun depan dividennya naik kira-kira ke Rp 55, tahun depannya lagi Rp 60,5, dan seterusnya.


Pada tahun ke 20, total dividen yang anda peroleh akan menjadi sekitar Rp 1.431. Kemudian nilai ini "dipresentkan" dengan metode Net Present Value. Bisa anda lihat di blog pribadi saya.


Artinya, anda mendapatkan cashflow sebesar angka tersebut selama 20 tahun, atau 143,1% dari modal anda. Dan akan terus bertambah setiap tahun selama sahamnya belum anda jual.


Tentu, metode DCF ini tidak semua orang bisa pake. Anda harus paham betul kondisi perusahaan dan mampu mengambil investor judgement yang tepat.


Perhitungan lebih detailnya sudah saya tulis di sini ya:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=3955996897818466&id=100002245830465


Tulisan saya ini hanya sebagai gambaran bagaimana cara melakukan value Investing. Tidak semua orang siap nungguin saham sampai 20 tahun.


Namun, kecenderungannya, orang sukses di saham sering menggunakan metode ini. Contoh, bos Djarum, beli saham BCA 20 tahunan lalu seharga "cuma" Rp 4 triliun, sekarang jadi Rp +800 triliun, dengan dividen hampir Rp 3 triliun per tahun.


Banyak lagi nama besar di Indonesia seperti bapak Sandiaga Uno, Hary Tanoe, dan di level internasional ada Warren Buffett, Bill Gates, Jeff Bezos, dan sebagainya.


Udah ya, tangan saya cape. Kalau kangen chat aja.


Jangan lupa join grup kami yaa

https://t.me/sutakananinvestment


Update: sekarang harganya Rp 170an, sedangkan valuenya Rp 818. Harga lebih murah, value lebih tinggi.


Update 2 tahun setelah post ini dibuat:

Sahamnya udah naik 2x lipat

Wednesday, October 18, 2023

Gimana cara dapet kerja online? #IzmulMencariUang

 Gimana cara dapet kerja online?

Alias remote

Alias WFA


🎗️ Long post

#IzmulMencariUang


Ini berdasarkan pengalamanku

1 tahun ngantor

2 tahun hybrid

1 tahun online


Ada 1 skill mutlak yang harus dimiliki: KOMUNIKASI


Jadi gini, banyak perusahaan yang masih wajibin ke kantor karena issue komunikasi. Menurut mereka, lebih gampang koordinasi kalau ketemu langsung. Setuju gak?


Nah sebelum nyari kerja WFA, menurutku skill ini yang paling perlu dilatih


✅ Mudah dihubungi

✅ Rajin konfirmasi & follow-up sesuatu

✅ Pinter menyaring mana kerjaan yang perlu diomongin dulu, atau dikerjain dulu baru diomongin

✅ Hilangin rasa gak enakan

✅ Punya banyak stiker lucu di WA


Gimana cara kita menghadirkan kualitas komunikasi yang sama seperti kalau kerja di kantor


Sama satu lagi, JANGAN GAPTEK


Harus tech savvy, minimal bisa pakai chatGPT. Kalau Ms. Word, Excel, PPT, itu gak usah ditanya lagi yaa


Karena 80% kerjaanmu akan berhubungan sama teknologi


👨🏻‍🎓"Loh 20% nya apa bang?"


Nah ini, lagi-lagi apa? Yak betul


Olahraga dan jaga kesehatan


👨🏻‍🎓"oke bang, balik ke pertanyaan awal, cara dapet kerjanya gimana?"


Entar dulu, sebelum nyari kerja, kita harus sadar kalau gak semua skill bisa dionlinekan


❌ Skill tukang

❌ Skill mager

❌ Skill malu


Itu adalah skill-skill yang BELUM bisa dionlinekan UNTUK SAAT INI


Kecuali kalau kamu tukang terus dibikinkan konten. Itu beda cerita yaa. Konteksnya di sini kerja online yang apply ke perusahaan


Menurut pengamatanku, ini skill high in demand di masa sekarang


- Copywriter

- Editor video

- Storyboard

- Sosmed specialist/strategist/officer

- Programmer

- Data analyst

- Apapun tentang website

- Konsultan finance

- Drafter konstruksi

- Arsitek

- Konsultan struktur gedung

- Asisten virtual

- SEO writer


Jadi kalau kamu belajar skill-skill di atas, kemungkinan dapet kerja onlinenya besar


Ini pengamatanku yaa, kalau ada lagi tambah-tambah aja di komentar


Dan opportunity kerjaan kayak gini tuh gede banget. Aku pernah bandingkan di Jobstreet


✅ Kerja di pabrik: pelamarnya 40-60 ribu

✅ Kerja di start-up as copywriter: pelamarnya hanya 400-600 aja


Beda jauh kan?


👨🏻‍🎓"Oke bang, aku udah belajar skill itu. Terus gimana?"


Kebanyakan perusahaan yang berani WFA adalah start-up


Start-up ini biasanya punya sirkel sendiri. Jarang banget mereka post lowongan di FB, IG, bahkan Jobstreet yang ku pakai perbandingan tadi


Biasanya mereka posting di:

✅ LinkedIn

✅ TikTok

✅ YouTube

✅ Glints

✅ Freelance dulu di Fiverr atau Upwork, entar kerja beneran


Aku sendiri dapet dari YouTube


Sekedar info: 70% lowongan di start-up itu tidak dipublish. Kebanyakan melalui mulut ke mulut, melalui rekomendasi


Jadi cara paling mudah untuk mendapatkan kerja online: bertemanlah sama anak start-up


Jangan heran nanti ngelamarnya cuma disuruh isi google form, terus tiba-tiba dihubungi lewat WA


Kalau pelamarnya gak tau, pasti dikira penipuan


Karena memang kerjanya se-sat-set itu


✅ Gak pakai ngirim surat lamaran kerja

✅ Gak pakai ngirim ijazah

✅ Gak, gak ditanya pengalaman organisasi. Ini dianggap gak ada


👨🏻‍🎓"Duh start-up ya bang. Katanya kerja di sana susah, banyak targetnya ya?"


Iyes. Beban kerja di start-up emang gede. Tapi kerjanya nyantai


Aku beberapa kali harus kerja di bus/kereta/pesawat, kayak di foto


Yang harus kamu ketahui, 8 jam kerja di kantor itu gak sama kayak 8 jam kerja remote


Menurutku, 8 jam kerja di kantor sama dengan 5-6 jam kerja remote. Karena capeknya beda. 


Jujur aja di kantor tuh kebanyakan waktunya gak efektif dan banyak dipakai buat menunggu & ngobrol. 


Beda sama kerja dari rumah, kita rasanya pengen selesaikan kerjaan cepet-cepet. Gak ada yang ditunggu, gak ada yang diajak ngobrol


Ini yang bikin tingkat stressnya juga tinggi. Aku bahkan beli beberapa alat olahraga buat pelampiasan


Makanya kalau ada uang, sebaiknya kita invest ke kenyamanan


✅ Bikin ruangan yang enak dan kedap suara

✅ Beli komputer yang proper

✅ Pakai AC dan sesekali buka jendela biar seger

✅ Beli kursi kerja yang empuk

✅ Beli samsak buat dipukulin pas stress


Aku waktu awal-awal kerja online langsung encok gara-gara gak punya kursi nyaman


👨🏻‍🎓"Ya sebenarnya gapapa sih kerjanya berat, asalkan gajinya sesuai"


Tenang, kebanyakan start-up itu bisa "diporotin" kok soal gaji


Kalau kamu bisa nego, gajinya bisa ngalahin pegawai BUMN bahkan tambang


Apalagi kalau balik ke pembahasan awal: kerja online. Dalam kasusku, aku tinggal di Jogja dengan gaji standar Jakarta


Yes, Indonesian Dream banget kan?


Tapi jangan kebalik. Kantornya di Jogja, tinggalnya di Jakarta


👨🏻‍🎓"Portofolio sama pengalaman kerja penting gak bang?"


PENTING


DI CV TUH HARUS TAROH PALING ATAS


Jangan IPK atau pengalaman organisasi


👨🏻‍🎓"Aku pengen jadi editor video tapi gak punya portofolio, gimana bang?"


Bikin aja video sendiri, terus post di sosmed. Gak usah diambil pusing


👨🏻‍🎓 "Bahasa Inggris penting gak bang?"


Untuk posisi tertentu iya, kayak penulis


Tapi secara umum enggak. Banyak kok temanku yang gak tau arti "salary" padahal tiap bulan nerima


Menurutku bukan bahasa Inggrisnya yang penting, tapi cara kita berkomunikasi dan membawa diri


Misalkan, kalau kamu ditanya, apa itu Bitcoin?


👨🏻‍🎓"Bitcoin adalah sistem blockchain yang..."


Kalau jawabnya begitu, kayaknya kamu lebih cocok jadi PNS deh


Kalau kamu tanya aku, aku bakal jawab begini


✅ "Bitcoin tuh kayak mata uang digital. Terus apa bedanya sama uang kita di bank, Gopay atau Ovo? Pertama mata uangnya beda, terus Bitcoin tuh ada sistem yang sulit banget dibobol. Bahkan kalau rekening bank, gopay, atau ovo-mu dinonaktifkan, uang tadi tuh akan tetap atas namamu dan gak ada yang bisa ambil. Misalkan nih yaa..."


Sekali lagi, komunikasi


👨🏻‍🎓 "Bang bener gak kalau kerja WFA itu, kita bisa gampang ambil kerjaan lain?"


Bener kalau kamu kuat. Tapi memang opportunity buat ambil kerja sampingan itu gede banget


👨🏻‍🎓 "Bang aku bisa nulis nih, tapi skillku rata-rata. Gimana caraku bisa bersaing?"


Bikin skillmu jadi spesifik


Misalkan aku yaa. Aku sekarang kerja sebagai penulis konten medsos edukasi keuangan


Kemampuan nulisku sebenarnya biasa aja


Tapi, aku nulis buat konten medsos

Lebih spesifik, kontennya edukasi keuangan

Lebih spesifik, tentang saham

Lebih spesifik, tentang analisis fundamental


Ada banyak yang lebih jago nulis dari aku


Tapi kalau kamu nyari penulis untuk konten medsos edukasi analisis fundamental saham, gak akan kemana-mana, kamu bakal ketemu aku


Dan kalau kamu nyari orang dengan skill sespesifik itu, artinya kamu serius soal pekerjaan & gaji


Kuncinya: kalau kamu gak bisa jadi si terbaik, jadilah si spesialis


👨🏻‍🎓 "Kalau konteksnya kayak gitu, mending aku tajamin skill nulis atau skill keuangannya?"


Skill keuangannya


👨🏻‍🎓 "Eh tapi bang, ada temenku kerja online gajinya di bawah UMR"


Setiap perusahaan emang punya kebijakannya masing-masing yaa


Kamu harus sadar kebanyakan start-up itu rugi. Bahkan 80-90% start-up tidak berhasil mendapatkan pendanaan apapun setelah seed funding


Start-up yang royal & sistem kerjanya bagus biasanya ada 2


✅ Udah dapet pendanaan minimal seri A (biasanya $1 juta atau Rp15 miliar)

✅ Bootstrap atau start-up yang udah untung


Nah kalau kamu mau kerjaan yang proper, opportunity yang besar di sana


Apalagi kalau posisimu sekarang lagi kerja. Itu para start-up pasti geregetan mau culik kamu


***


Nah ini aja sih dari aku. Kalau dirangkum, gimana caranya dapet kerja online?


✅ Kembangkan skill komunikasi & jangan gaptek

✅ Pelajari skill yang bisa dionlinekan di masa sekarang

✅ Bikin skillmu jadi spesifik

✅ Cari lowongan di platform tertentu, kalau bisa temenan sama anak start-up

✅ Bangun portofolio

✅ Kalau bisa cari perusahaan yang udah proper

✅ Jangan kaget kalau kerjanya sat-set dan banyak target

✅ Beli samsak buat dipukulin kalau lagi enakan

✅ Punya banyak stiker lucu di WA


Kalau ada lagi tambah-tambahin di komentar yaa


Share juga tulisan ini buat dibaca lagi nanti~