Monday, October 23, 2023

Gimana caranya mulai investasi saham modal Rp100 Ribu?

 Gimana caranya mulai investasi saham modal Rp100 Ribu?


🎗️ Long Post

#IzmulMencariUang


Buat yang belum tau, saham itu surat kepemilikan atas sebuah perusahaan


Misalkan, ada orang punya warung makan. Total aset bersihnya Rp100 juta


Terus kamu beli saham di warung itu Rp10 juta, atau 10% dari total aset bersihnya. Dengan kata lain, kamu memiliki 10% dari warung tadi


Misalkan warungnya bulan ini untung Rp20 juta, maka kamu berhak dapet 10%-nya alias Rp2 juta


Simpel kan?


➡️ "Terus kalau rugi gimana bang?"

➡️ "Emang ada bang warung bisa dibeli Rp100 ribu?"

➡️ "Kalau butuh duitnya bisa dijual gak bang?"

➡️ "Kalau dapet perusahaan jelek gimana bang?"

➡️ "Aku masih kejebak pinjol bang, gimana?"


Nah baca terus sampai bawah yaa. Nanti ketemu jawabannya


Di sini, yang aku tulis bukanlah cara beli saham warung pinggir jalan, tapi perusahaan besar. Kita ngomongin BCA, Telkom, Gojek, dan sejenisnya


✅ Cara belinya gimana?


Kamu harus beli ke namanya perusahaan sekuritas/broker/pialang/anggota bursa (istilahnya banyak banget, tapi semuanya sama kok)


Buat pemula, aku rekomendasi 2 ini

➡️ Ajaib

➡️ Stockbit


Kamu gak perlu ke kantornya, cukup download aplikasinya kok. Contohnya Ajaib di sini:


Android

https://play.google.com/store/apps/details?id=ajaib.co.id


iOS

https://apps.apple.com/id/app/ajaib-beli-saham-reksadana/id1473916571


Kamu bisa pakai kode referalku biar dapet saham gratis


✅ izmu562


Terus bikin akun, siapin KTP sama nomor rekening yaa. Bebas rekening apa aja


Tapi disclaimer, aku sendiri pakainya Mandiri Sekuritas. Karena pas pertama daftar tahun 2015 belum ada Ajaib sama Stockbit


Dan kebetulan, Mandiri Sekuritas ngadain seminar di kampusku, sekalian mereka bikinin rekening saham. Keterusan sampai sekarang


Tapi aku gak rekomendasi Mandiri Sekuritas buat pemula, karena fee broker mereka kurang ramah


"Fee broker apa bang?"


Kayak biaya layanan kalau kita pakai aplikasi mereka. Tapi gak banyak kok, kalau kamu beli saham Rp100 ribu, biaya layanannya paling Rp150 doang


Tapi di Mandiri Sekuritas, biayanya Rp5 ribu. Cukup menguras kantong. Makanya buat pemula aku rekomendasi Ajaib atau Stockbit


Oh ya, semua sekuritas bisa mulai investasi dari Rp100 ribu kok. Jangan percaya kalau ada yang bilang minimalnya Rp10 juta, biasanya ini perkataan sales


✅ "Oke bang, aku udah daftar. Selanjutnya gimana?"


Sebelumnya kamu harus tau, ada 2 cara dapet untung di saham


📈 Harga sahammu naik. Misalkan kamu beli saham harganya Rp100 ribu, bulan depan jadi Rp120 ribu, maka kamu untung Rp20 ribu. Ini disebut capital gain


📈 Pembagian keuntungan perusahaan, kayak ilustrasi warung makan di awal tulisan ini, namanya dividen


Tapi di sisi lain, ini risikonya


📉 Harga saham bergerak tiap hari (hari kerja, dari jam 9 sampai 4 WIB). Tentu saja harga sahamnya bisa turun. Ini namanya capital loss


📉 Perusahaannya bangkrut


"Loh kalau perusahaannya rugi gimana bang? Apa kita nanggung kerugiannya juga?"


Baca pelan-pelan yaa: enggak secara langsung


Misalkan kasus warung yang aku bahas di awal tadi. Kita punya 10% kepemilikan, terus warungnya rugi Rp20 juta. Apa kita harus setor uang ke warungnya Rp2 juta? Enggak


"Biasanya" kalau warung rugi, ini yang terjadi


➡️ Kita gak dapat pembagian keuntungan alias dividen


➡️ Warungnya kan rugi Rp20 juta, otomatis aset bersihnya berkurang dari Rp100 juta ke Rp80 juta. Maka sahammu yang awalnya Rp10 juta jadi tinggal Rp8 juta


✅ "Oke bang, aku udah paham. Terus saham apa nih yang harus ku beli?"


Ada banyak cara buat pilih saham. Secara garis besar ada 2


➡️ Fundamental. Di sini kita bener-bener melihat kinerja perusahaannya, dari bisnisnya apa, keuangannya gimana, hingga manajemennya bagus atau enggak. Biasanya cara fundamental identik sama investasi jangka panjang, minimal 3 tahun


➡️ Teknikal. Di sini kita melihat data masa lalu untuk menentukan pergerakan sahamnya di masa depan. Identik sama investasi jangka pendek, walau dipakai jangka panjang juga bisa


Untuk pemula, saranku coba aja semua


Tapi mulai dari modal kecil dulu, kayak Rp100 ribu. Ibaratnya kalau untung syukur, kalau rugi anggap uang belajar


Di youtube sebenarnya banyak yang bikin konten tentang 2 analisis ini. Tapi jujur aja, materinya kurang terstruktur, pisah-pisah, dan belum tentu sesuai sama kebutuhanmu


Misalnya, kamu pekerja kantoran yang gak bisa cek saham di siang hari karena kerja. Kamu gak cocok analisis teknikal karena di sini kamu harus sering pantau sahamnya


Atau kamu lagi pengen nabung buat beli rumah 4 tahun lagi. Maka cocok di analisis fundamental. Tapi fundamental banyak cabangnya, ada yang value investing, core investing, cyclical investing, dan banyak lagi


Aku sendiri butuh waktu 2 tahun buat belajar ini semua


Di akun ini, aku sering banget share soal saham. Jadi kalau kamu mau tau lebih lanjut biar gak perlu nunggu 2 tahun kayak aku:


➡️ Save dan share postingan ini buat dibaca nanti

➡️ Add/follow akun ini biar kamu update soal saham (aku juga share banyak meme lucu)

➡️ Kalau kamu pengen belajar lebih lanjut atau konsultasi soal keuangan, chat aja


✅ "Bang ini kalau ku hantam beli Rp100 juta sekalian aman kah?"


Sebenarnya aman aja. Ini bukan aplikasi scam kayak Jombingo atau Vtube kok


Soal diawasi OJK gak perlu kamu pertanyakan lagi


Dalam 20 tahun terakhir, dari ratusan sekuritas, hanya ada 2 yang bangkrut. Itu pun pas 2008, karena krisis, dan uang nasabahnya dipindah ke sekuritas lain, jadi tetap aman


Belum ada cerita aplikasi baru setahun udah hilang, scam


Karena Ajaib, Stockbit, Mandiri Sekuritas, dan lain-lain itu aplikasi serius. Bahkan Mandiri Sekuritas itu aplikasi yang dibikin sama Bank Mandiri. Kalau aplikasinya hilang, kamu labrak aja kantornya dekat rumahmu


Uang dan saham kita juga sebenarnya enggak disimpan di aplikasi ini. Tapi disimpan di bank Kustodian


💸 Ajaib ➡️ Disimpan di Bank BCA & Permata

💸 Stockbit ➡️ BCA & Bank Jago

💸 Mandiri Sekuritas ➡️ Tentu saja bank Mandiri


Jadi kalau kamu beli saham di Stockbit, keamanannya setara sama BCA


Siapa yang meragukan BCA?


Tapi disclaimer, saham tuh bukan jalan cepat menjadi kaya. Normalnya kita hanya untung 10-20% setahun


Misalnya modalmu Rp100 juta, maka normalnya setahun cuma untung Rp10-20 juta


Yes, kalau modalnya Rp100 ribu, normalnya untung cuma Rp10-20 ribu per tahun


Dikit banget yah? Iya, makanya kalau belum punya duit tuh kerja, jangan beli saham


Tapi kalau kamu menempatkan uang Rp100 ribu tadi buat belajar (belum cari uang), sangat worth it kok


Dan jangan bayangin kalau modalmu Rp100 juta


➡️ 2024 jadi Rp120 juta (untung 20%)

➡️ 2025 jadi Rp144 juta (compounding)

➡️ 2026 jadi Rp173 juta


Yang sering terjadi:


➡️ 2024 gak kemana-mana tetap Rp100 juta

➡️ 2025 rugi jadi Rp90 juta

➡️ 2026 tiba-tiba untung 2x lipat jadi Rp180 juta


Itu pun kalau cara investasinya bener. Makanya aku sangat rekomendasi investasi di ilmunya dulu


Lalu seiring waktu, tambah terus modalnya. Aku sendiri dulu nabung Rp200 ribu per bulan. Sekarang jangan ditanya lagi deh


Keuntungannya mungkin belum kamu rasain sekarang. Tapi 5-10 tahun ke depan, kamu akan berterima kasih pada dirimu sendiri karena belajar saham hari ini


✅ "Terus yang di gambar itu apa bang?"


Oh itu tabletku, harganya cuma Rp2 jutaan kok dah termasuk printilannya. Aku gak mau pamer kayak Indra Kenz


Sekalian nunjukin ke kalian kalau saham bukan jalan cepat menjadi kaya, karena aku juga belum kaya-kaya 😂


Tapi kalau kamu invest Rp1 juta sebulan, untung rata-rata 12% per tahun, kalau aku hitung di excel, selama 20 tahun asetmu harusnya hampir Rp1 miliar


Kalau kamu mulai di usia 25 tahun, kamu bakal dapetin ini di usia 45 tahun. Masih bugar


➡️ Bayangin kalau nabungnya lebih kenceng

➡️ Bayangin kalau kamu belajar saham sampai akarnya, dan dapet 20% setahun


Kira-kira asetmu udah berapa?


✅ "Share dong bang pengalamanmu di saham"


Aku kenal saham tahun 2013, karena waktu itu ada olimpiade Pasar Modal, dan aku tembus sampai tingkat nasional


Tapi, aku baru bikin rekening saham pas lulus SMA tahun 2015, dan kayak yang ku mention sebelumnya, Mandiri Sekuritas ngadain seminar + pembukaan rekening saham di kampusku


Awalnya, aku sisihin uang jajan Rp200 ribu per bulan buat beli saham


Tapi di 2 tahun pertama, aku rugi karena beli saham sembarangan


Asetku yang di tahun 2017 harusnya jadi Rp5 juta, tinggal sisa Rp2,5 juta aja. Buat mahasiswa, ini artinya gak makan sebulan


Makanya aku sangat saranin kamu buat invest ke ilmunya dulu, sambil belajar pakai modal kecil


➡️ Start small

➡️ Fail smaller

➡️ Learn bigger


Baru di tahun 2017, aku memutuskan buat fokus ke analisis fundamental. Terus aku investasi di saham PT Indah Kiat Pulp & Paper (INKP) di harga Rp2.000 per lembar


Oh ya buat kamu yang belum tau, harga saham di aplikasi ditulis dalam satuan lembar


Tapi, belinya minimal 1 lot alias 100 lembar


Jadi modal minimal yang harus kamu keluarkan buat beli INKP seharga Rp2.000 = 2000x100 = Rp200 ribu


Sama fee broker sekitar 300 perak


Tapi tenang aja, banyak kok saham yang bisa dibeli di bawah Rp100 ribu. Contohnya PT Sidomuncul (SIDO, produsen Tolak Angin), sekarang 1 lot harganya cuma Rp60 ribuan


Lalu nama saham juga ditulis dalam kode 4 huruf


Telkom ➡️ TLKM

Bank Mandiri ➡️ BMRI

Unilever ➡️ UNVR


dan seterusnya


Apa pertimbanganku buat beli INKP waktu itu?


Padahal INKP ini perusahaan kertas, yang kalau dipikir, di zaman yang serba online harusnya kertas gak dipakai lagi


Tapi, ada perspektif lain


Kalau aku gak salah ingat, waktu itu aset bersih INKP sekitar Rp50 triliun. Tapi kalau kamu beli semua sahamnya, kamu hanya perlu keluarin uang Rp10 triliun. Lebih murah 5x lipatnya


Artinya kalau aku beli Rp2 juta, aku sebenarnya dapet aset bersih 5x lipatnya alias Rp10 juta. Gokil gak tuh?


Ini yang disebut saham murah


Dan ini bisa terjadi di dunia saham, walau gak sering


Selain itu

➡️ INKP perusahaan kertas skala dunia

➡️ Manajemennya gak pernah kena kasus korupsi

➡️ Utangnya dikit

➡️ Waktu itu harga kertas lagi naik karena banyak buat packing belanja online


Aku beli, dan hanya beberapa bulan, harga sahamnya naik +150% ke harga Rp5.000


Aku beli Rp2 jutaan ➡️ jadi Rp5 jutaan hanya dalam beberapa bulan. Lalu ku jual


Akhirnya uangku kembali pulih


Tapi agak nyesel, karena setahun kemudian, INKP naik ke harga Rp20.000, artinya kalau aku sabar setahun aja, uangku yang tadi bisa naik 10x lipat alias jadi Rp20 juta


Buat mahasiswa segini tuh banyak banget, bisa buat hidup hampir setahun di Jogja


Walau agak nyesel, tapi aku dapet yang lebih penting: pelajarannya. Di tahun-tahun setelahnya, aku udah jarang salah pilih saham


Ini sahamku yang harganya naik 2x lipat (yang ku inget)


➡️ 2017 INKP

➡️ 2018 PTBA

➡️ 2019 WEGE

➡ 2020 BRIS, ANTM

➡️ 2021 zonk wkwkwk

➡️ 2022 PTBA, BBNI, SMKL, PNLF

➡️ 2023 ABMM


Belum dividennya. Apalagi si PTBA itu dividennya super gede banget. Makanya aku berani beli 2x


Sekali lagi, aku berterima kasih pada diriku 10 tahun lalu karena memberanikan diri belajar saham


Dan dalam rentang waktu itu, secara pararel aku juga nambah penghasilanku lewat karir, self employee, dan bisnis


Tentu saham ada risikonya. Tapi kata Warren Buffett, investor tersukses sepanjang masa: risiko tuh datang dari ketidaktahuan


Jadi semakin kamu belajar, risikonya semakin dikit


Nah kalau kamu gimana? 

Mau kenalan sama saham sekarang, atau 10 tahun lagi pas orang lain yang baca status ini udah kaya?

Ada yang mau diajari cara membaca Surat Kabar atau Koran yang selanjutnya di Mappingkan untuk melihat Prediksi yang Akurat melihat kedepan???

 Ada yang mau diajari cara membaca Surat Kabar atau Koran yang selanjutnya di Mappingkan untuk melihat Prediksi yang Akurat melihat kedepan???


Logika

Nalar

Mapping


By Data dan Terukur dan kita buat Prediksi yang akhirnya Kesimpulan. 


Harus bertatap muka dan langsung praktek, sehingga anda bisa Membeli atau Menjual tepat waktu.


Mau dimanapun jika sudah mendapatkan pelajaran Cara Berpikir dan Cara Bekerja dari #AllNewPiranhamas, pasti #Bathine #BathiThok #BathiPokoke #BathiBathi.

IDX Composite

FTSE Indonesia

IDX Kompas 100

IDX PEFINDO-25

IDX LQ45

Tambahan Saham yang ngasih dividen

 Tambahan dikit pak guru Agus Setiyawan, kalau bisa yang ngasih devidend tahunan rutin dengan Yield diatas 5% sehingga kalau sahamnya dibawa turun nggak panik karena tiap tahun dapat dividend yang nilainya sama seperti ngontrakkan rumah.

Mapping Perusahaan Untuk Saham

 Di mappingkan dalam 3 :

1. Perusahaan dalam setahun

2. Perusahaan dalan sebulan

3. Dan perusahaan yang hit dan run


Semua bisa selama, data mapping jelas dengan dalam menganalisa.

MENGUMPULKAN PUZZLE YANG BERTEBARAN DI SAHAM

 MENGUMPULKAN PUZZLE YANG BERTEBARAN DI SAHAM

.

Aslinya hanya kayak anak yang bermain main puzzle yang bertebaran. Kita harus mulai darimana, bagaimana memetakan, bagaimana menyusun yang cepat dll. Beruntung Saya sudah mendapatkan ilmu ini dari Pak suhu Agus Setiyawan, yg ternyata bisa diterapkan dimana Mana.


Sebagai contoh Saya terapkan di trading saham.


Saya baru baru ini baca berita bahwa SEKOLAH MULAI MASUK BULAN JANUARI 2021, langsung kepikiran apa yg bisa Jadi uang dengan Cepat? Perusahaan apa yg kira2 diuntungkan? Googling laporan keuangan nya 1Q 2Q 3Q, lihat chart nya bagus gaknya, jadilah uang Cepat.


Jadilah kepikiran TKIM atau pabrik kertas tjiwi kimia. Kok TKIM? Ya iyalah, kalo anak masuk sekolah dll kebutuhan kertas kan ningkat tajam Beeli pagi juaal sore, dapat 10%....lumayan dapat untuung sekitar Rp 2.5jt duduk Manis.


Mulailah belajar dari Cara yg Paling mudah Dulu, minim resiko, untuk jangka panjang, yakni menabung atau investasi saham dimana Hari Sabtu tanggal 5 Desember 2020 ini Ada workshop nya.


Bukan Saya Yang ngadakan, karena Saya minim pengetahuan. Diadakan oleh expert nya di bidang ini yakni Pak Kunardi founder dari Happy Billionaire Club.


Info detail bisa Saya Bantu, silahkan Komen ninggal jejak.


#BelajarNabungSaham

#BelajarInvestasiSaham

#WorkshopMenabungSaham

Kaidah Saham Piranhamas

 #KaidahSaham All New Piranhamas :


PE Ratio

PE = Price To Earning RENDAH

PB = Price To Book RENDAH


Gunakan

Fitur KEYSTATS

Aplikasi STOCKBIT


Price To Book Value


Management :

Jujur

Profesional

Berintregitas


Sederhanakan yang Rumit

Mudahkanlah yang Sulit

Gampangkanlah yang Sukar


cc : Purnomo Sony

Thursday, October 19, 2023

Kalau anda beli saham Unilever sekarang, balik modalnya 33 tahun lagi

 Kalau anda beli saham Unilever sekarang, balik modalnya 33 tahun lagi.


Perhatian: tulisan ini panjang

#IzmulMencariUang


Ini lucu, tapi beneran ada. Selama membuka jasa konsultasi keuangan, saya beberapa kali menemukan mindset begini:


Misalkan ada saham, harga Rp 1.000, tapi dia bilang mau beli di harga Rp 1.100. Alasannya, dia kira dengan beli di harga mahal keuntungan yang didapat juga akan banyak. Dia juga bangga beli sesuatu yang mahal.


Inilah alasan kenapa masih ada yang beli kopi Starbucks seharga Rp 50.000 daripada kopi tubruk Rp 3.000. Rasa beda tipis, bahkan sama-sama bikin batu ginjal kalau dikonsumsi banyak.


Tapi dengan beli di harga segitu, dia berkumpul bersama orang yang mampu beli di harga segitu juga. Dia kira, harga selalu menentukan kualitas, meski kopi itu sama-sama datang dari beraknya Luwak.


Ternyata, memang ada ilmunya. Saya pernah ngobrol dengan kakak kelas yang jadi marketing di Nestle. Katanya, walau produknya sama, kadang yang mahal lebih laku.


Ini adalah mindset konsumsi. Tapi jangan dibawa ke investasi. Saya sering menulis tentang mindset investasi di blog pribadi. Silakan baca.


Agar mudah dipahami masyarakat awam, kita bakal meninjau saham Unilever dengan metode Simple Payback Period.


Sederhananya begini, ada bisnis seharga Rp 10 juta, kemudian dia bisa untung bersih setahun Rp 2 juta. Artinya, anda bakal balik modal dalam waktu 5 tahun (10 dibagi 2).


Data seperti inflasi, MARR, growth, nilai sisa, dan lain-lain diabaikan dulu. Biar tulisan ini enggak kepanjangan dan mudah dipahami.


Bayangkan kalau anda beli bisnis itu seharga Rp 20 juta, maka balik modalnya 10 tahun. Bisnisnya jadi semakin tidak menarik, walau harganya mahal. Tapi kalau anda belinya di harga Rp 6 juta, maka balik modalnya hanya 3 tahun, sehingga bisnisnya jadi makin menarik. Di sinilah mindset investasinya, semakin murah semakin bagus.


Lalu, saya sering dapat pertanyaan begini:


"Koh, perusahaan Unilever kan berfundamental bagus, kok harga sahamnya turun terus sejak 2018?"


Kalau analisis fundamentalnya bener, hasil akhirnya bukan perusahaan itu bagus atau enggak, tapi valuasinya.


Unilever itu ibaratnya begini: ada warung, punya aset bersih Rp 10 juta. Dalam setahun, warung tersebut bisa punya untung bersih Rp 14,5 juta. Selama 10 tahun, dia konsisten begitu. Semua orang bakal bilang ini warung bagus.


Terus anda datang ke pemiliknya, bilang "pak/buk, saya mau beli ini warung. Harganya kena berapa?"


Kemudian pemilik warungnya bilang "saya baru berani lepas kalau kena Rp 480 juta."


Dia gak bakal mau jual seharga Rp 10 juta sesuai jumlah aset bersihnya. Karena ini warung bagus, setahun untung sudah melebihi aset. Dia bisa kehilangan mesin uang kalau jual murah.


Anda jadi beli? Kalau saya, tentu tidak. Laba 14,5 juta setahun, berarti saya secara Simple Payback Period baru balik modal 33 tahun lagi.


Ini bisnis yang buruk, walau perusahaannya baik.


Sebagai gambaran, balik modal normal untuk bisnis beda-beda bergantung skala bisnisnya. Kalau skala kecil seperti UMKM, kurang dari 5 tahun biasanya sudah balik modal. Kalau yang besar, biasanya di atas 15 tahun.


Bahkan kalau bisnis baru, misalkan gerobakan jual pisang goreng, balik modalnya bisa kurang dari setahun.


Mungkin, kalau warung itu dijual seharga Rp 145 juta saya masih akan pertimbangkan buat beli. Karena 10 tahun bisa balik modal.


Inilah sebabnya, mindset investasi beda dengan konsumsi. Di investasi, anda harus benar-benar bertanya, harganya berapa?


Di saham Unilever, anda perlu menunggu 33 tahun. Siapa yang mau investasi seperti ini?


Bahkan pernah suatu waktu warung ini dijual di harga Rp 600 juta lebih. Wes angel. Karena gak ada yang mau beli, akhirnya harga turun sampai sekarang menyentuh Rp 480 juta.


Begitulah kondisi saham Unilever sekarang. Makanya harganya turun terus: karena valuasinya kemahalan.


Selain itu, warung ini selama 10 tahun terakhir "gitu-gitu aja." Anda bisa cermati di gambar.


Penjualan Unilever selama 10 tahun terakhir hanya naik sebesar 118%. Beda sama pesaingnya, warung Mayora yang jualan Mie Gelas, naik sebanyak 225%.


Pun aset bersihnya. Selama 10 tahun warung Unilever cuma naik 21,9%. Beda sama warung Mayora yang sudah naik 427%.


Sebagai gambaran, kalau diibaratkan warung, Unilever ini 10 tahun lalu punya aset Rp 8,2 juta. Sekarang, cuma nambah Rp 1,8 juta.


Mengapa hal ini terjadi? Dalam pandangan saya ada dua alasan.


Pertama, seluruh laba bersih yang 14,5 juta itu dipakai buat hidup si pemilik warung. Tidak ada sisa buat nambah aset warung tersebut, seperti nambah kursi, bikin cabang, beli menu baru, dan sebagainya.


Kecuali 2 tahun terakhir, Unilever konsisten alokasi sekitar setengah keuntungannya buat nambah aset.


Kedua, hampir tidak ada pasar baru untuk dipenetrasi.


Kalau anda baca laporan tahunannya, dari paparan manajemen, mereka hanya berinovasi pada produk. Jadi, tiap tahun mereka launching produk baru. Kalau tidak salah 2019 mereka ada 4 produk baru di bidang kosmetik.


Tapi, mereka enggak ekspansi di bidang pasar. Bukan gak mau, tapi kayaknya memang gak bisa.


Ibaratnya, di pedalaman yang belum ada jalan daratnya pun, sabun Lifebuoy menguasai pasar. Jadi, mereka mau jualan di mana lagi?


Unilever ini kan aslinya perusahaan asing yang buka cabang di Indonesia. Mereka susah mau ekspor, karena di negara lain sudah ada cabangnya juga. Contoh, pasar Malaysia, ya dikuasai Unilever Malaysia.


Beda sama perusahaan kayak Sidomuncul, mereka bisa ekspor produk ke manapun. Jadi, peluang penjualannya tumbuh sangat besar.


Itulah sebabnya pada tahun 2019, pertumbuhan penjualan Unilever hanya 2,7%.


Apalagi, hampir semua produk mereka adalah market leader di bidang masing-masing. Ibaratnya, sabun mana yang lebih laku dari Lifebuoy?


Ke depan, sabun ini hanya punya 2 pilihan: bertahan atau diambil pasarnya oleh sabun lain. Sedangkan sabun lain, pilihannya nambah satu: mengambil pasarnya Lifebouy.


Melihat pasar mereka yang terbatas, maka penjualan hanya akan meningkat mengikuti Produk Domestik Bruto yang kisaran 5%. Kalau lebih, artinya hebat.


Apalagi, utang di kuartal 4 2020 meningkat gila. Sepertinya ini utang usaha sih, bukan utang bank atau obligasi.


Tapi kalau anda investasi di P2P Lending, anda pasti tau ada gosip yang beredar. Akhir-akhir ini cukup banyak vendornya Unilever yang gagal bayar utang. Gak usah saya sebutin lah nama-namanya ahahaa.


Inilah sebabnya, selama 10 tahun jualan sabun, saham Unilever hanya naik sebesar 198%. Beda sama yang jualan Mie Gelas, naik sampai 1800%.


It's still a good Investment. Ibaratnya kalau 10 tahun anda taruh duit di deposito bank dengan bunga 5% setahun, hari ini aset anda hanya bertumbuh 62,8%. Belum kena biaya admin.


Karena harga saham Unilever udah kemahalan, akhirnya secara perlahan, dia menuju ke "harga wajarnya."


Harga yang wajar di mana bisnis Unilever itu dihargai.


"Tapi koh, naik turunnya saham kan suka-suka bandar."


Anda kira berapa banyak manajer reksadana dan hedge fund yang beli saham Unilever selama 3 tahun terakhir dan rugi sampai sekarang?


Tiap hari ada asing beli ini saham, pun manajer reksadana dan hedge funding. Apakah harga sahamnya naik? Enggak.


Apalagi, saham-saham model Unilever begini memang tidak diperuntukkan mencari capital gain. Dia dapat untung dari dividennya. Jadi, cocok investasi jangka panjang untuk membentuk pendapatan pasif.


Tapi masalahnya, kalau mau membentuk pendapatan pasif dari Unilever pun berat. Dari dulu, dividen sahamnya segitu-segitu aja. Beda kalau anda membangun pendapatan pasif dari saham BCA, hari ini dapat dividen Rp 500an, 15 tahun lagi bisa jadi Rp 5 ribuan setahun.


Ke depan, dengan kebijakan enggak bagikan dividen banyak-banyak, semoga ekuitas perusahaan bisa naik.


Dan semoga, perusahaan terus berinovasi. Inovasi manusia memang tidak ada batasnya.


Akhir kata, Unilever perusahaan bagus. Sangat bagus. Tapi kalau kemahalan, gak ada yang mau beli juga.


Terus kapan waktu yang cocok buat beli Unilever ini? Saya pribadi di harga sekarang sudah lumayan menarik. Tapi disarankan beli antara Rp 5.500 sampai Rp 6.000.


Tapi ya, kalau mau jujur-jujuran. Paling bagus di harga Rp 2.000 sampai 2.300. Tapi kayaknya berat banget kalau mau sampai harga segini.


Ngerti gak? Kalau gak ngerti, kami buka jasa konsultasi keuangan, termasuk ngasih masukan tentang analisis saham. Murah kok, per jam konsultasi cuma bayar Rp 10.000. Undervalue sekali, bukan?


Kalau cewe, saya punya fitur khusus jelasin pake vn.


Jangan lupa gabung ke grup Telegram:

https://t.me/sutakananinvestment


Selamat berinvestasi!