Monday, October 23, 2023

Gimana caranya mulai investasi saham modal Rp100 Ribu?

 Gimana caranya mulai investasi saham modal Rp100 Ribu?


🎗️ Long Post

#IzmulMencariUang


Buat yang belum tau, saham itu surat kepemilikan atas sebuah perusahaan


Misalkan, ada orang punya warung makan. Total aset bersihnya Rp100 juta


Terus kamu beli saham di warung itu Rp10 juta, atau 10% dari total aset bersihnya. Dengan kata lain, kamu memiliki 10% dari warung tadi


Misalkan warungnya bulan ini untung Rp20 juta, maka kamu berhak dapet 10%-nya alias Rp2 juta


Simpel kan?


➡️ "Terus kalau rugi gimana bang?"

➡️ "Emang ada bang warung bisa dibeli Rp100 ribu?"

➡️ "Kalau butuh duitnya bisa dijual gak bang?"

➡️ "Kalau dapet perusahaan jelek gimana bang?"

➡️ "Aku masih kejebak pinjol bang, gimana?"


Nah baca terus sampai bawah yaa. Nanti ketemu jawabannya


Di sini, yang aku tulis bukanlah cara beli saham warung pinggir jalan, tapi perusahaan besar. Kita ngomongin BCA, Telkom, Gojek, dan sejenisnya


✅ Cara belinya gimana?


Kamu harus beli ke namanya perusahaan sekuritas/broker/pialang/anggota bursa (istilahnya banyak banget, tapi semuanya sama kok)


Buat pemula, aku rekomendasi 2 ini

➡️ Ajaib

➡️ Stockbit


Kamu gak perlu ke kantornya, cukup download aplikasinya kok. Contohnya Ajaib di sini:


Android

https://play.google.com/store/apps/details?id=ajaib.co.id


iOS

https://apps.apple.com/id/app/ajaib-beli-saham-reksadana/id1473916571


Kamu bisa pakai kode referalku biar dapet saham gratis


✅ izmu562


Terus bikin akun, siapin KTP sama nomor rekening yaa. Bebas rekening apa aja


Tapi disclaimer, aku sendiri pakainya Mandiri Sekuritas. Karena pas pertama daftar tahun 2015 belum ada Ajaib sama Stockbit


Dan kebetulan, Mandiri Sekuritas ngadain seminar di kampusku, sekalian mereka bikinin rekening saham. Keterusan sampai sekarang


Tapi aku gak rekomendasi Mandiri Sekuritas buat pemula, karena fee broker mereka kurang ramah


"Fee broker apa bang?"


Kayak biaya layanan kalau kita pakai aplikasi mereka. Tapi gak banyak kok, kalau kamu beli saham Rp100 ribu, biaya layanannya paling Rp150 doang


Tapi di Mandiri Sekuritas, biayanya Rp5 ribu. Cukup menguras kantong. Makanya buat pemula aku rekomendasi Ajaib atau Stockbit


Oh ya, semua sekuritas bisa mulai investasi dari Rp100 ribu kok. Jangan percaya kalau ada yang bilang minimalnya Rp10 juta, biasanya ini perkataan sales


✅ "Oke bang, aku udah daftar. Selanjutnya gimana?"


Sebelumnya kamu harus tau, ada 2 cara dapet untung di saham


📈 Harga sahammu naik. Misalkan kamu beli saham harganya Rp100 ribu, bulan depan jadi Rp120 ribu, maka kamu untung Rp20 ribu. Ini disebut capital gain


📈 Pembagian keuntungan perusahaan, kayak ilustrasi warung makan di awal tulisan ini, namanya dividen


Tapi di sisi lain, ini risikonya


📉 Harga saham bergerak tiap hari (hari kerja, dari jam 9 sampai 4 WIB). Tentu saja harga sahamnya bisa turun. Ini namanya capital loss


📉 Perusahaannya bangkrut


"Loh kalau perusahaannya rugi gimana bang? Apa kita nanggung kerugiannya juga?"


Baca pelan-pelan yaa: enggak secara langsung


Misalkan kasus warung yang aku bahas di awal tadi. Kita punya 10% kepemilikan, terus warungnya rugi Rp20 juta. Apa kita harus setor uang ke warungnya Rp2 juta? Enggak


"Biasanya" kalau warung rugi, ini yang terjadi


➡️ Kita gak dapat pembagian keuntungan alias dividen


➡️ Warungnya kan rugi Rp20 juta, otomatis aset bersihnya berkurang dari Rp100 juta ke Rp80 juta. Maka sahammu yang awalnya Rp10 juta jadi tinggal Rp8 juta


✅ "Oke bang, aku udah paham. Terus saham apa nih yang harus ku beli?"


Ada banyak cara buat pilih saham. Secara garis besar ada 2


➡️ Fundamental. Di sini kita bener-bener melihat kinerja perusahaannya, dari bisnisnya apa, keuangannya gimana, hingga manajemennya bagus atau enggak. Biasanya cara fundamental identik sama investasi jangka panjang, minimal 3 tahun


➡️ Teknikal. Di sini kita melihat data masa lalu untuk menentukan pergerakan sahamnya di masa depan. Identik sama investasi jangka pendek, walau dipakai jangka panjang juga bisa


Untuk pemula, saranku coba aja semua


Tapi mulai dari modal kecil dulu, kayak Rp100 ribu. Ibaratnya kalau untung syukur, kalau rugi anggap uang belajar


Di youtube sebenarnya banyak yang bikin konten tentang 2 analisis ini. Tapi jujur aja, materinya kurang terstruktur, pisah-pisah, dan belum tentu sesuai sama kebutuhanmu


Misalnya, kamu pekerja kantoran yang gak bisa cek saham di siang hari karena kerja. Kamu gak cocok analisis teknikal karena di sini kamu harus sering pantau sahamnya


Atau kamu lagi pengen nabung buat beli rumah 4 tahun lagi. Maka cocok di analisis fundamental. Tapi fundamental banyak cabangnya, ada yang value investing, core investing, cyclical investing, dan banyak lagi


Aku sendiri butuh waktu 2 tahun buat belajar ini semua


Di akun ini, aku sering banget share soal saham. Jadi kalau kamu mau tau lebih lanjut biar gak perlu nunggu 2 tahun kayak aku:


➡️ Save dan share postingan ini buat dibaca nanti

➡️ Add/follow akun ini biar kamu update soal saham (aku juga share banyak meme lucu)

➡️ Kalau kamu pengen belajar lebih lanjut atau konsultasi soal keuangan, chat aja


✅ "Bang ini kalau ku hantam beli Rp100 juta sekalian aman kah?"


Sebenarnya aman aja. Ini bukan aplikasi scam kayak Jombingo atau Vtube kok


Soal diawasi OJK gak perlu kamu pertanyakan lagi


Dalam 20 tahun terakhir, dari ratusan sekuritas, hanya ada 2 yang bangkrut. Itu pun pas 2008, karena krisis, dan uang nasabahnya dipindah ke sekuritas lain, jadi tetap aman


Belum ada cerita aplikasi baru setahun udah hilang, scam


Karena Ajaib, Stockbit, Mandiri Sekuritas, dan lain-lain itu aplikasi serius. Bahkan Mandiri Sekuritas itu aplikasi yang dibikin sama Bank Mandiri. Kalau aplikasinya hilang, kamu labrak aja kantornya dekat rumahmu


Uang dan saham kita juga sebenarnya enggak disimpan di aplikasi ini. Tapi disimpan di bank Kustodian


💸 Ajaib ➡️ Disimpan di Bank BCA & Permata

💸 Stockbit ➡️ BCA & Bank Jago

💸 Mandiri Sekuritas ➡️ Tentu saja bank Mandiri


Jadi kalau kamu beli saham di Stockbit, keamanannya setara sama BCA


Siapa yang meragukan BCA?


Tapi disclaimer, saham tuh bukan jalan cepat menjadi kaya. Normalnya kita hanya untung 10-20% setahun


Misalnya modalmu Rp100 juta, maka normalnya setahun cuma untung Rp10-20 juta


Yes, kalau modalnya Rp100 ribu, normalnya untung cuma Rp10-20 ribu per tahun


Dikit banget yah? Iya, makanya kalau belum punya duit tuh kerja, jangan beli saham


Tapi kalau kamu menempatkan uang Rp100 ribu tadi buat belajar (belum cari uang), sangat worth it kok


Dan jangan bayangin kalau modalmu Rp100 juta


➡️ 2024 jadi Rp120 juta (untung 20%)

➡️ 2025 jadi Rp144 juta (compounding)

➡️ 2026 jadi Rp173 juta


Yang sering terjadi:


➡️ 2024 gak kemana-mana tetap Rp100 juta

➡️ 2025 rugi jadi Rp90 juta

➡️ 2026 tiba-tiba untung 2x lipat jadi Rp180 juta


Itu pun kalau cara investasinya bener. Makanya aku sangat rekomendasi investasi di ilmunya dulu


Lalu seiring waktu, tambah terus modalnya. Aku sendiri dulu nabung Rp200 ribu per bulan. Sekarang jangan ditanya lagi deh


Keuntungannya mungkin belum kamu rasain sekarang. Tapi 5-10 tahun ke depan, kamu akan berterima kasih pada dirimu sendiri karena belajar saham hari ini


✅ "Terus yang di gambar itu apa bang?"


Oh itu tabletku, harganya cuma Rp2 jutaan kok dah termasuk printilannya. Aku gak mau pamer kayak Indra Kenz


Sekalian nunjukin ke kalian kalau saham bukan jalan cepat menjadi kaya, karena aku juga belum kaya-kaya 😂


Tapi kalau kamu invest Rp1 juta sebulan, untung rata-rata 12% per tahun, kalau aku hitung di excel, selama 20 tahun asetmu harusnya hampir Rp1 miliar


Kalau kamu mulai di usia 25 tahun, kamu bakal dapetin ini di usia 45 tahun. Masih bugar


➡️ Bayangin kalau nabungnya lebih kenceng

➡️ Bayangin kalau kamu belajar saham sampai akarnya, dan dapet 20% setahun


Kira-kira asetmu udah berapa?


✅ "Share dong bang pengalamanmu di saham"


Aku kenal saham tahun 2013, karena waktu itu ada olimpiade Pasar Modal, dan aku tembus sampai tingkat nasional


Tapi, aku baru bikin rekening saham pas lulus SMA tahun 2015, dan kayak yang ku mention sebelumnya, Mandiri Sekuritas ngadain seminar + pembukaan rekening saham di kampusku


Awalnya, aku sisihin uang jajan Rp200 ribu per bulan buat beli saham


Tapi di 2 tahun pertama, aku rugi karena beli saham sembarangan


Asetku yang di tahun 2017 harusnya jadi Rp5 juta, tinggal sisa Rp2,5 juta aja. Buat mahasiswa, ini artinya gak makan sebulan


Makanya aku sangat saranin kamu buat invest ke ilmunya dulu, sambil belajar pakai modal kecil


➡️ Start small

➡️ Fail smaller

➡️ Learn bigger


Baru di tahun 2017, aku memutuskan buat fokus ke analisis fundamental. Terus aku investasi di saham PT Indah Kiat Pulp & Paper (INKP) di harga Rp2.000 per lembar


Oh ya buat kamu yang belum tau, harga saham di aplikasi ditulis dalam satuan lembar


Tapi, belinya minimal 1 lot alias 100 lembar


Jadi modal minimal yang harus kamu keluarkan buat beli INKP seharga Rp2.000 = 2000x100 = Rp200 ribu


Sama fee broker sekitar 300 perak


Tapi tenang aja, banyak kok saham yang bisa dibeli di bawah Rp100 ribu. Contohnya PT Sidomuncul (SIDO, produsen Tolak Angin), sekarang 1 lot harganya cuma Rp60 ribuan


Lalu nama saham juga ditulis dalam kode 4 huruf


Telkom ➡️ TLKM

Bank Mandiri ➡️ BMRI

Unilever ➡️ UNVR


dan seterusnya


Apa pertimbanganku buat beli INKP waktu itu?


Padahal INKP ini perusahaan kertas, yang kalau dipikir, di zaman yang serba online harusnya kertas gak dipakai lagi


Tapi, ada perspektif lain


Kalau aku gak salah ingat, waktu itu aset bersih INKP sekitar Rp50 triliun. Tapi kalau kamu beli semua sahamnya, kamu hanya perlu keluarin uang Rp10 triliun. Lebih murah 5x lipatnya


Artinya kalau aku beli Rp2 juta, aku sebenarnya dapet aset bersih 5x lipatnya alias Rp10 juta. Gokil gak tuh?


Ini yang disebut saham murah


Dan ini bisa terjadi di dunia saham, walau gak sering


Selain itu

➡️ INKP perusahaan kertas skala dunia

➡️ Manajemennya gak pernah kena kasus korupsi

➡️ Utangnya dikit

➡️ Waktu itu harga kertas lagi naik karena banyak buat packing belanja online


Aku beli, dan hanya beberapa bulan, harga sahamnya naik +150% ke harga Rp5.000


Aku beli Rp2 jutaan ➡️ jadi Rp5 jutaan hanya dalam beberapa bulan. Lalu ku jual


Akhirnya uangku kembali pulih


Tapi agak nyesel, karena setahun kemudian, INKP naik ke harga Rp20.000, artinya kalau aku sabar setahun aja, uangku yang tadi bisa naik 10x lipat alias jadi Rp20 juta


Buat mahasiswa segini tuh banyak banget, bisa buat hidup hampir setahun di Jogja


Walau agak nyesel, tapi aku dapet yang lebih penting: pelajarannya. Di tahun-tahun setelahnya, aku udah jarang salah pilih saham


Ini sahamku yang harganya naik 2x lipat (yang ku inget)


➡️ 2017 INKP

➡️ 2018 PTBA

➡️ 2019 WEGE

➡ 2020 BRIS, ANTM

➡️ 2021 zonk wkwkwk

➡️ 2022 PTBA, BBNI, SMKL, PNLF

➡️ 2023 ABMM


Belum dividennya. Apalagi si PTBA itu dividennya super gede banget. Makanya aku berani beli 2x


Sekali lagi, aku berterima kasih pada diriku 10 tahun lalu karena memberanikan diri belajar saham


Dan dalam rentang waktu itu, secara pararel aku juga nambah penghasilanku lewat karir, self employee, dan bisnis


Tentu saham ada risikonya. Tapi kata Warren Buffett, investor tersukses sepanjang masa: risiko tuh datang dari ketidaktahuan


Jadi semakin kamu belajar, risikonya semakin dikit


Nah kalau kamu gimana? 

Mau kenalan sama saham sekarang, atau 10 tahun lagi pas orang lain yang baca status ini udah kaya?

Ada yang mau diajari cara membaca Surat Kabar atau Koran yang selanjutnya di Mappingkan untuk melihat Prediksi yang Akurat melihat kedepan???

 Ada yang mau diajari cara membaca Surat Kabar atau Koran yang selanjutnya di Mappingkan untuk melihat Prediksi yang Akurat melihat kedepan???


Logika

Nalar

Mapping


By Data dan Terukur dan kita buat Prediksi yang akhirnya Kesimpulan. 


Harus bertatap muka dan langsung praktek, sehingga anda bisa Membeli atau Menjual tepat waktu.


Mau dimanapun jika sudah mendapatkan pelajaran Cara Berpikir dan Cara Bekerja dari #AllNewPiranhamas, pasti #Bathine #BathiThok #BathiPokoke #BathiBathi.

IDX Composite

FTSE Indonesia

IDX Kompas 100

IDX PEFINDO-25

IDX LQ45

Tambahan Saham yang ngasih dividen

 Tambahan dikit pak guru Agus Setiyawan, kalau bisa yang ngasih devidend tahunan rutin dengan Yield diatas 5% sehingga kalau sahamnya dibawa turun nggak panik karena tiap tahun dapat dividend yang nilainya sama seperti ngontrakkan rumah.

Mapping Perusahaan Untuk Saham

 Di mappingkan dalam 3 :

1. Perusahaan dalam setahun

2. Perusahaan dalan sebulan

3. Dan perusahaan yang hit dan run


Semua bisa selama, data mapping jelas dengan dalam menganalisa.

MENGUMPULKAN PUZZLE YANG BERTEBARAN DI SAHAM

 MENGUMPULKAN PUZZLE YANG BERTEBARAN DI SAHAM

.

Aslinya hanya kayak anak yang bermain main puzzle yang bertebaran. Kita harus mulai darimana, bagaimana memetakan, bagaimana menyusun yang cepat dll. Beruntung Saya sudah mendapatkan ilmu ini dari Pak suhu Agus Setiyawan, yg ternyata bisa diterapkan dimana Mana.


Sebagai contoh Saya terapkan di trading saham.


Saya baru baru ini baca berita bahwa SEKOLAH MULAI MASUK BULAN JANUARI 2021, langsung kepikiran apa yg bisa Jadi uang dengan Cepat? Perusahaan apa yg kira2 diuntungkan? Googling laporan keuangan nya 1Q 2Q 3Q, lihat chart nya bagus gaknya, jadilah uang Cepat.


Jadilah kepikiran TKIM atau pabrik kertas tjiwi kimia. Kok TKIM? Ya iyalah, kalo anak masuk sekolah dll kebutuhan kertas kan ningkat tajam Beeli pagi juaal sore, dapat 10%....lumayan dapat untuung sekitar Rp 2.5jt duduk Manis.


Mulailah belajar dari Cara yg Paling mudah Dulu, minim resiko, untuk jangka panjang, yakni menabung atau investasi saham dimana Hari Sabtu tanggal 5 Desember 2020 ini Ada workshop nya.


Bukan Saya Yang ngadakan, karena Saya minim pengetahuan. Diadakan oleh expert nya di bidang ini yakni Pak Kunardi founder dari Happy Billionaire Club.


Info detail bisa Saya Bantu, silahkan Komen ninggal jejak.


#BelajarNabungSaham

#BelajarInvestasiSaham

#WorkshopMenabungSaham

Kaidah Saham Piranhamas

 #KaidahSaham All New Piranhamas :


PE Ratio

PE = Price To Earning RENDAH

PB = Price To Book RENDAH


Gunakan

Fitur KEYSTATS

Aplikasi STOCKBIT


Price To Book Value


Management :

Jujur

Profesional

Berintregitas


Sederhanakan yang Rumit

Mudahkanlah yang Sulit

Gampangkanlah yang Sukar


cc : Purnomo Sony

Thursday, October 19, 2023

Kalau anda beli saham Unilever sekarang, balik modalnya 33 tahun lagi

 Kalau anda beli saham Unilever sekarang, balik modalnya 33 tahun lagi.


Perhatian: tulisan ini panjang

#IzmulMencariUang


Ini lucu, tapi beneran ada. Selama membuka jasa konsultasi keuangan, saya beberapa kali menemukan mindset begini:


Misalkan ada saham, harga Rp 1.000, tapi dia bilang mau beli di harga Rp 1.100. Alasannya, dia kira dengan beli di harga mahal keuntungan yang didapat juga akan banyak. Dia juga bangga beli sesuatu yang mahal.


Inilah alasan kenapa masih ada yang beli kopi Starbucks seharga Rp 50.000 daripada kopi tubruk Rp 3.000. Rasa beda tipis, bahkan sama-sama bikin batu ginjal kalau dikonsumsi banyak.


Tapi dengan beli di harga segitu, dia berkumpul bersama orang yang mampu beli di harga segitu juga. Dia kira, harga selalu menentukan kualitas, meski kopi itu sama-sama datang dari beraknya Luwak.


Ternyata, memang ada ilmunya. Saya pernah ngobrol dengan kakak kelas yang jadi marketing di Nestle. Katanya, walau produknya sama, kadang yang mahal lebih laku.


Ini adalah mindset konsumsi. Tapi jangan dibawa ke investasi. Saya sering menulis tentang mindset investasi di blog pribadi. Silakan baca.


Agar mudah dipahami masyarakat awam, kita bakal meninjau saham Unilever dengan metode Simple Payback Period.


Sederhananya begini, ada bisnis seharga Rp 10 juta, kemudian dia bisa untung bersih setahun Rp 2 juta. Artinya, anda bakal balik modal dalam waktu 5 tahun (10 dibagi 2).


Data seperti inflasi, MARR, growth, nilai sisa, dan lain-lain diabaikan dulu. Biar tulisan ini enggak kepanjangan dan mudah dipahami.


Bayangkan kalau anda beli bisnis itu seharga Rp 20 juta, maka balik modalnya 10 tahun. Bisnisnya jadi semakin tidak menarik, walau harganya mahal. Tapi kalau anda belinya di harga Rp 6 juta, maka balik modalnya hanya 3 tahun, sehingga bisnisnya jadi makin menarik. Di sinilah mindset investasinya, semakin murah semakin bagus.


Lalu, saya sering dapat pertanyaan begini:


"Koh, perusahaan Unilever kan berfundamental bagus, kok harga sahamnya turun terus sejak 2018?"


Kalau analisis fundamentalnya bener, hasil akhirnya bukan perusahaan itu bagus atau enggak, tapi valuasinya.


Unilever itu ibaratnya begini: ada warung, punya aset bersih Rp 10 juta. Dalam setahun, warung tersebut bisa punya untung bersih Rp 14,5 juta. Selama 10 tahun, dia konsisten begitu. Semua orang bakal bilang ini warung bagus.


Terus anda datang ke pemiliknya, bilang "pak/buk, saya mau beli ini warung. Harganya kena berapa?"


Kemudian pemilik warungnya bilang "saya baru berani lepas kalau kena Rp 480 juta."


Dia gak bakal mau jual seharga Rp 10 juta sesuai jumlah aset bersihnya. Karena ini warung bagus, setahun untung sudah melebihi aset. Dia bisa kehilangan mesin uang kalau jual murah.


Anda jadi beli? Kalau saya, tentu tidak. Laba 14,5 juta setahun, berarti saya secara Simple Payback Period baru balik modal 33 tahun lagi.


Ini bisnis yang buruk, walau perusahaannya baik.


Sebagai gambaran, balik modal normal untuk bisnis beda-beda bergantung skala bisnisnya. Kalau skala kecil seperti UMKM, kurang dari 5 tahun biasanya sudah balik modal. Kalau yang besar, biasanya di atas 15 tahun.


Bahkan kalau bisnis baru, misalkan gerobakan jual pisang goreng, balik modalnya bisa kurang dari setahun.


Mungkin, kalau warung itu dijual seharga Rp 145 juta saya masih akan pertimbangkan buat beli. Karena 10 tahun bisa balik modal.


Inilah sebabnya, mindset investasi beda dengan konsumsi. Di investasi, anda harus benar-benar bertanya, harganya berapa?


Di saham Unilever, anda perlu menunggu 33 tahun. Siapa yang mau investasi seperti ini?


Bahkan pernah suatu waktu warung ini dijual di harga Rp 600 juta lebih. Wes angel. Karena gak ada yang mau beli, akhirnya harga turun sampai sekarang menyentuh Rp 480 juta.


Begitulah kondisi saham Unilever sekarang. Makanya harganya turun terus: karena valuasinya kemahalan.


Selain itu, warung ini selama 10 tahun terakhir "gitu-gitu aja." Anda bisa cermati di gambar.


Penjualan Unilever selama 10 tahun terakhir hanya naik sebesar 118%. Beda sama pesaingnya, warung Mayora yang jualan Mie Gelas, naik sebanyak 225%.


Pun aset bersihnya. Selama 10 tahun warung Unilever cuma naik 21,9%. Beda sama warung Mayora yang sudah naik 427%.


Sebagai gambaran, kalau diibaratkan warung, Unilever ini 10 tahun lalu punya aset Rp 8,2 juta. Sekarang, cuma nambah Rp 1,8 juta.


Mengapa hal ini terjadi? Dalam pandangan saya ada dua alasan.


Pertama, seluruh laba bersih yang 14,5 juta itu dipakai buat hidup si pemilik warung. Tidak ada sisa buat nambah aset warung tersebut, seperti nambah kursi, bikin cabang, beli menu baru, dan sebagainya.


Kecuali 2 tahun terakhir, Unilever konsisten alokasi sekitar setengah keuntungannya buat nambah aset.


Kedua, hampir tidak ada pasar baru untuk dipenetrasi.


Kalau anda baca laporan tahunannya, dari paparan manajemen, mereka hanya berinovasi pada produk. Jadi, tiap tahun mereka launching produk baru. Kalau tidak salah 2019 mereka ada 4 produk baru di bidang kosmetik.


Tapi, mereka enggak ekspansi di bidang pasar. Bukan gak mau, tapi kayaknya memang gak bisa.


Ibaratnya, di pedalaman yang belum ada jalan daratnya pun, sabun Lifebuoy menguasai pasar. Jadi, mereka mau jualan di mana lagi?


Unilever ini kan aslinya perusahaan asing yang buka cabang di Indonesia. Mereka susah mau ekspor, karena di negara lain sudah ada cabangnya juga. Contoh, pasar Malaysia, ya dikuasai Unilever Malaysia.


Beda sama perusahaan kayak Sidomuncul, mereka bisa ekspor produk ke manapun. Jadi, peluang penjualannya tumbuh sangat besar.


Itulah sebabnya pada tahun 2019, pertumbuhan penjualan Unilever hanya 2,7%.


Apalagi, hampir semua produk mereka adalah market leader di bidang masing-masing. Ibaratnya, sabun mana yang lebih laku dari Lifebuoy?


Ke depan, sabun ini hanya punya 2 pilihan: bertahan atau diambil pasarnya oleh sabun lain. Sedangkan sabun lain, pilihannya nambah satu: mengambil pasarnya Lifebouy.


Melihat pasar mereka yang terbatas, maka penjualan hanya akan meningkat mengikuti Produk Domestik Bruto yang kisaran 5%. Kalau lebih, artinya hebat.


Apalagi, utang di kuartal 4 2020 meningkat gila. Sepertinya ini utang usaha sih, bukan utang bank atau obligasi.


Tapi kalau anda investasi di P2P Lending, anda pasti tau ada gosip yang beredar. Akhir-akhir ini cukup banyak vendornya Unilever yang gagal bayar utang. Gak usah saya sebutin lah nama-namanya ahahaa.


Inilah sebabnya, selama 10 tahun jualan sabun, saham Unilever hanya naik sebesar 198%. Beda sama yang jualan Mie Gelas, naik sampai 1800%.


It's still a good Investment. Ibaratnya kalau 10 tahun anda taruh duit di deposito bank dengan bunga 5% setahun, hari ini aset anda hanya bertumbuh 62,8%. Belum kena biaya admin.


Karena harga saham Unilever udah kemahalan, akhirnya secara perlahan, dia menuju ke "harga wajarnya."


Harga yang wajar di mana bisnis Unilever itu dihargai.


"Tapi koh, naik turunnya saham kan suka-suka bandar."


Anda kira berapa banyak manajer reksadana dan hedge fund yang beli saham Unilever selama 3 tahun terakhir dan rugi sampai sekarang?


Tiap hari ada asing beli ini saham, pun manajer reksadana dan hedge funding. Apakah harga sahamnya naik? Enggak.


Apalagi, saham-saham model Unilever begini memang tidak diperuntukkan mencari capital gain. Dia dapat untung dari dividennya. Jadi, cocok investasi jangka panjang untuk membentuk pendapatan pasif.


Tapi masalahnya, kalau mau membentuk pendapatan pasif dari Unilever pun berat. Dari dulu, dividen sahamnya segitu-segitu aja. Beda kalau anda membangun pendapatan pasif dari saham BCA, hari ini dapat dividen Rp 500an, 15 tahun lagi bisa jadi Rp 5 ribuan setahun.


Ke depan, dengan kebijakan enggak bagikan dividen banyak-banyak, semoga ekuitas perusahaan bisa naik.


Dan semoga, perusahaan terus berinovasi. Inovasi manusia memang tidak ada batasnya.


Akhir kata, Unilever perusahaan bagus. Sangat bagus. Tapi kalau kemahalan, gak ada yang mau beli juga.


Terus kapan waktu yang cocok buat beli Unilever ini? Saya pribadi di harga sekarang sudah lumayan menarik. Tapi disarankan beli antara Rp 5.500 sampai Rp 6.000.


Tapi ya, kalau mau jujur-jujuran. Paling bagus di harga Rp 2.000 sampai 2.300. Tapi kayaknya berat banget kalau mau sampai harga segini.


Ngerti gak? Kalau gak ngerti, kami buka jasa konsultasi keuangan, termasuk ngasih masukan tentang analisis saham. Murah kok, per jam konsultasi cuma bayar Rp 10.000. Undervalue sekali, bukan?


Kalau cewe, saya punya fitur khusus jelasin pake vn.


Jangan lupa gabung ke grup Telegram:

https://t.me/sutakananinvestment


Selamat berinvestasi!

Mendapatkan Rp100 juta pertama dengan gaji hanya Rp1,8 juta

 Mendapatkan Rp100 juta pertama dengan gaji hanya Rp1,8 juta


Perhatian: tulisan ini panjang banget


Sebelumnya kita disclaimer dulu, biar gak disangka flexing


✅ Ada banyak orang yang berteman dengan akun ini mencapai Rp100 juta bahkan Rp1 miliar pertama di usia lebih muda dari saya. Jadi kalau saya flexing, malah malu jatuhnya


✅ Tapi bagi sebagian orang, angka segitu luar biasa besarnya dan mungkin masih sekadar angan-angan aja


Dan sebelumnya disclaimer lagi tentang privilege yang saya miliki


✅ Saya orang yang sehat

✅ Hidup berkecukupan, kedua orangtua saya PNS. Anda tahu sendiri PNS itu hidupnya gimana

✅ Mampu sampai kuliah

✅ Rumah dekat sekolah (sebagian teman saya harus merantau buat sekolah setelah SD)

✅ Kebutuhan dasar terpenuhi, termasuk gizi yang baik (walau badan saya termasuk pendek)

✅ Hidup di lingkungan yang baik

✅ Ada tanggungan tapi sedikit

✅ Ganteng


Nah kalau anda punya privilege yang serupa, anda juga harusnya dapat mengumpulkan Rp100 juta. Tapi, take it slow aja, setiap orang punya startnya masing-masing


Tapi kalau privilege kita berbeda, saya harap anda menemukan jalannya sendiri.


Saya percaya, setiap orang punya privilegenya masing-masing. Tapi kadang, kita gak sadar aja.


Sadarnya nanti, pas udah kaya, terus netizen buka-buka latar belakangmu.


Dan, kita juga punya unprivilege masing-masing. Bagi saya, orangtua yang bekerja sebagai PNS bisa jadi sebuah hadiah karena kondisi keuangan yang stabil. Namun, ia juga bisa menjadi unprivilege karena sedari kecil saya tidak pernah diajarkan mindset bisnis maupun investasi.


Beda, dengan orangtua yang sehari-hari jualan di pasar. Walau pekerjaannya kasar, namun ia diberkahi dengan sudut pandang yang jarang dimiliki oleh PNS.


✅ Bagi saya, lompatan besar itu terjadi di tahun 2013 sejak berkenalan dengan pasar modal. Waktu itu saya masih SMA, ada olimpiadenya, ikut, dan Al-hamdulillah juara 1 tingkat provinsi.


Dari sana saya mulai kenal dan senang belajar hal-hal yang terkait pasar modal. Menggunakan privilege yang saya miliki, saya lebih memilih membeli buku-buku pasar modal, bisnis, dan biografi tokoh-tokoh, di saat teman seumuran lebih suka novel dan komik.


Investasi terbaik, kata orang, memang investasi badan ke atas.


Dari sanalah saya belajar, walau kita diberi privilege yang sama, belum tentu apa yang akan kita lakukan dan hasilnya juga akan sama.


2015, saya sudah punya KTP, langsung tuh daftar ke Mandiri Sekuritas buat bikin akun saham. Modal awal cuma Rp100 ribu.


Waktu itu saya masih disupport orangtua, biasanya Rp2 jutaan sebulan. Gak besar, tapi gak kecil juga.


Dengan uang segitu, saya bisa menyisihkan Rp200 ribu setiap bulannya buat investasi.


Itulah cerita pertama saya kenal dengan pasar modal.


✅ Setiap orang tentu punya jatuh bangunnya sendiri


Hingga tahun 2017, uang yang saya tabung seharusnya udah jadi Rp5 jutaan, tapi yang tersisa di kantong cuma setengahnya.


Kok bisa?


Sepanjang 2 tahun pertama berinvestasi, saya tidak memilih saham yang baik. Saya jatuh ke dalam bujuk rayu saham-saham gorengan yang menawarkan keuntungan tinggi.


Buat yang belum tau, saham gorengan itu saham-saham kecil yang mudah banget harganya dimainkan oleh bandar. Memang saham kayak gitu menawarkan keuntungan yang besar, tapi risikonya juga besar.


Saya dulu mikirnya, kalau saya punya modal Rp1 juta aja, dan konsisten untung 1% sehari, 3 tahun uang saya udah tembus Rp2 miliar 


Siapa yang gak mau?


Tapi kalau semudah itu dapet duit, kenapa gak semua orang melakukannya?


Ternyata, memang gak ada gunanya. Butuh 2 tahun bagi saya buat buang jauh-jauh mental penjudi tersebut.


Hilang duit Rp2,5 juta bagi saya dulu luar biasa besar, karena itu udah 50% dari aset yang saya miliki.


Kalau kamu lagi di fase kayak gini, gapapa, jalani aja


"Smart small, fail smaller, learn bigger."


✅ Apakah ada cara cepat buat jadi kaya?


Ada, dan banyak. Tapi semua itu percuma kalau mindsetnya masih orang miskin.


Miskin boleh, asalkan jangan miskin sejak dari dalam pikiran.


Saya kembali buka-buka buku biografi, mulai dari Dahlan Iskan, Jacob Oetama, Elon Musk (yang saat itu belum seterkenal sekarang), Bill Gates, dan guru dari Maha Guru: Warren Buffett.


Apa yang sama dari mereka semua?

Mungkin kita beda-beda ya memaknainya, tapi bagi saya: segala hal haruslah masuk akal.


Membeli saham PT Berau Coal Tbk (BRAU) di tahun 2015 adalah tidak masuk akal. Bagaimana bisa perusahaan merugi tapi sahamnya naik puluhan persen sehari?


Tidak masuk akal, dan inilah saham pertama yang saya beli dulu.


Sekarang, saya ubah mindset. Saya diberi kesempatan membeli PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dengan harga Rp2000


Waktu itu, sektor kertas memang baru bangkit setelah puluhan tahun tertekan. Terima kasih buat yang sering jual-beli online di zaman itu.


Laba yang dihasilkan INKP saat itu Rp1000 per lembar saham. Artinya, saya bisa untung 50% per tahun 


Bayangin aja, saat bunga deposito bank cuma 6%, saya ditawari membeli INKP dengan keuntungan 8x lipatnya.


Sangat masuk akal


Cuma beberapa bulan, sahamnya naik ke Rp5000. Saya untung 150%, modal saya yang hanya Rp2,5 juta itu pun berbalik jadi Rp5,5 juta


Di sini lah titik baliknya.


Kadang biaya terbesar dalam berinvestasi itu bukanlah uangnya, tapi waktu. Butuh 2 tahun agar saya sadar.


Walau saya menyesal, karena INKP tidak lama kemudian tembus Rp20.000. Harusnya aset saya bisa bertambah 10x lipat waktu itu 😂


✅ Warren Buffett, Guru dari Maha Guru investasi, hanya bisa untung 20% per tahun.


Bahkan ketika modalnya masih receh, 20% is the best he can does. Atau sekitar 1-2% per bulan.


Sehebat apa saya hingga pernah merasa bisa mencapai 1-2% per hari?


Take it or leave it, 20% setahun di saham itu udah hebat banget.


Kalau pengen lebih, bukan sahamnya yang dikencengin, tapi top-up nya


Saya akhirnya mulai coba meningkatkan earning power. Untungnya, keterampilan yang saya pelajari waktu kuliah merupakan salah satu high income skill.


Saya mulai bantuin orang-orang bikin gambar rumah, hitung struktur bangunan, dan lain-lain. Lumayan lah buat jajan saham.


Saya juga coba merintis bisnis, mulai dari jualan jus pinggir jalan sampai bikin bimbel online. Semua gagal? Yes. Tapi saya belajar banyak


Mumpung masih muda, cobain semua.


Banyak-banyakin salah, lalu minta ampun pada diri sendiri. Karena pada dasarnya, manusia tiada lain adalah makhluk yang paling membutuhkan ampun.


✅ Gaji pertama Rp1,8 juta


Waktu itu tahun 2019, dapet kenalan di lokasi KKN. Beliau salah satu kontraktor kecil di Klaten, dan ngajak kerja bareng.


Jadi pas KKN itu genrenya gak ada cinta-cintaannya gaes, apalagi horor kayak cerita KKN desa Ponari itu


Itulah pekerjaan pertama saya. Angka segitu termasuk wajar soalnya belum lulus kuliah


156 jam per bulan. Artinya, saya dibayar sekitar Rp11.500 per jam


Saat itu saya belum punya kendaraan. Karena kalau saya beli motor Rp15 juta, itu setara dengan 1305 jam kerja


Baju branded itu bukan Rp5 juta, tapi 434 jam kerja


Makan-makan manis di cafe itu bukan Rp1 juta, tapi 87 jam kerja


Dan saya sadar, semakin keras bekerja, semakin banyak pajak yang harus dibayarkan.


Jadi, sejak 2019, sebenarnya saya tetap disupport orangtua, tapi dengan adanya tambahan income, hampir seluruhnya saya investasikan ke saham.


Terutama saham yang dividennya baik, minimal 5% dari modal yang kita keluarkan.


Jadi misalkan, kalau saya investasi Rp10 juta, maka dalam setahun dividennya harus Rp500 ribu.


Saya maunya gak ngapa-ngapain, tapi tetap ada pemasukan. Biar makan-makan cantik yang Rp1 juta tadi tidak dihitung 87 jam kerja lagi.


Saya gak mau kerja terus, dan kalaupun saya kerja, kemampuan saya terbatas. Di sisi lain, uang tiada lain adalah pekerja terbaik, ia bekerja 24/7 hanya untuk pemiliknya.


Semakin dewasa, hendaknya kita makin tau batasan.


✅ Tips minta naik gaji


Tentu, gaji saya sekarang bukan Rp1,8 juta lagi. Judul di atas cuma clickbait 😂


Angkanya saya rahasiakan. Tapi saya mau sekalian share deh gimana caranya naik gaji. Biar top-up sahammu lebih kenceng.


Anda jangan tiba-tiba dateng ke atasan terus minta naik gaji. Itu goblok. Apalagi kalau kerjaanmu sengaja diburuk-burukin.


Kalau perusahaan mau PHK orang, bisa-bisa kamu malah jadi yang pertama.


Mending gini:


Pertama, tunjukin kalau anda itu rajin. 2 bulan aja cukup.


Yang kedua, datang ke atasan anda, lalu tanya, "pak/buk, kerjaan saya sudah selesai. Kira-kira ada tanggungjawab lain gak yang bisa saya kerjakan?"


Waktu itu, pas nanya gini, saya langsung diarahkan buat bantu proyek lain yang lagi dikerjain perusahaan.


Ketiga, udah sebulan. Minta deh penyesuaian gaji.


Kalau gak dikasih, jadi kutu loncat aja 👀


✅ Walau pendapatan bertambah, gaya hidup jangan ikutan nambah


Selama 3 tahun lebih kerja, pendapatan saya udah nambah berkali-kali lipat dari awalnya cuma Rp1,8 juta.


Tapi, gaya hidup saya cuma nambah dari Rp2 juta ke Rp3 juta sebulan. Itupun kadang kelebihan


Kuncinya hidup sesuai kebutuhan kita aja. Saya sendiri gak pernah beli hp di atas Rp1,6 juta karena merasa gak terlalu butuh.


Bahkan saya sampai sekarang gak punya kendaraan. Saya sadar, saya jarang ke luar. Kalau punya kendaraan, saya harus keluar uang buat beli bensin, servis, pajak, parkir, duh lah pusing teuing.


Walau secara finansial sebenarnya mampu. Tapi untuk sekarang, saya merasa lebih hemat dan nyaman naik gojek aja. 


Gak perlu mikirin tempat parkir.


Lagian, orang kaya kok beli mobil. Orang kaya tuh beli pabrik 👀


Kalau sekedar punya mobil, buruh sawit pun sekarang pada punya.


Tapi kita semua punya dosa masing-masing. Dosa saya sendiri adalah setiap makan beli, bukan masak. Andai saya masak sendiri, pasti akan jauh lebih hemat.


Tapi gapapa deh, sekalian mensejahterakan UMKM di sekitar sini. Toh selama kita mampu, belilah, karena membeli adalah cara bersedekah paling terhormat.


✅ Rp100 juta pertama adalah yang tersulit


Saya sebenarnya cukup beruntung karena bisa mencapai angka ini di usia muda


Kalau dihitung, selama 7 tahun masa investasi, saya menghasilkan sekitar 40% setiap tahun. Terima kasih ke saham-saham seperti INKP, PTBA, WEGE, BRIS, ANTM, hingga SMKL. Semua saham tersebut adalah yang memberikan keuntungan besar buat saya.


Angka tersebut anggap aja beruntung. Karena guru saya pun, Warren Buffett hanya menghasilkan 20%. Mungkin akan ada masa, di mana saham-saham saya hancur-hancuran, sehingga imbal hasil yang saya miliki kalau dirata-ratakan sama atau kurang dari beliau.


Karena di bursa saham, ada lebih banyak hal yang kita tidak tahu, daripada yang kita tahu. Maka saya lebih memilih fokus pada hal yang saya tahu saja.


Rumus investasi saya sederhana: 75% saham, 25% reksadana obligasi.


Reksadana obligasi adalah salah satu investasi yang paling aman. Jadi andai saya kehilangan seluruh saham yang dimiliki, saya masih punya 25% aset


Karena saya sadar, suatu saat, akan ada masa di mana kinerja saham-saham saya memburuk. Saya harus mempersiapkan segala risikonya.


Saya selalu percaya untuk mengukur kekayaan bukan dari uang, tapi dari waktu. Ibaratnya kalau kamu hari ini amit-amit kena PHK, berapa lama kamu bisa survive?


Bagi saya, 25% dari reksadana obligasi tadi sudah cukup lama. Karena biaya hidup saya cuma Rp3 juta per bulan.


Jadi, walau uangmu lebih banyak, tapi jika biaya hidupmu besar, bisa jadi kamu sebenarnya tidak lebih kaya daripada saya ini.


Selain itu, saya juga mulai berinvestasi pada bisnis-bisnis riil. Kapan-kapan kita bahas deh.


Rp100 juta pertama memang yang paling sulit. Bagi saya, butuh bertahun-tahun buat mencapai angka segitu. Tapi, dengan imbal hasil 40% setahun, cukup 2 tahun buat menggandakannya menjadi Rp200 juta. Saya udah merasakannya sendiri.


Sekarang saya sedang dalam perjalanan menuju Rp1 miliar pertama. Sebenarnya angka ini udah saya capai sih, andai Suta Kanan dijual 😂


Buat kamu yang lagi berjuang mencapai Rp100 juta pertama, take it easy ya. Hidup bukan balap-balapan


Kalau mau balapan, belilah Tamiya, bukan saham


Begitulah cara saya mengumpulkan tiga digit pertama dengan segala privilege saya miliki.


Kalau kamu ngerasa gak punya privilege, sebagaimana kata admin salah satu grup Facebook, bertemanlah dengan orang lain, niscaya privilege yang mereka miliki bisa ikut kamu rasakan juga.


Buat kamu yang lagi cari temen buat belajar saham, gabung ke grup kami aja


t.me/sutakananinvestment


Pada dasarnya, mengumpulkan Rp100 juta pertama bukan hanya mengumpulkan uang, melainkan juga proses belajar yang panjang.


Mulai dari belajar kerja yang bener, belajar kerja dengan pinter, hingga belajar buat berdamai dengan diri sendiri.


Kalau kita gak melewati fase ini dalam mengumpulkan Rp100 juta pertama, bisa jadi kita bakalan melewatinya pas ngumpulin Rp1 miliar pertama atau lebih. Dan sekali kita gagal, jatuhnya akan lebih sakit.


Dan sekali lagi, start setiap orang beda-beda. Bisa jadi anda memulai dari punya utang, punya tanggungan, atau gemericing piring makan malam saya terdengar saat anda kelaparan


Gak usah bandingkan dirimu dengan orang lain, gak ada habisnya. Tugas kita dalam berinvestasi bukan membandingkan diri dengan orang lain, tapi dengan diri kita kemarin.


Saya harap, kita semua menemukan jalan dan mendapatkan ampun.


✅ Tentu setiap hal punya pengecualian


Orangtua yang berkecukupan seperti yang saya punya memang sering melahirkan anak yang juga kaya


Tapi tidak jarang lho, orangtua kaya melahirkan generasi pemalas yang justru menghabiskan kekayaannya


Dan tidak jarang juga ada orangtua miskin yang melahirkan generasi terhormat dan mulia. 


Karena pemikirannya, kaya ✅

Discounted Cash Flow (DCF) Metode terbaik untuk memilih saham

 Discounted Cash Flow (DCF)


Metode terbaik untuk memilih saham.


Perhatian: tulisan ini panjang

#IzmulMencariUang


Sekilas mengenai value investing. Ibaratnya begini, ada toko jualan sepatu dengan harga normal Rp 500 ribu. Kemudian ada diskon 40% sehingga harganya tinggal Rp 300 ribu.


Anda beli sepatu itu, kemudian jual ke teman Anda dengan harga normal. Al-Hasil, anda mendapatkan untung Rp 200 ribu.


Di saham juga berlaku sama. Ada beberapa saham yang dapat dibeli dengan harga murah, bahkan lebih murah daripada harga wajarnya.


Tantangannya adalah, menentukan harga wajar ini. Terdapat banyak sekali caranya. Yang paling umum adalah Price to Book Value (PBV) dan Price to Earning Ratio (PER atau P/E). Namun, bagi yang sudah paham, pasti tahu bahwa kedua metode ini banyak celahnya.


Anda bisa simak ulasan kami tentang value investing di sini:

https://www.facebook.com/100002245830465/posts/3733192590098899/


Lalu mengapa menurut saya metode DCF ini adalah metode terbaik? Simak ulasan kami berikut.


Kita juga bakal ngitung bentar ya. Hitungannya gak terlalu banyak kok, gak sebanyak kalau kamu mau bikin gedung 😂

Inilah yang dinamakan value investing. Kita berinvestasi pada nilai perusahaan, bukan pada harganya

 Tahukah kamu, kalau ada saham yang bisa kamu beli seharga Rp 230, tapi kamu dapet aset bersih sebesar Rp 756?


Perhatian: Tulisan ini cocok buat kalian yang suka panjang-panjang


#IzmulMencariUang


Kalau kata Warren Buffett, keuntungan pada saham itu bukan terjadi pas kita jual, tapi pas beli.


Ketika saya beli saham Panin Financial seharga Rp 240 per lembar, sebetulnya saya telah mendapatkan aset sebesar Rp 756 per lembar saham yang saya beli. 


Dengan kata lain, saya sudah untung 3x lipat lebih. Makanya saya bilang, main saham itu mudah.


Perihal besoknya harga saham mau turun ke Rp 230, yasudah, itu urusan dia dengan pasar. Urusan saya dengan perusahaan hanya satu: saya punya aset bersih Rp 756 per lembar saham yang saya beli. Kalau besok perusahaannya bangkrut atau likuidasi, saya dapat aset segitu.


Inilah yang dinamakan value investing. Kita berinvestasi pada nilai perusahaan, bukan pada harganya.


Darimana saya tahu bahwa nilai perusahaan ini Rp 756 per lembar saham? Dari yang namanya book value.


Cara mengetahui nilai book value ini gampang. Di internet atau aplikasi saham pasti ada. Atau kalau mau hitung sendiri juga bisa, rumusnya aset dikurangi liabilitas (utang, insentif pegawai, sewa, dll), didapatkan lah ekuitas. Setelah itu, ekuitas ini dibagi dengan jumlah saham yang beredar, didapatkanlah book value.


"Tapi masa saya harus nunggu perusahaannya bangkrut dulu baru saya dapet Rp 756 tadi?"


Konsep value Investing itu begini, kita beli saham di bawah harga wajarnya (book value), kemudian suatu saat, harga saham yang sedang di Rp 230 tadi akan terkoreksi dengan sendirinya ke harga wajar tersebut.


Sederhananya begini. Ada toko diskon 30%. Mereka jual sepatu, harga aslinya Rp 1 juta, tapi cuma dijual Rp 700 ribu. Kamu beli, kemudian jual ke temanmu yang goblok dengan harga aslinya. Alhasil, kamu untung Rp 300 ribu.


Hal seperti ini juga berlaku di saham. Makanya, jangan beli saham sembarangan.


Dalam hal saham Panin Financial ini, saya beli di harga Rp 240 dengan harga wajarnya Rp 756. Artinya, saya beli dengan harga diskon hampir 70%.


Saham-saham seperti inilah yang disebut undervalue. Harga pasarnya di bawah harga aslinya.


Dalam investasi, angka 70% ini sering disebut Margin of Safety (MoS). Kalau kata Copper Academy, MoS inilah yang harus dipelajari pertama kali saat anda investasi di saham.


Sabar, tulisannya masih panjang.


Kalau anda bagi harga pasar dengan harga wajar tersebut, yaitu 240/756, akan didapatkan hasil 0,32. Angka ini disebut Price to Book Value (PBV). Artinya, saya membeli saham Panin Financial ini 0,32x lebih murah daripada harga aslinya.


Nilai PBV inilah yang sering dijadikan acuan utama value investor dalam berinvestasi. Ketentuan dasarnya begini:


PBV = 1, harga sedang wajar

PBV < 1, harga sedang murah

PBV > 1, harga sedang mahal


Umumnya, seorang value investor akan membeli saham saat PBV < 1, kemudian jual pas PBV > 1. Atau kalau investornya berani, bakal nungguin sampai PBV > 1,5.


"Tapi om, Unilever PBV nya 40an ke atas. Kok bisa?"


Itulah sebabnya ketentuan dasar di atas harus dipermanis lagi.


Maka ada PBV rata-rata, umumnya diambil 5 tahunan. Selama 5 tahun terakhir, PBV Unilever berkisar antara 40 sampai 60. Artinya, seorang value investor akan membeli saat PBV nya 40an, kemudian jual di 60an.


Menurut pengalaman saya pribadi, nilai PBV ini berkorelasi erat dengan nilai RoE (Return on Equity, laba bersih dibagi ekuitas). Ketentuannya begini:


RoE < 10%, PBV = 1

RoE = 10%, PBV = 1 juga

RoE = 30%, PBV = 3 (boleh interpolasi dengan PBV sebelumnya)

RoE > 30%, PBV nya udah gak ngotak


Contoh, Unilever punya RoE 111%, maka PBV nya +40an. BCA juga punya RoE 32%, PBV nya sekitar 8x.


Karena perusahaan yang menguntungkan (RoE tinggi), maka semakin layak dia dihargai mahal (PBV tinggi juga).


Ah daripada tulisan ini kepanjangan, lebih baik lanjutan tentang PBV ini saya tulis di blog pribadi nanti.


Kemudian bagaimana kalau perusahaan ini sedang lesu? Katakanlah PBV nya rendah, tapi perusahaan ini laba bersihnya kecil, atau bahkan rugi.


Makanya PBV ini harus diiringi dengan menghitung Price to Earning Ratio (PER).


Cara hitungnya juga cukup mudah. Laba bersih dibagi jumlah saham beredar, didapatkanlah Earning per Share (EPS).


Kemudian, harga saham saat ini dibagi dengan EPS, didapatkanlah nilai PER.


Tidak ada ketentuan pasti mengenai PER ini. Saya pribadi biasanya cari saham dengan PER di bawah 10, kemudian jual saat PER di atas 15.


Kekurangan metode ini adalah, dia sangat menggantungkan hidupnya pada laba bersih. Laba bersih ini bisa kapan saja berubah, apalagi pada perusahaan yang sifatnya cyclical, seperti perusahaan tambang.


Misalkan, bisa saja Adaro Energy tahun ini untung triliunan karena harga batubara naik. Tapi ketika harga batu bara turun, maka laba bersih Adaro juga kemungkinan turun drastis, bahkan bisa rugi. Nah, nilai PER sangat sensitif pada hal-hal seperti ini.


Beda dengan PBV, karena dia bergantung pada ekuitas (aset dan utang). Ibaratnya, kalau perusahaan itu punya aset Rp 100 triliun, gak mungkin lah habis dalam setahun doang.


Tapi jangan pernah beli saham yang kedua nilai tersebut negatif. Karena kalau PER negatif, artinya perusahaan itu sedang rugi. Kemudian kalau PBV negatif, artinya perusahaan tersebut memiliki lebih banyak utang daripada aset.


Masih agak panjang tulisannya, sabar ya.


Kemudian karena keterbatasan akuntansi, anda tidak bisa "terima beres" nilai PBV dan PER tersebut.


Koreksi ya bila salah, karena saya tidak mendalami akuntansi.


Contohnya, ketika sebuah perusahaan beli aset berupa tanah, maka yang dicatat pada balance sheetnya adalah harga beli tanah tersebut. Padahal, harga tanah berubah tiap tahun.


Atau ketika perusahaan menemukan cadangan batubara. Yang dicatat sebagai aset adalah biaya eksplorasinya, bukan potensi cadangan terbukti batubara tersebut.


Kemudian misalkan perusahaan punya aset kebanyakan dalam bentuk tak lancar (gedung, mesin, dll). Aset tersebut gak bisa dicairkan hari ini juga, butuh proses, yang proses tersebut mungkin membutuhkan biaya.


Kemudian misalkan, perusahaan tersebut punya branding yang bagus. Katakanlah gojek yang gak punya kendaraan satu pun, tapi valuasinya tetap besar.


Kasus lagi, misalkan perusahaan saat ini laba bersihnya kecil, namun baru dapat kontrak yang besar. Tapi kontrak tersebut belum tercantum di laporan keuangan.


Dan banyak lagi kasus lainnya.


Maka berkembanglah beberapa cara untuk menentukan nilai wajar saham. Seperti Revalued Net Asset Value (RNAV), Enterprise Future Value, Benjamin Graham Formula, dan lain-lain. Semua ini akan saya tulis di blog pribadi biar post ini gak panjang.


Sudah banyak saham "hasil karya" value investing ini. Yang paling waw dan stock of the decade menurut saya adalah kasus INKP (lupa kepanjangannya apa).


2017 lalu orang rame bilang, bisnis kertas akan mati ditelan digitalisasi. Padahal di sisi lain, INKP terus menumbuhkan laba bersih tiap tahunnya.


Dari 2017 ke 2018, harga sahamnya naik dari Rp 1.000 ke Rp 20.000. Artinya, hanya dalam setahun, anda sudah mengalami keuntungan sebesar 2000%. Kalau invest Rp 1 juta, anda akan keluar dengan duit Rp 20 juta.


Banyak kasus yang seperti ini. Hal yang tidak dapat dilakukan bahkan oleh saham yang lagi ngetren sekalipun, ANTM dan BRIS.


Dikit lagi yaa


Kemudian bagaimana dengan dividen?


Ada satu metode value Investing andalan saya, dan sering dipakai oleh manajer reksadana. Namanya Discounted Cash Flow (DCF). Metode ini pertama kali saya kenal pas belajar studi kelayakan investasi jalan tol.


Metode ini didasari pada free cashflow (duit nganggur) perusahaan. Simpelnya begini:


Misalkan, anda beli saham harga Rp 1.000 per lembar. Tahun ini, perusahaan ngasih dividen sebesar Rp 50.


Kemudian anda analisis, selama 20 tahun ke depan, free cashflow mereka akan naik sebesar 10% setiap tahunnya.


Maka anda bisa prediksi, tahun depan dividennya naik kira-kira ke Rp 55, tahun depannya lagi Rp 60,5, dan seterusnya.


Pada tahun ke 20, total dividen yang anda peroleh akan menjadi sekitar Rp 1.431. Kemudian nilai ini "dipresentkan" dengan metode Net Present Value. Bisa anda lihat di blog pribadi saya.


Artinya, anda mendapatkan cashflow sebesar angka tersebut selama 20 tahun, atau 143,1% dari modal anda. Dan akan terus bertambah setiap tahun selama sahamnya belum anda jual.


Tentu, metode DCF ini tidak semua orang bisa pake. Anda harus paham betul kondisi perusahaan dan mampu mengambil investor judgement yang tepat.


Perhitungan lebih detailnya sudah saya tulis di sini ya:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=3955996897818466&id=100002245830465


Tulisan saya ini hanya sebagai gambaran bagaimana cara melakukan value Investing. Tidak semua orang siap nungguin saham sampai 20 tahun.


Namun, kecenderungannya, orang sukses di saham sering menggunakan metode ini. Contoh, bos Djarum, beli saham BCA 20 tahunan lalu seharga "cuma" Rp 4 triliun, sekarang jadi Rp +800 triliun, dengan dividen hampir Rp 3 triliun per tahun.


Banyak lagi nama besar di Indonesia seperti bapak Sandiaga Uno, Hary Tanoe, dan di level internasional ada Warren Buffett, Bill Gates, Jeff Bezos, dan sebagainya.


Udah ya, tangan saya cape. Kalau kangen chat aja.


Jangan lupa join grup kami yaa

https://t.me/sutakananinvestment


Update: sekarang harganya Rp 170an, sedangkan valuenya Rp 818. Harga lebih murah, value lebih tinggi.


Update 2 tahun setelah post ini dibuat:

Sahamnya udah naik 2x lipat

Wednesday, October 18, 2023

Gimana cara dapet kerja online? #IzmulMencariUang

 Gimana cara dapet kerja online?

Alias remote

Alias WFA


🎗️ Long post

#IzmulMencariUang


Ini berdasarkan pengalamanku

1 tahun ngantor

2 tahun hybrid

1 tahun online


Ada 1 skill mutlak yang harus dimiliki: KOMUNIKASI


Jadi gini, banyak perusahaan yang masih wajibin ke kantor karena issue komunikasi. Menurut mereka, lebih gampang koordinasi kalau ketemu langsung. Setuju gak?


Nah sebelum nyari kerja WFA, menurutku skill ini yang paling perlu dilatih


✅ Mudah dihubungi

✅ Rajin konfirmasi & follow-up sesuatu

✅ Pinter menyaring mana kerjaan yang perlu diomongin dulu, atau dikerjain dulu baru diomongin

✅ Hilangin rasa gak enakan

✅ Punya banyak stiker lucu di WA


Gimana cara kita menghadirkan kualitas komunikasi yang sama seperti kalau kerja di kantor


Sama satu lagi, JANGAN GAPTEK


Harus tech savvy, minimal bisa pakai chatGPT. Kalau Ms. Word, Excel, PPT, itu gak usah ditanya lagi yaa


Karena 80% kerjaanmu akan berhubungan sama teknologi


👨🏻‍🎓"Loh 20% nya apa bang?"


Nah ini, lagi-lagi apa? Yak betul


Olahraga dan jaga kesehatan


👨🏻‍🎓"oke bang, balik ke pertanyaan awal, cara dapet kerjanya gimana?"


Entar dulu, sebelum nyari kerja, kita harus sadar kalau gak semua skill bisa dionlinekan


❌ Skill tukang

❌ Skill mager

❌ Skill malu


Itu adalah skill-skill yang BELUM bisa dionlinekan UNTUK SAAT INI


Kecuali kalau kamu tukang terus dibikinkan konten. Itu beda cerita yaa. Konteksnya di sini kerja online yang apply ke perusahaan


Menurut pengamatanku, ini skill high in demand di masa sekarang


- Copywriter

- Editor video

- Storyboard

- Sosmed specialist/strategist/officer

- Programmer

- Data analyst

- Apapun tentang website

- Konsultan finance

- Drafter konstruksi

- Arsitek

- Konsultan struktur gedung

- Asisten virtual

- SEO writer


Jadi kalau kamu belajar skill-skill di atas, kemungkinan dapet kerja onlinenya besar


Ini pengamatanku yaa, kalau ada lagi tambah-tambah aja di komentar


Dan opportunity kerjaan kayak gini tuh gede banget. Aku pernah bandingkan di Jobstreet


✅ Kerja di pabrik: pelamarnya 40-60 ribu

✅ Kerja di start-up as copywriter: pelamarnya hanya 400-600 aja


Beda jauh kan?


👨🏻‍🎓"Oke bang, aku udah belajar skill itu. Terus gimana?"


Kebanyakan perusahaan yang berani WFA adalah start-up


Start-up ini biasanya punya sirkel sendiri. Jarang banget mereka post lowongan di FB, IG, bahkan Jobstreet yang ku pakai perbandingan tadi


Biasanya mereka posting di:

✅ LinkedIn

✅ TikTok

✅ YouTube

✅ Glints

✅ Freelance dulu di Fiverr atau Upwork, entar kerja beneran


Aku sendiri dapet dari YouTube


Sekedar info: 70% lowongan di start-up itu tidak dipublish. Kebanyakan melalui mulut ke mulut, melalui rekomendasi


Jadi cara paling mudah untuk mendapatkan kerja online: bertemanlah sama anak start-up


Jangan heran nanti ngelamarnya cuma disuruh isi google form, terus tiba-tiba dihubungi lewat WA


Kalau pelamarnya gak tau, pasti dikira penipuan


Karena memang kerjanya se-sat-set itu


✅ Gak pakai ngirim surat lamaran kerja

✅ Gak pakai ngirim ijazah

✅ Gak, gak ditanya pengalaman organisasi. Ini dianggap gak ada


👨🏻‍🎓"Duh start-up ya bang. Katanya kerja di sana susah, banyak targetnya ya?"


Iyes. Beban kerja di start-up emang gede. Tapi kerjanya nyantai


Aku beberapa kali harus kerja di bus/kereta/pesawat, kayak di foto


Yang harus kamu ketahui, 8 jam kerja di kantor itu gak sama kayak 8 jam kerja remote


Menurutku, 8 jam kerja di kantor sama dengan 5-6 jam kerja remote. Karena capeknya beda. 


Jujur aja di kantor tuh kebanyakan waktunya gak efektif dan banyak dipakai buat menunggu & ngobrol. 


Beda sama kerja dari rumah, kita rasanya pengen selesaikan kerjaan cepet-cepet. Gak ada yang ditunggu, gak ada yang diajak ngobrol


Ini yang bikin tingkat stressnya juga tinggi. Aku bahkan beli beberapa alat olahraga buat pelampiasan


Makanya kalau ada uang, sebaiknya kita invest ke kenyamanan


✅ Bikin ruangan yang enak dan kedap suara

✅ Beli komputer yang proper

✅ Pakai AC dan sesekali buka jendela biar seger

✅ Beli kursi kerja yang empuk

✅ Beli samsak buat dipukulin pas stress


Aku waktu awal-awal kerja online langsung encok gara-gara gak punya kursi nyaman


👨🏻‍🎓"Ya sebenarnya gapapa sih kerjanya berat, asalkan gajinya sesuai"


Tenang, kebanyakan start-up itu bisa "diporotin" kok soal gaji


Kalau kamu bisa nego, gajinya bisa ngalahin pegawai BUMN bahkan tambang


Apalagi kalau balik ke pembahasan awal: kerja online. Dalam kasusku, aku tinggal di Jogja dengan gaji standar Jakarta


Yes, Indonesian Dream banget kan?


Tapi jangan kebalik. Kantornya di Jogja, tinggalnya di Jakarta


👨🏻‍🎓"Portofolio sama pengalaman kerja penting gak bang?"


PENTING


DI CV TUH HARUS TAROH PALING ATAS


Jangan IPK atau pengalaman organisasi


👨🏻‍🎓"Aku pengen jadi editor video tapi gak punya portofolio, gimana bang?"


Bikin aja video sendiri, terus post di sosmed. Gak usah diambil pusing


👨🏻‍🎓 "Bahasa Inggris penting gak bang?"


Untuk posisi tertentu iya, kayak penulis


Tapi secara umum enggak. Banyak kok temanku yang gak tau arti "salary" padahal tiap bulan nerima


Menurutku bukan bahasa Inggrisnya yang penting, tapi cara kita berkomunikasi dan membawa diri


Misalkan, kalau kamu ditanya, apa itu Bitcoin?


👨🏻‍🎓"Bitcoin adalah sistem blockchain yang..."


Kalau jawabnya begitu, kayaknya kamu lebih cocok jadi PNS deh


Kalau kamu tanya aku, aku bakal jawab begini


✅ "Bitcoin tuh kayak mata uang digital. Terus apa bedanya sama uang kita di bank, Gopay atau Ovo? Pertama mata uangnya beda, terus Bitcoin tuh ada sistem yang sulit banget dibobol. Bahkan kalau rekening bank, gopay, atau ovo-mu dinonaktifkan, uang tadi tuh akan tetap atas namamu dan gak ada yang bisa ambil. Misalkan nih yaa..."


Sekali lagi, komunikasi


👨🏻‍🎓 "Bang bener gak kalau kerja WFA itu, kita bisa gampang ambil kerjaan lain?"


Bener kalau kamu kuat. Tapi memang opportunity buat ambil kerja sampingan itu gede banget


👨🏻‍🎓 "Bang aku bisa nulis nih, tapi skillku rata-rata. Gimana caraku bisa bersaing?"


Bikin skillmu jadi spesifik


Misalkan aku yaa. Aku sekarang kerja sebagai penulis konten medsos edukasi keuangan


Kemampuan nulisku sebenarnya biasa aja


Tapi, aku nulis buat konten medsos

Lebih spesifik, kontennya edukasi keuangan

Lebih spesifik, tentang saham

Lebih spesifik, tentang analisis fundamental


Ada banyak yang lebih jago nulis dari aku


Tapi kalau kamu nyari penulis untuk konten medsos edukasi analisis fundamental saham, gak akan kemana-mana, kamu bakal ketemu aku


Dan kalau kamu nyari orang dengan skill sespesifik itu, artinya kamu serius soal pekerjaan & gaji


Kuncinya: kalau kamu gak bisa jadi si terbaik, jadilah si spesialis


👨🏻‍🎓 "Kalau konteksnya kayak gitu, mending aku tajamin skill nulis atau skill keuangannya?"


Skill keuangannya


👨🏻‍🎓 "Eh tapi bang, ada temenku kerja online gajinya di bawah UMR"


Setiap perusahaan emang punya kebijakannya masing-masing yaa


Kamu harus sadar kebanyakan start-up itu rugi. Bahkan 80-90% start-up tidak berhasil mendapatkan pendanaan apapun setelah seed funding


Start-up yang royal & sistem kerjanya bagus biasanya ada 2


✅ Udah dapet pendanaan minimal seri A (biasanya $1 juta atau Rp15 miliar)

✅ Bootstrap atau start-up yang udah untung


Nah kalau kamu mau kerjaan yang proper, opportunity yang besar di sana


Apalagi kalau posisimu sekarang lagi kerja. Itu para start-up pasti geregetan mau culik kamu


***


Nah ini aja sih dari aku. Kalau dirangkum, gimana caranya dapet kerja online?


✅ Kembangkan skill komunikasi & jangan gaptek

✅ Pelajari skill yang bisa dionlinekan di masa sekarang

✅ Bikin skillmu jadi spesifik

✅ Cari lowongan di platform tertentu, kalau bisa temenan sama anak start-up

✅ Bangun portofolio

✅ Kalau bisa cari perusahaan yang udah proper

✅ Jangan kaget kalau kerjanya sat-set dan banyak target

✅ Beli samsak buat dipukulin kalau lagi enakan

✅ Punya banyak stiker lucu di WA


Kalau ada lagi tambah-tambahin di komentar yaa


Share juga tulisan ini buat dibaca lagi nanti~

Enggak Pernah Cutloss

 Enggak Pernah Cutloss


Perhatian: postingan ini panjang & buat apresiasi diri

#IzmulMencariUang


Kata pepatah:


✅ Cuan dan gak discreenshot itu sama kayak pakai baju baru tengah malam: enggak ada yang lihat!


Karena di luar sana

✅ Banyak yang masih rugi

✅ Banyak juga yang lebih untung, tapi gak tau tahun depan bisa untung lagi apa enggak

✅ Banyak yang untung +1000%, tapi cuma 1% asetnya yang dibelikan saham itu


Aku sendiri penganut value investing. Kalau kamu tau metode ini, pasti tau kenapa aku gak pernah cutloss


Aku ingat pas beli saham PNLF, desember 2020. Ya awalnya banyak diketawain, karena saham ini turun terus.


Kata mereka

➡️ Grup Panin gak pernah bagi dividen koh

➡️ Bisnis asuransi bakal mati, banyak penipuan

➡️ Value trap, aslinya itu perusahaan sampah

➡️ Naik turun saham itu tergantung bandar


Tapi aku kan kepala batu ya, jadi tetap beli 😂


Waktu itu, harga sahamnya cuma Rp240. Tapi, kamu bakalan dapet aset Rp700.


Perihal besok harganya turun ke Rp160, itu urusannya dengan pasar. Urusanku dengan perusahaan hanya satu: asetku di sana senilai Rp700 per lembar saham yang ku miliki


Dan bertambah menjadi Rp800+ tahun depannya, karena perusahaannya untung


Ulasan lengkapku soal Value Investing dan PNLF ada di sini yaa

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=3733192590098899&id=100002245830465


Metode ini juga aku pakai buat saham lain


Aku beli berapa lembar? Wah itu urusan dapurku yaa. Tapi nilainya lebih dari 5% asetku.


PTBA lebih gila lagi, 40% dari aset ahahaa


Tapi investasi paling beraniku justru bukan dari saham PTBA ini, -walau secara nominal paling besar. Investasi terbesarku malah di Suta Kanan Investment yang kami mulai justru TANPA MODAL


✅ Saat aku dan partnerku bikin Suta Kanan, buatku ini bukan hanya soal nambah income, tapi juga ajang membuktikan diri


And I did it. Di gambar adalah beberapa saham yang sempet aku screenshot yang untungnya +100%


Tentu enggak semua saham naik segitu. Ada juga yang naiknya cuma 30%, 20%, atau cuma 10%


Ada juga yang rugi, kayak HMSP. Walau sebenarnya masih untung berkat dividen


Jadi kalau dirata-rata, di aplikasi Ajaib kenaikan asetku sekitar 50% setahun ini


Kalau di aplikasi Mandiri Sekuritas (asetku terbanyak di sini), aku hitung manual dapet sekitar +75%. Terima kasih ke saham-saham batubara dan properti


✅ Yuk coba evaluasi bareng-bareng. Kira-kira setahun ini asetmu udah naik berapa?


Apakah...

✅ Rp1 juta ➡️ Rp1,75 juta

✅ Rp100 juta ➡️ Rp175 juta

✅ Rp100 miliar ➡️ Rp175 miliar


Atau malah rugi?


Soal nominal, jangan bandingin deh, karena kemampuan orang beda-beda. Tugas kita sebagai investor adalah bandingin diri kita hari ini sama kemarin, bukan sama orang lain


Tapi jejak digital dan pandanganku soal saham-saham ini bisa kamu lihat di grup ku

https://t.me/sutakananinvestment


Oke, balik lagi ke PNLF. Udah 1,5 tahun sejak aku beli sahamnya. Apakah worth it buat nunggu selama itu?


Coba kita bandingkan, kalau kita invest 1,5 tahun ke sini:

✅ Tabungan bank ➡️ 1,5%

✅ Deposito ➡️ 7,5%

✅ Obligasi ➡️ 8%

✅ PNLF ➡️ 117%


Tapi percayalah, aset naik segitu banyak bukan karena aku hebat, tapi karena aku beruntung


Panutanku, Warren Buffett secara rata-rata cuma naikkin aset 20% setahun. Siapa aku?


Aku yakin akan ada masanya investasiku juga turun, sehingga rata-rata sekitaran 20% setahun juga.


Beberapa tahun ini, aku memang sering berada di waktu dan tempat yang tepat aja. Enggak ada hebat-hebatnya, biasa aja


Harapannya, semoga performa ini bakal jadi modal awal investasiku ke depan, entah di dunia saham maupun bisnis


Aku enggak mendorong kamu ngikutin metodeku. Karena aku paham enggak semua orang siap nungguin saham bertahun-tahun.


Rugilah di masa-masa awal investasimu, dan temukan sendiri jalanmu. Start small, fail smaller, learn bigger.


Karena beli saham itu gak cuma soal nyari untung, tapi juga soal mengenal diri sendiri


Ngomongin soal rugi, kalau kamu baru mulai investasi 2-3 tahun ini, take your time. Aku sendiri mulai investasi tahun 2015, sampai 2017 tuh masih rugi. Pernah sampai hilang 50% aset karena beli saham gorengan


Take your time. Karena investor sejati enggak hanya cari uang, tapi juga kesabaran

Rp360 miliar akan lebih mudah dicapai kalau uangnya taroh di:

 Yang banyak orang gak tau


Rp360 miliar akan lebih mudah dicapai kalau uangnya taroh di:


✅ Reksadana pendapatan tetap dengan imbal hasil 6% setahun ➡️ 183 tahun


✅ Reksadana indeks dengan imbal hasil 10% setahun ➡️ 115 tahun


✅ Saham kayak BRI dengan imbal hasil 20% setahun ➡️ 61 tahun


✅ Izmul dengan imbal hasil 40% setahun ➡️ 32-33 tahun


✅ Lo Kheng Hong dengan imbal hasil 44% setahun ➡️ 29-30 tahun


✅ Jim Simons dengan imbal hasil 66% setahun ➡️ 20-21 tahun


Memang ada PR: harus konsisten


Tapi serius, kalau hal kecil kamu lakukan berulang-ulang, gak ada yang tau seberapa gede jadinya nanti


Sama kayak olahraga


Sayangnya Izmul sampai Jim Simons enggak buka jasa joki investasi. Jadi the best you can do is invest to BRI


atau


Belajar

Gagal

Coba lagi

Gagal lagi

Coba terus

Ditempa

Terbentur

Terbentuk


Hingga akhirnya tau cara pilih investasi terbaik


Minimal kalau gak dapet Rp360 miliar, Rp36 miliar cukup laaa


Btw perhitungan di bawah ini harusnya 1000 tahun baru Rp360 juta gak sih? Kalau ini acuannya, reksadana pendapatan tetap cukup 68-69 tahun


#IzmulMencariUang

Sharing Bangun Tiktok Izmul

 Aku mau sharing soal pengalamanku 👨‍💼

- Membangun akun TikTok pribadi selama 10 bulan (foto) hanya dari upload meme pesbuk

- Kerja di salah satu influencer selama 15 bulan (cek di profil)


Disclaimer 🫶

Aku enggak pro banget. Tapi segala data yang aku paparkan adalah data dari TikTok pribadiku yang telah dibanned (foto), bukan dari tempat kerja. Data-data setiap akun bisa jadi berbeda


#IzmulMencariUang


✅ Ini prioritas pas bikin konten TikTok


1. Pemilihan topik

2. Copywriting

...

Prioritas kesekian: kejernihan & editing


Hal ini aku buktikan pas aku dan temanku membangun akun tiktok bersamaan selama 10 bulan


- Temanku salah satu editor pro di Indonesia, hanya disukai puluhan ribu kali

- Kontenku yang hanya screenshot meme & drama pesbuk disukai sebanyak 2 juta kali


Jadi kalau kamu belum punya alat memadai, cuma modal hp biasa, bisa kok


Tapi pastikan pemilihan topik & copywritingmu semaksimal mungkin. Cari tau cara gimana memaksimalkan 3 detik pertama dan meninggikan retention rate (seberapa lama orang nonton kontenmu)


Di TikTok ada banyak tipsnya


✅ Dari awal bikin akun, kamu harus punya goal

- Uang?

- Cuma pengen mengekpresikan diri?


Kebanyakan orang nyarinya uang. Ini 3 cara buat dapetinnya

1. Affiliate marketing atau jualin produk orang

2. Dapet sawer pas ngelive

3. Endorsement


Mungkin ada cara lain, tapi 3 ini yang paling banyak. Jadi tentukan tujuanmu sejak awal. Karena beda tujuan, beda juga eksekusinya


✅ Cara naikin followers gimana?


Rumusnya:

- Semakin bermanfaat kontennya

- Semakin banyak SAVE

- Semakin banyak followersnya


Karena kontenku tidak bermanfaat (cuma screenshot drama & meme pesbuk), maka save ratenya rendah, followersnya rendah


Tapi jumlah like ku tinggi


Ini dataku

- Setiap 20 juta view

- Aku dapat 800 ribu like

- Aku dapat 3000 followers


Tentu data setiap akun berbeda. Tapi kalau niche mu cuma share meme pesbuk, kemungkinan datanya gak jauh beda sama tempatku


Data tempat kerjaku juga beda, followers ratenya lebih besar karena kontennya bermanfaat dan lebih banyak save


Kalau kamu ngincar endorsement, aku sarankan bikin konten dengan followers rate tinggi


Contohnya postinganku ini. Likenya sedikit, tapi yang share & save ratusan. Yang add dan follow aku juga sekarang ratusan


✅Kalau mau fyp gimana?


Aku setiap hari dapet +300k view, bahkan pernah 2,3 juta view


Hindari konten-konten yang kayak gini

- Ngomongin diri sendiri (karena orang gak peduli siapa kamu, kecuali kamu Jokowi)

- Joget-joget gak jelas (dulu laku, sekarang algoritma berubah)

- Menurutmu bagus, menurut orang lain enggak


Karena kamu bikin konten buat ditonton orang lain, bukan ditonton diri sendiri


Contoh kalau wajahmu "hanya" cantik, terus kamu upload video isinya full mukamu, biasanya gak bakal rame


Karena cewek cantik di TikTok tuh udah keterlaluan banyak


Kecuali kamu kasih caption:

1% pengen baju baru

99% gak pengen pake baju bareng kamu


Nah itu fyp


Kalau mau jadi lucu, lucu sekalian

Bodoh, bodoh sekalian

Pinter, pinter sekalian

Cantik, cantik sekalian. Kalau bisa masuk top 0,01% akun tiktok tercantik


Jangan setengah-setengah. Sekarang udah gak ada tempat lagi buat orang yang setengah-setengah


Note: kalau kamu hanya pengen fyp tanpa naikin followers, kontennya gak harus bermanfaat. Lucu-lucuan pun bisa


✅Kalau mau jualan affiliate gimana?


Menurutku rumusnya ada 2

- Langsung jualan, konsekuensinya viewmu akan sedikit, tapi conversionnya tinggi

- Jualan tipis-tipis, konsekuensinya viewmu tinggi tapi conversionnya tipis-tipis


Aku pakai strategi dengan jualan tipis-tipis, bahkan mungkin super tipis


Aku hanya share meme pesbuk, kalau ada produk yang berhubungan, ku kasih keranjang kuning


Aku kemarin cuma sempet jualan bentar sih, karena akunku keburu dibanned gegara sering lupa sensor kata kotor


Tapi ini datanya:

Tiap 15 ribu view

Ada conversion transaksi sebesar Rp100.000


Kalau komisinya 10%, artinya aku dapet Rp10 ribu


Tapi kalau kamu hard selling, dan kontenmu benar-benar bagus dari sisi pemilihan topik & copywriting, bisa jadi conversionnya 3 ribu view per Rp100.000 transaksi


✅Tips ngelive biar rame


Disclaimer aku gak pernah ngelive, tapi ada temenku yang jualan produknya sendiri (impor Cina) sambil ngelive dan laku banget. Ada yang omsetnya tembus Rp40 juta sehari. Bersihnya sekitaran 50%


Bersih ya. Jangan lagi ada yang nanya "lah itu belum gaji pegawai, sewa ruko, iklan, dll"


Jadi TikTok tuh opportunity nya besar banget kalau kamu berani ngelive. Karena conversionnya tinggi, ada yang tiap 100 penonton dapet transaksi Rp100.000


Tipsnya hanya 2: 

- Ngomong cepet

- Banyak bacot


Edit: barusan ku konfirmasi ke orangnya, ternyata conversionnya tiap 86 penonton dapet transaksi Rp100.000


✅Caranya biar konsisten gimana?


Jangan remehkan effort bikin konten


Makin mudah = makin besar peluangmu buat konsisten


Kontenku termasuk sangat mudah, karena hanya screenshot meme sama drama dari pesbuk. Makanya aku bisa upload 2x sehari


Konsekuensinya, kualitasnya rendah


Tapi gimana caranya aku berhasil +300k view tiap hari? Karena sekali lagi, pemilihan topik & copywriting


Kalau kamu punya modal, pastikan kamu invest di sini dulu, kayak rekrut orang atau beli alat mempercepat pekerjaanmu. Biar pekerjaanmu makin mudah


Dah ini aja, tips lainnya bisa kamu cari di youtube atau tiktok sendiri

Pembahasan Ini Ada Topik Tentang Frugal Living

 Aku udah ngajarin ratusan orang belajar saham & personal finance


Aku berani bilang 80% mereka kayak orang biasa aja


➡️ Sehari-hari pakai kaos & sandal jepit

➡️ Makan pinggir jalan

➡️ Jangankan hp IPhone atau Samsung Fold, pakai hp aja kadang gak ngerti


Tapi diem-diem asetnya di atas Rp10 miliar


Apa rahasianya?


🎗️ Long post & kebanyakan pengalaman pribadiku

#IzmulMencariUang


Kamu mungkin pernah lihat meme, ada bapak-bapak pakai singlet, muka lusuh, tapi jadi nasabah prioritas BCA


dan itu beneran ada, banyak


Kebanyakan dari orang yang aku temui, membangun kekayaan dari Frugal Living


➡️ Karir biasa aja

➡️ Hidup hemat

➡️ Sebagian buka bisnis, tapi gak besar banget

✅ Tapi nabungnya kenceng


Jadi hidupnya kayak orang biasa


Bedanya, mereka super stabil


✅ "Frugal Living apaan bang?"


Intinya: hidup hemat


Aku orang yang selalu mempromosikan hidup Frugal Living di akun ini


dan aku sendiri penganutnya sejak 2015


Apa aja yang ku lakukan?


➡️ Hemat

➡️ Beli barang secukupnya

➡️ Tiap habis gajian, hal pertama yang ku lakukan adalah beli saham/reksadana

➡️ Hidup minimalis

➡️ Ada barang yang gak dibutuhin, buang

➡️ Jangan buang-buang makanan. Sebisa mungkin punya kulkas buat nyimpen

➡️ Sesekali masak

➡️ Aku kerja dari rumah. Jarang kemana-mana, jadi gak punya kendaraan. Gak perlu mikir servis, pajak, sampai parkir

➡️ Tapi aku harus pilih tempat tinggal yang deket kemana-mana, biar bisa jalan kaki dan gojeknya gak mahal. Dengan gaya hidupku, ini lebih murah

➡️ Belum beli rumah karena belum butuh

➡️ Cari teman dan pasangan yang satu visi

➡️ Split bill pas ngedate

➡️ Kalau barang konsumtif, minimal punya uang 10x lipatnya dulu, baru beli

➡️ Kalau lagi pengen banget suatu benda, tahan dulu sampai 3 hari, kalau masih kepikiran, baru deh beli

➡️ Harus paham bahwa harga =/= kualitas


dan banyak lagi. Nanti kalau aku keinget sesuatu, aku tambahin


Di satu sisi, banyak orang punya barang mahal, tapi jebol pinjol sana-sini. Aku yakin di sekitarmu ada


✅ "Emang beli barang mahal gak boleh bang? Kan self reward. Nanti stress loh"


Orang-orang penganut Frugal Living ini juga beli barang mahal kok, tapi hitungannya super ketat


Tapi begini, sebetulnya mahal itu kata yang rumit


➡️ Ayam goreng harga Rp500 ribu mahal gak? Mahal

➡️ Rumah di Jakarta harga Rp100 juta mahal gak? Enggak dong


Gak usah ditanya ukuran & lokasinya, semua orang tau rumah Rp100 juta di Jakarta murah


Apakah kita semua punya duit segitu? Belum tentu. 

Tapi rumah Rp100 juta di Jakarta murah? Murah.


Apa artinya? Artinya mahal-murah suatu benda sangat bergantung sama value yang dia hadirkan


Lalu ada 1 variabel lagi: kebutuhan


➡️ Buat orang yang tiap hari live jualan di TikTok, IPhone Rp30 juta murah. Karena bisa hasilin duit


➡️ Buat orang yang sehari-hari cuma buka pesbuk, bahkan foto-foto pun gak pernah, barang segitu bakal jadi super mahal


Kebayang ya? Jadi orang Frugal Living setidaknya punya beberapa hitungan sebelum beli barang


➡️ Sebanding gak sama valuenya?

➡️ Sebanding gak sama kebutuhanku?


Kalau sebanding, bahkan lebih, maka harga barang itu jadi murah


Lalu yang gak kalah penting:


➡️ Kalau gak sebanding, apakah asetku udah 10x lipat harganya?

➡️ Kalau gak sebanding, tunggu dulu 3 hari. Kalau masih kepikiran, beli aja


Percayalah, konsep mahal-murah ini gak hanya ampuh di kehidupan sehari-hari, tapi juga pas investasi saham


Februari kemarin, laptopku rusak, dan aku memutuskan beli PC. Ini adalah pembelian barang dengan harga tertinggi sepanjang hidupku


Harganya rahasia, tapi gak sampai Rp100 juta, jadi gak high-end banget


Tapi, dalam waktu kurang dari 6 bulan, PC ini udah balik modal (di luar gaji)


Kok bisa? Karena PC ini aku pakai buat


➡️ Nulis dokumen

➡️ Bikin ppt di canva

➡️ Jualan di TikTok

➡️ Ngajarin orang investasi saham

➡️ Meeting online

➡️ Cari sampingan di pesbuk


dan banyak lagi


Ya sesekali aku pakai main game juga sih. Tapi kebanyakan buat kerja kok, beneran ehehee


Aku juga beli kursi yang nyaman, bantal pijat, dan lain-lain biar aku betah seharian depan komputer


Peningkatan kualitas kerjaku dari pakai laptop ke PC juga berasa banget. Dulu dalam sehari, aku cuma bisa ngerjain 2-3 kerjaan, setelah itu udah encok. Sekarang, bisa 4-5 kerjaan


Hasilnya: 6 bulan, balik modal


Jadi, orang yang Frugal Living juga tetap beli barang dengan harga tinggi/mahal kok. Tapi hitungannya agak ketat


Ada juga tipe orang yang hitungnya gini


➡️ Gaji Rp8 juta

➡️ Jam kerja 160 jam

➡️ Per jam, dia dibayar Rp50 ribu


Maka baju branded harganya bukan Rp2 juta, tapi 40 jam kerja


Mobil bukan Rp500 juta, tapi 1000 jam kerja alias 6 bulan lebih kerja non-stop


Rumit ya? Iya makanya orang Frugal Living gak enak diajak temenan, perhitungan soalnya


✅ "Terus uangnya lari kemana bang? Kan barang yang dibeli dikit"


Tabung

Investasi

Sama traveling ehehe


Udah, itu doang


Karena obsesi orang yang Frugal Living tuh bukan barang, tapi Freedom


➡️ Freedom of Time

➡️ Freedom of Money

➡️ Freedom of Choice


Contoh yang aku rasain banget pas beberapa bulan lalu beli tiket konser Taylor Swift (sayangku cintaku)


Aku pakai jastip, karena aku gak ada pengalaman war tiket


Aku pesen tiket reguler (CAT 4). Totalnya sama pajak + jastip Rp3,75 juta


Tapi pas war, namanya juga war, CAT 4 habis, sisa VIP 4, yang harganya Rp8,5 juta (termasuk pajak + jastip)


Ya aku santai aja, gaskan beli (foto)


Uang bisa kembali, lihat ketek Taylor Swift mungkin cuma sekali. Apalagi mempertimbangkan aku ngefans sama beliau sejak 2010, pas aku masih SMP, zaman lagu Love Story & You Belong With Me


Tapi punya kapasitas untuk membeli tiket dengan perubahan harga +2x lipat dari yang pengen dibeli, gak dimiliki sama semua orang


Inilah freedom of choice yang aku punya ketika aku jauh-jauh hari ngumpulin duit


Ketika kamu punya uang, ada banyak pilihan dan kesempatan yang terbuka buat kamu. Inilah yang ingin diraih para penganut Frugal Living


Selain punya impian lihat keteknya Taylor Swift, aku juga punya target lain: Punya Rp5 miliar


Uang ini bakal aku taroh di obligasi dengan kupon 6,7% setahun


Anggap bersihnya 6% setahun setelah pajak. Setahun, aku bakal dapet Rp300 juta atau Rp25 juta sebulan. Hampir tanpa risiko


Di titik ini, aku bisa punya freedom of time & freedom of money karena kebutuhan hidupku udah bisa ditanggung sama obligasi. Gak perlu kerja lagi


"Tapi bang, buat orang yang punya Rp5 miliar, bukannya Rp25 juta itu dikit ya?"


Sekali lagi, Frugal Living


Idenya adalah menikmati apa yang kita punya sekarang


Karena aku gak butuh beli gadget baru tiap tahun, makan gak harus di resto bintang 5, dan ke luar kota gak harus nginap di hotel mewah, jadi pengeluaranku gak banyak-banyak amat


✅ "Tapi bang, anggap itu kecapai 10 tahun lagi. Bukannya harga-harga barang udah naik? Makin tua kebutuhan hidup juga naik kan? Asuransi misalnya"


Sangat betul. Tapi aku udah hitung-hitungan. Inflasi rata-rata 5%, gaya hidup tiap tahun meningkat 10%, so on and so for


Just info, pengeluaran per bulanku saat kondisi normal hanya Rp3-4 juta sekarang. Jadi ke angka Rp25 juta itu ruangnya masih super luas banget


Asuransi juga aku udah beli dari sekarang. Inget, waktu terbaik membeli asuransi adalah saat kita gak butuh asuransi


Tentu rencana ini gak akan berjalan pas 100%. Angkanya juga mungkin bakal berubah. Tapi impiannya tetap satu


Minimal kalau gak kecapai, aku masih bisa menjalani hidup mulia tanpa harus utang sana-sini


✅ "Ohya bang, ada yang bilang mending tingkatin pendapatan daripada hidup hemat. Karena hemat ada batasannya, naikin pendapatan enggak"


Sangat betul


Lebih baik lagi keduanya


Tapi ngomongin orang hidup hemat, ada banyak banget orang yang gajinya di bawah Rp5 juta tapi udah punya aset +Rp100 juta


Klienku banyak yang begini

Aku juga pas dapet Rp100 juta pertama gajinya belum segitu


Apakah kami mendapat warisan? Tidak

Menang judi online? Gak mungkin


Dalam kasusku, aku nabung sejak 2015, sisihin uang jajan dari orangtua sekitar Rp200 ribu sebulan. Lalu dapet jackpot di saham INKP, PTBA, WEGE, BRIS, dan ANTM


Anggap aja tiap jackpot, asetku naik 2x lipat. Anggap aja modalku Rp5 juta


INKP Rp10 juta

PTBA Rp20 juta

WEGE Rp40 juta

BRIS Rp80 juta

ANTM Rp160 juta


Tuh, nyampe


Tapi tentu, untuk dapet banyak jackpot begini, keberuntungan saja tidak cukup


Aku belajar saham dari 2013 pas masih SMA. Bikin rekening 2015, dan rugi sampai 2017. Gak instan


Makanya ningkatin ilmu, skill, dan pendapatan itu super penting


Tapi hemat gak kalah penting. Bayangin kalau modalku hanya Rp500 ribu, dengan perhitungan yang sama kayak tadi, asetku baru Rp16 juta


Beda jauh kan?


Simpelnya gini

Hemat bisa bawa kamu dari A ke B

Tingkatkan pendapatan bisa bawa kamu dari B kemanapun


✅ "Ada perasaan menderita gak sih bang jadi Frugal Living? Kan lihat orang-orang pakai barang mewah pasti iri ya"


Jujur kadang ada


Lihat temen beli baju baru tiap hari

Naik mobil dan gak kehujanan di jalan

Makan all you can eat tiap minggu


Tapi semakin dewasa, harusnya semakin paham batasan, dan inilah batasanku


Tapi dengan merasa cukup, menderitanya gak terlalu berasa kok


Apalagi tujuanku jelas: kebahagiaan di masa depan


Walau tetap menyisihkan untuk kebahagiaan masa kini. Tapi kayak yang ku bilang tadi, hitungannya agak lebih ketat


✅ "Ada perasaan takut kalau mati muda gak bang? Nanti gak sempet rasain duitnya"


Ini pertanyaan yang sulit. Sejujurnya ada, dan selalu ada. Inilah kekurangan Frugal Living


Pada akhirnya, ini pilihan hidup. Mau senang sekarang apa nanti?


Aku memilih nanti


Tapi inti dari frugal living tidak hanya itu. Inti dari cara hidup ini adalah siap sama segala risiko


Kalau sakit ➡️ punya asuransi

Kalau PHK ➡️ ada dana darurat

Kalau sudah gak kuat kerja ➡️ udah punya modal buat hidup dari investasi


bahkan risiko terburuk: mati sekarang ➡️ aku masih bisa mewariskan saham, properti, bisnis, bukan utang


dan ada 1 lagi kekurangannya: kalau semua orang melakukan ini, duit jadi gak muter, ekonomi gak tumbuh


Ibaratnya kalau orang jualan, lakunya sulit. Karena kita jarang belanja


Mirip pas Covid kemarin


Maka semakin sedikit orang yang melakukan Frugal Living, semakin baik. Semoga kita termasuk yang sedikit Itu


✅ Ngomongin soal mati, aku mau share soal satu pandanganku tentang kekayaan


Menurutku, kekayaan bukan soal berapa uang yang kita punya


Tapi seberapa lama kita akan bertahan andai kena PHK atau bisnis kita bangkrut hari ini?


Betul, menurutku, kekayaan adalah waktu


➡️ Orang punya Rp100 juta, tapi kalau pengeluarannya Rp20 juta sebulan, dia hanya bisa survive 5 bulan sebelum bobol pinjol sana-sini


➡️ Orang yang punya Rp50 juta, tapi pengeluarannya hanya Rp5 juta sebulan, bisa survive sampai 10 bulan


Menurutku, orang kedua lebih kaya. Karena dia punya waktu yang lebih lama sebelum bisa bangkit dapet kerja atau memiliki bisnis lagi


dan risiko kematiannya juga lebih rendah, karena bisa survive lebih lama


Makanya aku punya tesis, kekayaan lebih dekat pada waktu daripada uang


Setuju gak?


Oh ya, semua tulisan ini hanya memaparkan bagaimana gaya hidupku + 80% klienku. Enggak ada paksaan buat mengikuti


Karena tujuan tiap orang beda. Mungkin tujuanmu rumah, kuliahin anak di Harvard, atau poligami


Beda tujuan = belum tentu caranya sama


Cukup jadikan inspirasi

Kalau gak cocok, tinggalkan


Karena pada akhirnya, Frugal Living itu bukan cara untuk jadi kaya dalam semalam


Frugal Living itu gabungan antara perjuangan, pembatasan, dan proses belajar selama bertahun-tahun


dan inget, Frugal Living bukan satu-satunya jalan menjadi kaya


✅ Aku sering banget share tentang saham & personal finance di akun ini


Minggu depan, aku bakal nulis soal cara Warren Buffett, salah satu orang terkaya di dunia yang dijadikan mentor oleh Bill Gates (pendiri Microsoft), konsisten masuk top 10 orang terkaya di dunia selama puluhan tahun


Jadi kalau kamu pengen tau gimana caranya, klik follow atau add biar gak ketinggalan


Kalau pengen konsul juga bisa, langsung chat aja. Aku orangnya ramah kok, kamu chat "P" pun ku bales


✅ Kembali ke pembahasan awal, yes, 80% orang kaya yang aku temui membangun kekayaan dari Frugal Living


Hanya saja jarang terekspose


Kebanyakan profesi mereka pegawai biasa, kalau pun berbisnis, bisnisnya gak terlalu populer: buka toko, jualan barang elektronik, ternak ayam petelur, dan sejenisnya


Aku yakin kalau kamu buka google maps, bikin lingkaran berjari-jari 1 km dari tempatmu, minimal kamu bakal nemuin orang kayak gini 1


Aku sering bilang gini: orang kaya tuh bukan beli barang brended, tapi beli pabrik


✅ "Tapi bang, di cafe-cafe aku lihat banyak orang kaya pakai IPhone sama adu outfit tiap hari"


Oh biasanya itu anaknya

Wednesday, October 11, 2023

KUNJUNGAN KE PIRANHAMAS

 KUNJUNGAN KE PIRANHAMAS

MALANG, 9 OKTOBER 2023


1. Waspada dan Hati – hati saat umur periode ini :


1.1. Umur 13 – 19 tahun ( tidak bisa dinasehati). Contoh : larangan keluar malam dari orang tua, karena beberapa alasan dari, tetapi tetap saja dilanggar, ya karena balik lagi umur segitu beum bisa dinasehati masih ngelawan dan lain lain. 


1.2. Umur 33 – 39 tahun (cari kenyamana), contoh seseorang yang sudah menikah pada usia tersebut banyak yang cerai? Ya karena itu, mereka masih mencari kenyamanan masing – masing.


1.3. Umur 53 – 59 tahun (cari kebenaran)


2. Saat usiaku mengambil uang yang sangat banyak ke orang tua :

2.1. Umur 0 – 7 tahun (pampers, biaya sepatu, seragam, baju, sekolah dan lain – lain)

2.2. Umur 17 – 23 tahun

2.3. Umur 28 – 30 tahun, contoh perlengkapan menikah dari waktu lamaran, ijab khobul, dan resepsi uang masih minta orang tua. 


3. Hidup cukup mempunyai 4 hal yaitu : 

3.1. Mindset : Pola pikir

3.2. Attitude : pola berperilaku

3.3. Effort : Daya juang

3.4. Habbit : Kebiasaan


4. Wong Lanang Ganteng harus :

4.1. Gedhe duwur/ tinggi besar dengan tinggi 165, 175, 185 cm untuk jaman sekarang.

4.2. Banyak uang (standart per bulan 50 juta)

4.3. Banyak ngomong atau bicara (Selalu menjadi ketua dan menawarkan diri). Contoh : menjadi ketua osis, ketua kelas. Selalu menawarkan diri karena dia mempunyai tingkat percaya diri. 


5. Keinginan orang tua hanya 2 :

5.1. Cepat di wisuda, makanya cepatlah lulus kuliah

5.2. Orang tua tidak butuh IP karena tidak mengerti IP


6. Selama kamu masih makan, minum, tidur, kuliah dari orang tua, maka kamu harus tunduk 100%


7. Laki – laki zaman sekarang bukan lagi 2 macam yaitu bapak dan jejaka, tapi : 

7.1. Bukan laki – laki (Bencong, Banci, Gay, Homo)

7.2. Bajingan 

7.3. Hanya Imam (Bukan borju atau kaya dan juga bukan funky atau keren, jadi hanya bisa imam saja)


Jadilah imam juga borju serta funky dengan ukuran : 

A. Baru berhenti berfikir jika sudah mimisan

B. Baru berhenti mengerjarkan tugas jika sudah sakit dibuktikan dengan tes laboratorium

C. Baru berhenti bekerja jika sudah opname


Hanya orang yang mau maju dan membuat laporan 4 lembar kirim ke WA 0813-3384-1183 dalam bentuk copy paste bukan attachment sebelum jam 17.00 WIB dengan format word size A4 margin atas kiri 3 bawah kanan 3.


8. Perempuan zaman dulu ada 2 yaitu ibu dan nona, tetapi sekarang : 

8.1. Kecelup (sebanyak 70 %)

8.2. Segelan (sebanyak 20%)

8.3. Mudun mesin (sebanyak 20%) yang artinya belum tentu menikah tetapi sudah memiliki anak (single parents).


Kalau zaman dulu ibu dan nona. Kalau ibu dijamin punya suami dan anak. Kalau nona dijamin ting ting. 


Dosa besar yang tidak diampuni setelah sirik yaitu zina. 


9. Dunia Digital Marketing, Ada 3 pilihan , mau jadi apa?

9.1. Programer (membuat yang kekinian)

9.2. Desainer (sekarang sudah banyak AI, tinggal nunggu hancurnya)

9.3. Marketer (70% sukses)


Story dari pak agus yaitu pada tahun 1992 – 2008 beliau bekerja di PT Fajar surya wisesa Kampung Sawat Cibinung Bekasi selama 16 tahun. Setelah itu pindah 8 perusahaan hasilnya hanya dapat rumah 1 rumah di gang mepet, rumah yang sekarang ditempati itu kok memiliki nomer 1 yaitu berdasarkan bangunnya jadi bukan di urut nomer rumahnya. Makanya rumah disekitar pak agus nomornya morad marid yaitu dikarenakan berdasarkan bangunnya. 16 tahun pindah 8 persusahaan dengan maksud naik gaji, naik posisi , naik jabatan, naik fasilitas, dapatnya Cuma rumah ini tadi.  


Di tahun 2008 – 2023 selama 15 tahun beliau di bidang marketer mendapatkan rumah sebanyak 15 rumah, belum tanah, emas, mobil, motor dan aset lainnya.  Marketer yaitu dapat mengikuti zaman, mengikuti platform, mengikuti media sosial sehingga fleksibel. 


Contoh: 

Di daerah lumajang tepatnya di daerah senduro, ada guru, total guru 100 dan total orang yang jualan di pasar 100, yang naik haji yang mana? 


100 orang yang jualan dipasar 50 naik haji. 100 guru yang naik haji 10 orang. Padahal dia Cuma jualan dipasar. Oleh sebab itu semua yang hadir disini mumpung Pak Lintang menjadi Konsultan di banyak  perusahaan, kenapa kok kamu tidak membantu pak lintang, sangat disayangkan, 4 bulan magang percuma. 


Kost 4 bulan disini sudah kost 500, makan 500, sudah ke 9 wahana 500, sudah setiap hari sabtu pulang  naik kereta tawang alun ke polije total 500. Kamu ambil semua ilmu dari pak lintang. Malam pulang jam 9 terus habis itu kamu habis itu mengerjakan pak tugasnya apa saja pak, untuk laporannya apa saja pak. 


Menghadapi client itu bagaimana pak?perusahaan – perusahaan besar itu tekniknya gimana pak, bikin invoice bagaimana pak, bikin penawaran bagaimana, penerjaannya apa saja  untuk saya kerjakan. 

Logika sederhana, silahkan tanya ke pak Lintang ikut workshop pak agus 7,5 juta 2 hari Cuma 2 hari 7,5 juta. 


Rata rata perminggu berapa yang ikut ?setahun berapa yang ikut. Makanya rumahnya banya. Untuk yang laki- laki jangan sekali – kali shm rumah atas nama suami, tapi harus atas nama istri, yang sah secara agama, negara dan yang pegang buku nikah coklat dan hijau. 


Makanya bagi kamu yang perempuan, jika sudah nikah nanti yang pegang buku nikah harus kamu sebagai istri sah secara agama, negara dan yang pegang buku nikah coklat dan hijau. Karena itu buku catatan negara, karena kalau mau cerai buku harus disertakan. 


Makanya itu 70% laki – laki bajingan dan 30& perempuan bajingan, dikenakan itu maka yang pegang surat nikah coklat dan hijau yaitu istri. Terus shm nanti harus atas nama siapa?istri. Yang nantinya kalau cerai, yang punya rumah adalah istri milik istri. Itu baru laki- laki benar. Lah kamu tidak, belum apa – apa sudah minta gono gini. 


10. Selalu minta ke bapak lintang diberikan : 

10.1. Arahan

10.2. Bimbingan

10.3. Koreksi

10.4. Pembetulan


11. Solusi untuk anak usia 15 – 25 tahun yaitu Generasi Hancur : 

11.1. Penuhi kewajiban dasar, dan kamu harus memaksa diri bisa mengerjakan kewajiban dasar jika mau hidup usia 75 tahun.

11.1.1 Bisa membersihkan , menata, merapikan tempat tidur tiap pagi hari sampai kamu menikah nanti. Kerapian standart hotel. Kalau bawah tempat tidurmu bisa kamu tidur i itu berarti standart hotel, jika bawah tempat tidurmu tidak bisa ditidur I berrati sandart kandang babi,karna kotor. 

11.1.2 Dapat mencuci pakaian dan setrika pakaian walaupun di laundrykan asalkan uang sendiri bukan uang budget dari orang tua. Jika tidaka da budget maka dengan tanganmu harus kamu lakukan. 


 Contoh : cara ngeckek laundry itu bagus atau tidak ? 

1. Parfum? Nilainya hanya –5

2. Kerapian melipatnya? nilainya hanya 5

3. Ketepatan waktu? nilainya hanya 5 caranya sebelum pakaiannya masuk di laundry foto dulu diaderah leher, lengah, dan ketiak. Foto itu untuk mengetahui before afternya setelah di laundry. Jika masih sama sebelum di laundry berarti launsry itu jelek, tetpai jika noda ataupun kotoran yang ada di sisi yang difoto sebelumnya sudah hilang, berarti laundrya bagus. 


Karena ini dicelupkan ke air terus dikasih parfum boleh? Boleh. Kalau boleh ya boleh aja, berarti laundrynya tidak berkualitas, orang gitu aja kamu tidak ngerti. Kalau kamu ngga punya budget, kamu bisa pakai tangan kamu sendiri, dari situ nanti kamu bisa menghargai sebuah baju, sebuah celana oh ini loh yang aku kerjakan. 


Disaat itu kamu tambahi saat kamu nyuci kamu apa? Sholawat jibril. Pas nyuci itu sholawat jibril. Nah sekarang kamu punya paketan mengapa kamu tidak menggunakannya. Kliru hidupmu. Sangat kliru. 


11.1.3 Piring dan gelas serta meja makanmu bisa kamu bersihkan sendiri dengan lap basah serta merapikannya.(ingatlah karena saat di indonesia semua dikerjakan bibi yang akhirnya saat kuliah di Australia apartemennya seperti kandang babi). Nyata ini. Karena tidak bisa bersih – bersih. Ini kelasnya orang kaya. 


Nah kalau kamu kost di malang. Itu tadi kan kelasnya orang kaya anaknya tonadi santoso, banyak tidak anaknya orang tionghoa, kuliah di australi hidup di apartemen kalau didatangi orang tuanya apartemennya seperti kandang babi.  Karena disana ada pembantu ndak?oh tidak. Kalau disurabaya – malang dia tinggal bilang apa? Bi bi tempat tidru beres. 


11.1.4 karena zaman sekarang tidak ada buku, maka tas harus dalam keadaan rapi, tertata, bersih, dan tidak ada yang rusak.

11.1.5 Jika diajak ngomong atau bicara bisa melanjutkan utuh, karena banyak referensi membaca, anak zaman sekrang minim literasi., jarang ada yang mau membaca buku. 


 Contoh : zaman dulu zamannya bapak, anak stm tidak membawa tas Cuma bawa buku selembar ditaruh di saku, sekarang jadi apa? Disaat zaman pak agus,harus bawa tas dan buku ,  teman saya stm Cuma membawa 1 buku ditaruh saku,karena dia menuai hasil masa lalunya. Habis itu harus banyak membaca, jangan mendengar jangan menonton.


Kenapa beliau waktu kelas sd sudah mines 5 ? karena membaca bukan komik, tetappi ensecopedia. La kamu mulai hari ini harus dipaksa membaca jika hidupmu ingin ke depan. Tetapi jika hidupmu yaudah mau gini- gini saja ya silahkan.


11.1.6 Selalu review pertahun kelipatan 5, Apakah ada garis ukurannya adalah garis buyutmu yang kaya raya. Apakah sudah setara?

11.2. Selalu kuatlah di Goal Hidupmu mau kemana. Jangan pernah membalas orang lain tetapi tujuanmu tercapai step by step.


Kita disetting dengan cara : 

1. Diam itu Emas, akhirnya  lebih baik diam dari pada berbicara

2. Adap lebih dulu dari pada ilmu, oleh sebab itu lebih fokus pada sopan santun tapi bukan berdiskusi terhadap ilmu. 

3. Karena Goalsnya adalah yang harus kalah maka settingannya :

3.1 harus diam

3.2 harus jangan berbicara

3.3 harus jangan bertanya

3.4 harus jangan berdiskusi

3.5 harus jangan berdebat

3.6 harus jangan bantai - bantaian

3.7 karena settingmu adalah : 

3.7.1 penakut 

3.7.2 pengecut

3.7.3 pecundang


Nah kalian disetting ini, kamu harus diam. Berikutnya kamu tidka boleh bicara, berikutnya kamu tidak boleh bertanya, kamu tidak boelh berdiskusi, kamu tidak boleh berdebat, kamu tidak boleh bantai – bantaian. Karena settingnya, kalau kamu penakut pasti kamu diam, kalau kamu pengecut pasti kamu diam, nah itulah setting. 


Pertanyaan : bagaimana untuk menjalani kehidupan jika ingin ingin sukses tapi kita termasuk orang yang introvet? Nah apakah dulu pak agus orang yang introvert? Oh ya.  Apa beliau mengurusi dirinya yang introvet atau saya mengurusi supaya exstrovet, nah jika berlarut – larut pada diriku yang introvet, apakah jadi orang seperti sekarang. 


Caranya sederhana yaitu mengapa pada pendidikan tk, sd, smp introvert? karena disekelilingnya masih tau diri kita, jadi kita tidak bisa berubah. Kita dapat berubah disaat orang disekitar kita tidak mengenal kita kita. Kenapa seperti itu?  Karena jika kita ingin berubah dilingkungan orang yang sudah kenal kita maka pasti kita akan di olok –olok, di kata- katain dan lain alin.